Polda Metro Jaya Tangkap 937 Pelaku Tawuran hingga Preman dalam Operasi Pekat Jaya 2026

IMG 20260213 WA0007
Polda Metro Jaya Tangkap 937 Pelaku Tawuran hingga Preman dalam Operasi Pekat Jaya 2026.

Satusuaraexpress.co | Jakarta — Polda Metro Jaya telah berhasil menangkap sebanyak 937 pelaku tindak kriminalitas, antara lain pelaku tawuran dan preman, dalam rangka Operasi Pekat Jaya 2026 yang berlangsung dari tanggal 28 Januari hingga 11 Februari 2026.

Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya, Kombes Budi Hermanto, mengungkapkan bahwa selama pelaksanaan operasi tersebut, pihaknya menangani total 772 kasus. Dari jumlah pelaku yang diamankan, sebanyak 487 orang ditahan sesuai dengan ketentuan hukum, sedangkan 450 pelaku lainnya menjalani proses pembinaan sebelum akhirnya dikembalikan ke lingkungan keluarga masing-masing.

“Selain menangkap pelaku, polisi juga berhasil menyita berbagai barang bukti yang terkait dengan tindak kriminalitas. Barang bukti yang diamankan antara lain berbagai jenis senjata tajam, 225.280 butir obat-obatan terlarang, 20.802 botol minuman keras, 40.492 gram ganja, serta uang tunai sebesar Rp 23.683.000,” kata Budi.

Baca juga : TNI AD Siap Dukung Wacana 4.000 ASN Jadi Komcad, KSAD: Detail Teknis dari Mabes TNI

Sementara, Direktur Samapta Polda Metro Jaya, Kombes Wahyu Dwi Ariwibowo, menyebutkan bahwa aksi tawuran menjadi fokus utama dalam operasi ini. “Para pelaku aksi tawuran ini ada anak-anak maupun dewasa, penanganannya tidak seluruhnya melalui penahanan, melainkan juga pembinaan,” ujar Wahyu.

Direktur PPA-PPO Polda Metro Jaya, Kombes Rita Wulandari, menjelaskan bahwa keterlibatan anak dalam tawuran seringkali dipicu oleh adanya konten kekerasan yang beredar di media sosial. Menurutnya, anak-anak terdorong untuk membuat dan menyebarkan konten yang mengandung kekerasan sebagai bentuk untuk menunjukkan jati diri maupun eksistensi kelompok mereka.

Untuk menangani permasalahan ini, polisi telah melakukan koordinasi dengan Kementerian Komunikasi dan Informatika guna melakukan penurunan terhadap konten-konten bermuatan kekerasan yang dapat memicu terjadinya tawuran. “Anak-anak sengaja membuat konten untuk menunjukkan jati diri,” jelas Rita.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *