Satusuaraexpres.co | Jakarta — Suasana pagi di SMAN 72 Jakarta pada Jumat, 28 November 2025, dipenuhi energi positif ketika ratusan siswa mengikuti kegiatan Trauma Healing yang digelar Puskesmas Kecamatan Kelapa Gading. Program ini diselenggarakan sebagai langkah pemulihan psikologis pasca insiden yang sempat mengguncang sekolah, sekaligus memperkuat edukasi kesehatan mental dalam kerangka Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (GERMAS).
Kegiatan lintas sektor ini turut menghadirkan sejumlah tokoh penting. Wakil Ketua Komisi IX DPR RI, Charles Honoris, bersama sang istri Irene Bertina Irawan, hadir memberikan dukungan moral. Dari Kementerian Kesehatan, tampak dr. Ni Made Diah Permata Laksmi, MKM, Ketua Tim Kerja Tata Kelola Puskesmas, sementara unsur TNI AL diwakili Letkol Laut Khusus Nova Idrianto, ST dari Kodaeral 3 Jakarta.
Pejabat daerah turut memperkuat kolaborasi tersebut, di antaranya Kasudin Pendidikan Wilayah 2 Jakarta Utara, Kasudin Kesehatan Jakarta Utara dr. Murniasi Hutapea, MPH, Camat Kelapa Gading Anita Permata Sari, S.Sos, M.Si, serta Kepala Sekolah SMAN 72 Jakarta Tetty Helena, M.Pd. Kegiatan dipimpin langsung oleh Kepala Puskesmas Kelapa Gading, dr. Ika Dewi Subandiyah, M.Epid.

Dalam sesi utama, para siswa memperoleh pembekalan dari narasumber dr. Zulvia Oktanida Syarif, SpKJ, melalui materi bertema “Kesehatan Mental: Cerdas Emosi, Sukses Berinteraksi”. Melalui diskusi ringan, permainan psikologis, dan aktivitas interaktif, para siswa diajak mengenali emosi, mengelola stres, hingga membangun kembali rasa aman di lingkungan sekolah.
Kepala Puskesmas Kelapa Gading, dr. Ika Dewi Subandiyah, menegaskan bahwa sekolah memegang peran vital sebagai ruang tumbuh yang sehat bagi remaja.
“Sekolah harus menjadi tempat yang menyehatkan jiwa dan raga bagi seluruh siswa, guru, dan tenaga pendidik. Pembelajaran perilaku hidup sehat tidak melulu dilakukan di kelas, tetapi bisa melalui aktivitas luar ruang yang menyenangkan,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa pemulihan psikologis anak muda harus dilakukan secara holistik dengan melibatkan keluarga, sekolah, dan tenaga kesehatan.
Melalui kegiatan ini, pihak Puskesmas dan para pemangku kepentingan menunjukkan komitmen kuat untuk memperkuat dukungan kesehatan mental di sekolah. Diharapkan, program ini tidak hanya memulihkan kondisi emosional siswa, tetapi juga melahirkan budaya sekolah yang aman, sehat, dan peduli pada kesejahteraan psikologis peserta didik.
(go)













