Mengapa Banyak Lulusan Muda Memilih Studi dan Berkarier di Luar Negeri?

IMG 3925

Satusuaraexpress.co | OPINI — Linimasa media sosial kita beberapa tahun terakhir dipenuhi tagar #KaburAjaDulu. Di balik tren itu ada angka yang tidak bisa diabaikan. Survei YouGov Indonesia pada 24-27 Februari 2025 terhadap 2.003 responden menemukan 41 persen Gen Z mempertimbangkan pindah ke luar negeri dalam beberapa tahun ke depan.

Survei Jakpat pada Juni 2024 terhadap 1.185 Gen Z yang sudah bekerja mencatat 85 persen setuju bahwa mencari pekerjaan ideal di Indonesia itu sulit, dan 74 persen tertarik bekerja di luar negeri.

Dari data resmi, Direktorat Jenderal Imigrasi mencatat 3.912 WNI berpindah menjadi warga negara Singapura sepanjang 2019-2022, kebanyakan berusia produktif 25-35 tahun, sekitar seribu orang per tahun.

Dilansir dari paparan pakar UGM, laporan Human Flight and Brain Drain Index 2024 dari The Global Economy menempatkan Indonesia di peringkat ke-88 dari 175 negara. Pertanyaannya, apakah ini sekadar pilihan pribadi yang wajar, atau tanda bahwa talenta terbaik kita kehilangan alasan untuk tinggal?

Apa Itu Brain Drain?

Menurut Frédéric Docquier dan Hillel Rapoport dalam The New Palgrave Dictionary of Economics, brain drain adalah perpindahan sumber daya manusia lintas negara, terutama individu berpendidikan tinggi dari negara berkembang ke negara maju. Selama ini ia dipandang merugikan negara asal. Namun riset ekonomi terbaru menekankan adanya dampak positif, misalnya lewat jejaring bisnis para migran terampil, kiriman uang (remitansi), dan peluang mereka kembali.

Karena itu para peneliti juga memakai istilah brain gain dan brain circulation. Dalam kajian ekonom Theo Dunnewijk, brain circulation memandang perpindahan tenaga terampil sebagai awal siklus yang bisa menguntungkan semua pihak, asal negara asal mampu menghubungkan diasporanya. Jadi masalah utamanya bukan sekadar “orang pergi”, melainkan “apakah mereka punya jalan pulang dan alasan untuk berkontribusi?”

Mengapa Anak Muda Memilih ke Luar Negeri?
Penghasilan dan karier. Menurut riset Populix yang dirangkum GoodStats, penghasilan lebih tinggi menjadi motivasi utama bekerja di luar negeri (82 persen), disusul pengembangan karier (62 persen) dan peningkatan kualitas hidup (61 persen). Pengamat ketenagakerjaan UGM Tadjudin Nur Effendi, dikutip detikFinance, menilai gaji besar, jaminan sosial dan kesehatan menjadi daya tarik utama.

Faktor pendorong dan penarik. Sosiolog UNAIR Tuti menjelaskan fenomena ini lewat faktor pendorong (kesempatan kerja dan karier yang terbatas di dalam negeri) dan faktor penarik (negara tujuan yang lebih maju dan tertata). Ia juga menilai gejala ini bisa mengindikasikan persoalan struktural yang perlu dibenahi pemerintah.

Ketimpangan lapangan kerja. Dalam ulasan GoodStats dan data BPS, jumlah pencari kerja tidak seimbang dengan lapangan kerja layak. Karena itu, banyak yang melihat luar negeri sebagai upaya mencari kesempatan, bukan sekadar “kabur”.

Studi yang makin populer. Data UNESCO Institute for Statistics yang dikutip Antara menunjukkan sekitar 59 ribu mahasiswa Indonesia belajar di luar negeri, menempatkan Indonesia di sekitar peringkat ke-22 dunia. Menurut GoodStats, Australia dan Malaysia termasuk tujuan terbanyak.

Perlu dicatat, Dirjen Imigrasi Silmy Karim menyatakan pindah kewarganegaraan demi taraf hidup lebih baik sah selama dilakukan secara legal. Jadi kita sedang membahas pilihan rasional warga, bukan pengkhianatan.

Penulis: Yus Yunus | Editor: Ghugus San

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *