Satusuaraexpress co | Jakarta –Ancaman cuaca ekstrem yang melanda wilayah Ibu Kota belakangan ini memicu respons serius dari berbagai elemen masyarakat. Menanggapi potensi bencana banjir yang kerap membayangi Jakarta Barat, tokoh pemuda Jakarta Barat, Umar Abdul Aziz, S.H., M.H., mengeluarkan seruan penting bagi seluruh lapisan warga untuk meningkatkan kewaspadaan dan aksi nyata di lingkungan masing-masing.
Umar menekankan bahwa penanganan wilayah tidak bisa hanya bertumpu pada pundak pemerintah semata, melainkan membutuhkan kolaborasi yang kokoh antara warga, Pemerintah Daerah (Pemda), serta TNI-Polri. Sinergi lintas sektoral ini dianggap sebagai kunci utama dalam menciptakan sistem pertahanan wilayah yang tangguh menghadapi anomali cuaca.
Salah satu poin utama yang menjadi sorotan Umar adalah perlunya menghidupkan kembali tradisi kerja bakti mingguan. Menurutnya, pengurus lingkungan mulai dari tingkat Rukun Tetangga (RT) hingga Rukun Warga (RW) memegang peranan krusial sebagai garda terdepan dalam menggerakkan kepedulian warga.
Ia menilai bahwa budaya kerja bakti yang dahulu rutin dijalankan kini perlu direvitalisasi secara serentak di seluruh wilayah Jakarta Barat. Meski beberapa wilayah telah mulai menggalakkan kembali kegiatan ini, Umar berharap gerakan ini menjadi standar operasional di setiap sudut pemukiman tanpa terkecuali.
”Sudah seyogianya pengurus lingkungan RT-RW mengaktifkan kembali kerja bakti mingguan yang dahulu pernah dijalankan secara rutin,” ujar Umar dalam keterangannya, Kamis (29/1/2026)
Dalam pelaksanaannya, Umar menyarankan agar pihak RT dan RW tidak bergerak sendiri. Ia mendorong adanya kolaborasi aktif dengan Petugas Penanganan Prasarana dan Sarana Umum (PPSU) atau yang dikenal sebagai ‘Pasukan Oranye’ di kelurahan masing-masing. Sinergi antara tenaga terampil dari kelurahan dan swadaya masyarakat dipercaya akan membuahkan hasil yang jauh lebih maksimal.
Fokus utama dari kerja bakti serentak ini meliputi dua hal krusial:
- Pembersihan Saluran Air (Drainase): Menguras sedimen lumpur dan mengangkat sampah yang menyumbat aliran air guna memastikan debit air saat hujan ekstrem dapat mengalir dengan lancar menuju muara.
- Penataan Lingkungan dan Pekarangan: Membersihkan rumput liar dan sampah di area terbuka yang dapat menghambat resapan air maupun menjadi sarang penyakit di musim hujan.
Umar optimistis bahwa jika gerakan pembersihan lingkungan ini dilakukan secara serentak dan konsisten, dampak buruk banjir dapat diminimalisir secara signifikan. Kerja bakti bukan sekadar kegiatan fisik, melainkan bentuk deteksi dini terhadap sumbatan-sumbatan yang berpotensi menjadi penyebab genangan di kemudian hari.
”Bila hal ini mampu dilakukan secara kolektif, ke depannya risiko banjir bisa kita minimalisir. Membersihkan saluran air dan pekarangan secara serentak adalah langkah konkret yang bisa langsung kita rasakan manfaatnya,” tambahnya.
Dengan adanya dorongan dari tokoh pemuda ini, diharapkan kesadaran kolektif warga Jakarta Barat bangkit kembali. Kesigapan warga di tingkat akar rumput yang didukung oleh Pemda, TNI, dan Polri diharapkan mampu menjadikan Jakarta Barat lebih tangguh dan siap dalam menghadapi setiap tantangan cuaca ekstrem yang mungkin terjadi di masa mendatang. [Igo]













