Satusuaraexpress.co | Jakarta – Pendiri Microsoft sekaligus salah satu orang terkaya di dunia, Bill Gates, berencana untuk menyumbangkan 99% dari total kekayaannya yang kini melebihi USD 107 miliar atau Rp 1.787 triliun kepada lembaga amal yang ia dirikan, Gates Foundation dalam kurun waktu 20 tahun ke depan.
Salah satu alasan utamanya yaitu karena ia tidak ingin dikenang sebagai orang yang kaya setelah wafat. Ia menyatakan bahwa kekayaannya lebih baik digunakan untuk menyelesaikan masalah global seperti kemiskinan, penyakit menular, dan kematian ibu dan bayi yang bisa dicegah.
Gates menyebut, keputusan ini terinspirasi dari esai “The Gospel of Wealth” karya Andrew Carnegie berkolaborasi dengan Warren Buffett dalam kampanye Giving Pledge, yang menyatakan bahwa orang kaya memiliki kewajiban untuk mengembalikan kekayaan mereka kepada masyarakat.
Baca juga : Kian Memanas, China Dirikan “Pengadilan Internasional” di Hong Kong, Hegemoni Barat Terancam Hancur!
“Orang yang meninggal dalam keadaan kaya akan meninggal dalam keadaan malu,” tulisnya.
Dalam blog pribadinya yang dipublikasikan Kamis (8/5), ia juga menyampaikan bahwa Gates Foundation akan resmi ditutup pada 31 Desember 2045, lebih awal dari yang direncakan.
Diketahui hingga saat ini, Gates Foundation telah menyalurkan lebih dari USD 100 miliar atau Rp 1.640 triliun untuk program kesehatan dan pembangunan. Gates berharap total bantuan itu bisa mencapai USD 200 miliar atau Rp 3.280 triliun hingga tahun 2045, tergantung pada kondisi ekonomi global.
Harta Yang Tak Habis
Menyumbangkan 99% kekayaannya masih bisa menjadikan Gates sebagai miliarder. Dalam data Bloomberg, Gates saat ini masih memiliki kekayaan hingga US$ 108 miliar (Rp 1.787 triliun). Gates juga mengatakan yayasan tersebut akan menarik dana abadinya untuk menyumbangkan US$ 200 miliar.
Bersama Paul Allen, Gates mendirikan Microsoft pada tahun 1975, dan perusahaan tersebut menjadi kekuatan dominan dalam perangkat lunak komputer dan industri teknologi lainnya. Gates secara bertahap telah mundur dari perusahaan tersebut pada abad ini, mengundurkan diri sebagai kepala eksekutif pada tahun 2000 dan sebagai ketua pada tahun 2014.
Baca juga : Pertama Kali, BNN RI Berhasil Ungkap 2 Ton Sabu yang Dikendalikan DPO Dewi Astutik
Ia mengatakan bahwa ia terinspirasi untuk menyumbangkan uang oleh investor Warren Buffett dan filantropis lainnya. Ia juga menguraikan tiga tujuan utama yayasannya yakni memberantas penyakit yang dapat dicegah yang membunuh ibu dan anak, memberantas penyakit menular termasuk malaria dan campak, serta memberantas kemiskinan bagi ratusan juta orang.
Gates juga mengkritik Amerika Serikat, Inggris, dan Prancis karena memangkas anggaran bantuan luar negeri mereka. Pasalnya, hal ini dapat memperparah program-program jaminan sosial, yang ujungnya menjatuhkan masyarakat pada kemiskinan.
Baca juga : Kejati DKI Tetapkan Tersangka Baru Kasus Korupsi PT Telkom
“Tidak jelas apakah negara-negara terkaya di dunia akan terus membela rakyatnya yang termiskin,” tulisnya. “Namun satu hal yang dapat kami jamin adalah, dalam semua pekerjaan kami, Yayasan Gates akan mendukung upaya untuk membantu orang dan negara keluar dari kemiskinan.”
Ia lebih tegas dalam wawancara dengan Newshour, saat ditanya tentang komentarnya yang menuduh miliarder teknologi Elon Musk membunuh anak-anak melalui pemotongan bantuan AS yang dilakukan oleh Departemen Efisiensi Pemerintah, atau DOGE.
“Pemotongan ini tidak hanya akan membunuh anak-anak, tetapi jutaan anak,” jawab Gates. “Anda tidak akan menyangka orang terkaya di dunia akan melakukannya.”













