Sudah 7 tahun bapak dari 2 anak ini menekuni profesi sebagai pembuat miniatur kereta api berbagai jenis, mulai dari KRL, kereta jarak jauh, hingga MRT. Karya Iskandar (54) telah menembus pasar hingga luar jawa, bahkan Singapura dan Brunei dengan omzet mencapai puluhan juta rupiah perbulan.
Satusuaraexpress.co
MINIATUR lokomotif kereta api (KA) sepanjang 45 sentimeter itu didominasi warna putih. Di beberapa bagian, terdapat corak merah dan biru yang sangat khas. Sejumlah jendela hitam dan lampu di bagian depan membuat tampilannya makin menyerupai bentuk asli. Apalagi, tampilan gerbong serta pintunya sangat akurat dan detail.
“Sebenarnya ini masih setengah jadi. Di bagian akhir nanti, warnanya dibuat lebih mengkilap dengan stiker,” kata Iskandar.
Di masa Pandemi Covid-19, miniatur kereta dan lokomotif bisa jadi peluang bisnis yang menjanjikan ketika sebagian besar orang menghabiskan banyak waktu di rumah. Iskandar pun menggunakan waktu luangnya untuk membuat miniatur kereta pesanan di kios sederhananya yang berada di Jalan Manggarai Utara 2, Tebet, Jakarta Selatan.
Di dalam kios terlihat bahan-bahan miniatur kereta seperti lembaran polivinil klorida (pvc) dan stiker berserakan. Sementara di atas etalase, sejumlah miniatur kereta dan lokomotif hasil karyanya disusun rapi untuk memikat hati pembeli. Sudah tujuh tahun Iskandar memulai berbisnis kerajinan tangan ini.
Iskandar masih ingat betul, sebelumnya bisnis mainan keretanya mengalami kesuksesan, ia bekerja sebagai seorang pemasang iklan di sebuah perusahaan. Saat itu, anak laki-laki Iskandar yang masih duduk di sekolah dasar meminta dibelikan mainan kereta. Padahal, sulit mencari mainan kereta.
Iskandar pun memutar otak dan menemukan ide dengan mencoba membuat mainan kereta sendiri. Dimana bodi kereta dibuat dari bahan PVC yang didapatnya dari bekas berbagai iklan. Ia kemudian meminta bantuan teman untuk mencetak gambar kereta dalam bentuk stiker.
Meski baru pertama kali, hasil kerajinan tangannya ternyata rapi dan bagus. Anak-anak sekitar tempat tinggalnya pun meminta dibuatkan mainan tersebut. Dari situ, Iskandar mulai menjualnya secara kecil-kecilan sembari bekerja.
“Saya bikin mainan itu sambil gawe (kerja). Banyak yang mesen,” ucap Iskandar.
Miniatur keretanya semakin disukai dan laku dijual. Akhirnya, Iskandar memutuskan total berkecimpung dalam pembuatan miniatur kereta dan lokomotif. Penghasilannya dari membuat miniatur malah lebih baik ketimbang pekerjaan sebelumnya.
Bisnis Iskandar lambat laun terus berkembang. Bahkan ia membuka peluang bagi masyarakat yang ingin belajar membuat miniatur kereta dan lokomotif sendiri. Ia membuka pelatihan di dalam kios sederhananya di tepi Jalan Manggarai Utara 2, Tebet, Jakarta Selatan. Satu peserta dikenakan tarif Rp 1,5 juta. Hingga kini sudah ada beberapa yang pernah mengikuti pelatihan di “bengkel keretanya” itu.
“Ada beberapa yang sudah ikut dari polisi militer, dokter, dan kepala satuan. Biasanya, tidak butuh hingga satu bulan para peserta sudah bisa merancang miniatur kereta dan lokomotif sendiri,” terangnya.
Iskandar menjual miniatur kereta dengan dua ukuran yakni 1:87 dan 1:50. Dalam sehari, ia mampu membuat sekitar lima buah kereta atau lima buah lokomotif. Rata-rata empat keretanya laku terbeli per hari. Namun, ada juga satu pembeli yang memesan dalam jumlah besar.

Kereta-kereta yang dijual antara lain Lokomotif CC201, CC202, CC203, BB200 dan BB300. Kereta dengan dengan model jadul, paling banyak diminati pembeli. Dalam pembuatan, Iskandar mendapat referensi dengan melihat kereta langsung. Kebetulan, rumah Iskandar berdekatan dengan bengkel kereta di Stasiun Manggarai.
“Jadi karena orang di dalam sudah banyak yang kenal, saya izin paling memotret kereta di dalam untuk membuat miniatur kereta,” jelasnya.
Iskandar juga membuat kereta bermesin sehingga bisa bergerak dengan menggunakan remote kontrol. Hasil karya Iskandar dijual dengan harga bervariasi. Untuk kereta yang tidak menggunakan mesin dijual dari harga Rp 125 ribu sampai Rp 400 ribu. Sedangkan untuk kereta bermesin dari Rp 800 ribu sampai Rp 1,5 juta.
Tidak hanya dimintai di dalam negeri, miniatur kereta dan lokomotif hasil karya Iskandar juga dilirik sejumlah negara. Ia pernah menjualnya hingga Brunei Darussalam, Malaysia, dan Singapura. Untuk satu kereta, Iskandar memasang harga lebih tinggi ketimbang harga domestik.
“Pembeli dari Brunei sempat memesan sebanyak 30 unit dengan harga per kereta Rp 300 ribu. Sedangkan Singapura waktu itu lima unit. Malaysia yang paling banyak dan pembelinya tidak hanya satu orang,” ujarnya.
Sedangkan pembeli dari dalam negeri juga tidak kalah banyak. Bahkan, banyak pembeli yang datang jauh-jauh ke kiosnya. “Ada yang dari Tangerang, Bekasi, Babelan, Karawang, Banten yang datang ke sini buat beli,” tutupnya.













