Satusuaraexpres.co | Jakarta – kali ini terasa berbeda di sebuah restoran di Jakarta yang mendadak riuh dengan nuansa kental Indonesia Timur. Acara yang mempertemukan tokoh-tokoh besar masyarakat Timur ini menjadi momentum refleksi, persatuan, hingga misi besar membawa kekayaan alam daerah ke kancah internasional, 31 Desember 2025 di Sagolicious Cafe & Resto, Kelapa Gading, Jakarta Utara.
Hadir dalam acara tersebut tokoh masyarakat Umar Key, musisi legendaris Maluku Usman Huitu, dan pengusaha Jenny Wijaya (yang akrab disapa Cik Jenny). Pertemuan ini bukan sekadar perayaan, melainkan sebuah pernyataan sikap tentang pentingnya kebersamaan dan kemandirian ekonomi.
Kerinduan yang Terbayar oleh Kekeluargaan
Umar Key mengakui bahwa biasanya ia lebih memilih merayakan hari besar di kediaman pribadi. Namun, ajakan dari Usman Huitu—yang sudah dianggapnya sebagai adik sendiri—membuatnya luluh untuk hadir di ruang publik setelah empat tahun lamanya.
”Saya kenal Usman sudah hampir empat tahun, dia selalu mengajak saya ke restoran, tapi baru malam ini saya datang. Kedekatan keluarga besar dan kehadiran wajah-wajah baru dari Timur membuat malam ini terasa luar biasa,” ujar Umar Key dengan nada haru.
Umar secara khusus memberikan apresiasi tinggi kepada Jenny Wijaya yang telah menerima masyarakat Indonesia Timur dengan tangan terbuka.
”Terima kasih kepada Cik (Jenny) yang sudah menerima keluarga besar kami sebagai keluarga sendiri. Di sini, hampir 90% pasokan kepiting berasal dari Indonesia Timur, dari Papua. Ini bukti nyata kolaborasi yang saling menghidupkan,” tambahnya.
Sagu: Senjata Ketahanan Pangan Dunia
Isu ekonomi dan ketahanan pangan menjadi topik hangat di tengah obrolan tersebut. Jenny Wijaya menekankan bahwa Sagu bukan sekadar makanan pokok, melainkan komoditas yang siap “naik kelas” ke level internasional.
”Sagu adalah ketahanan pangan Indonesia dan dunia. Saya sudah membawa Sagu ke Jepang, Rusia, hingga Cina,” jelas Jenny. Ia bahkan berencana membawa para Bupati dari Maluku ke Jakarta untuk melihat potensi pengembangan Sagu secara lebih serius.
Merespons hal tersebut, Umar Key menyatakan kesiapannya untuk mendukung penuh, bahkan dari sisi permodalan. “Saya siap jadi pemodal, jangan semua dari Cik Jenny. Kita harus kembangkan Sagu di Maluku agar kita tidak hanya menjadi penonton, tapi juga pemain utama di tanah sendiri,” tegas Umar.
Pesan Persatuan: “Berdamai dan Berpiring”
Menutup tahun 2025 dan menyongsong tahun yang baru, Umar Key yang juga menjabat sebagai pimpinan organisasi kemasyarakatan, memberikan pesan menyentuh bagi pemuda Indonesia Timur di perantauan, khususnya di Jakarta.
Ia menekankan konsep “berdamai dan berpiring” (kebersamaan dalam satu wadah). Menurutnya, kehebatan individu tidak akan berarti apa-apa tanpa adanya persatuan.
”Saya minta kepada seluruh pemuda Indonesia Timur, mari kita berdamai. Cari makan boleh hebat, tapi kalau tidak bersama, kita tidak akan pernah maju. Lakukan sesuatu yang benar,” pesannya dengan tegas.
Harapan untuk Masa Depan
Umar juga menyinggung visi besar ke depan, di mana ia berharap adanya keseimbangan ekonomi antara Jawa dan Indonesia Timur. Ia bermimpi suatu saat nanti, kekayaan aset di Timur akan membuat masyarakat dari wilayah lain, termasuk Jawa, datang untuk mencari peluang di sana, sebagaimana yang sedang diupayakan melalui proyek-proyek strategis nasional seperti Blok Masela.
”Timur harus menyala. Saya mencintai Sagu, saya mencintai Maluku. Tanpa dukungan orang-orang di belakang saya, saya tidak akan menjadi apa-apa. Pesan saya satu: Mulailah pintar dalam melangkah,” pungkas Umar Key menutup wawancara.
(Egi))













