Satusuaraexpress.co | Jakarta — Kisah pilu dialami seorang karyawati yang baru saja bergabung dengan Mitra MBG Jatimekar II, Bekasi. Melalui serangkaian unggahan di media sosial, ia mengungkapkan bahwa dirinya menjadi korban perlakuan kasar oleh atasannya, yang diduga merupakan anak dari anggota TNI. Pengakuan ini dengan cepat menyebar luas dan menarik perhatian publik.
Dalam curahan hatinya, korban menyebut inisial terduga pelaku sebagai MKP (M. Kevin Pradana), yang menduduki posisi sebagai KASPPG Jatiasih Jatimekar II.
Lebih lanjut, ia mengungkapkan bahwa MKP adalah putra dari seorang anggota TNI dengan inisial NP. Ironisnya, korban baru bekerja selama satu minggu, namun sudah harus menghadapi perlakuan yang tidak manusiawi, seperti makian, tindakan tidak sopan, hingga ancaman kekerasan.
Baca juga : BNN RI Ungkap Kasus Pabrik Sabu di Apartemen Cisauk, Omset 6 Bulan Rp 1 Miliar
“Saya baru seminggu bekerja, tetapi setiap hari sudah menjadi sasaran makian dan pelecehan fisik. Padahal, saya tidak melakukan kesalahan apa pun,” tulis korban dengan nada getir.
Unggahan tersebut juga dilengkapi dengan tangkapan layar dari rekaman CCTV kantor, yang memperkuat pengakuannya.
Lebih lanjut, korban menceritakan kronologi kejadian yang membuatnya trauma. Insiden puncak terjadi pada hari Rabu, 15 Oktober, di area dapur kantor. Saat itu, pelaku tiba-tiba meneriakinya dengan kata-kata kasar dan memperlakukannya dengan sangat tidak pantas. Merasa terancam dan ketakutan, korban berusaha menjauh, namun pelaku justru semakin gencar melontarkan ancaman.
Baca juga : Kapal Nelayan Tenggelam di Perairan Pulau Bokor, 7 Orang Selamat 1 Meninggal
“Saya diancam akan dipukul oleh Kevin. Sejak pagi, saya sudah dihantui perasaan cemas dan takut menjadi sasaran makian, pukulan, dan pelecehan,” ungkapnya dengan nada pilu.
Tidak hanya dirinya, korban juga mengungkapkan bahwa ada beberapa karyawan lain yang pernah mengalami perlakuan serupa dari pelaku. Mirisnya, meskipun bukti berupa rekaman CCTV telah diserahkan kepada pihak manajemen MBG pusat dan yayasan, korban merasa belum ada tindakan tegas yang diambil untuk melindungi para korban.
Merasa tidak terima dengan perlakuan yang dialaminya, korban menegaskan bahwa dirinya tidak akan tinggal diam seperti korban-korban sebelumnya. Ia menuntut agar pelaku bertanggung jawab penuh atas segala perbuatannya yang telah merugikan dan meresahkan banyak pihak.
“Saya tidak akan membungkam diri seperti korban-korban sebelumnya. Anda harus mempertanggungjawabkan semua tindakan Anda. Ini adalah bentuk pengancaman, kekerasan terhadap tenaga kerja, dan pelecehan yang tidak bisa ditoleransi,” tegasnya di akhir unggahan.
Kisah ini menjadi sorotan tajam dan memicu berbagai reaksi dari warganet. Banyak yang mengecam tindakan pelaku dan memberikan dukungan moral kepada korban. Kasus ini juga menjadi pengingat bagi perusahaan dan lembaga terkait untuk lebih serius dalam menangani kasus kekerasan dan pelecehan di lingkungan kerja.













