Diabetes tidak lagi identik dengan usia lanjut. Dokter anak mencatat lonjakan kasus pada anak dan remaja, sementara Kementerian Kesehatan menyoroti pola konsumsi tinggi gula, garam, dan lemak serta gaya hidup serba instan sebagai pendorong risiko di usia muda.
Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) melaporkan pada Februari 2023 bahwa prevalensi diabetes pada anak mencapai 2 per 100.000 jiwa pada Januari 2023, sekitar 70 kali lipat dibandingkan 0,028 per 100.000 pada 2010. IDAI mencatat 1.645 anak dengan diabetes di sejumlah kota di Indonesia. Ketua Unit Kerja Koordinasi Endokrinologi IDAI memperkirakan jumlah sebenarnya lebih besar karena data belum mewakili seluruh daerah dan banyak kasus belum terdiagnosis.
Ketua Umum IDAI Piprim Basarah Yanuarso menyebut kenaikan itu sebagian disebabkan deteksi yang lebih baik, karena orang tua kini lebih sadar memeriksakan anak. Mayoritas kasus pada anak adalah diabetes tipe 1, yang berkaitan dengan faktor genetik dan autoimun. Diabetes tipe 2, yang dipengaruhi gaya hidup dan obesitas, menyumbang sekitar 5 sampai 10 persen kasus pada anak, menurut artikel Kemenkes.
Pada tingkat populasi, Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 mencatat prevalensi diabetes berdasarkan diagnosis dokter pada penduduk usia 15 tahun ke atas naik dari 2,0 persen pada 2018 menjadi 2,2 persen pada 2023. Angka SKI ini mencakup seluruh usia di atas 15 tahun, bukan hanya remaja dan dewasa muda.
Pola konsumsi yang bergeser: minuman manis dan makanan instan
Survei Kemenkes menunjukkan 29,7 persen penduduk Indonesia mengonsumsi pangan dengan kandungan gula, garam, dan lemak (GGL) melampaui batas anjuran. Direktur Penyakit Tidak Menular Kemenkes Siti Nadia Tarmizi menilai anak muda rentan karena gaya hidup serba instan dan banyak mengonsumsi minuman tinggi gula. Kemenkes menganjurkan batas harian 50 gram gula (empat sendok makan), 2.000 miligram natrium, dan 67 gram lemak per orang.
Dokter Dimas Aryo Pamungkas dari Fakultas Kedokteran Untag Surabaya, dikutip Antara, menyebut minuman kekinian bisa mengandung 60 sampai 80 gram gula per porsi, melampaui batas harian. Ia juga mengutip data Kemenkes tentang kenaikan konsumsi minuman manis sebesar 20 persen pada usia 17 sampai 20 tahun dalam lima tahun terakhir. Angka-angka ini disampaikan narasumber dan belum dapat kami verifikasi dari dokumen aslinya.
Piprim menyebut sekitar 80 persen anak dengan diabetes disertai obesitas, dan menilai anak-anak kini sangat menyukai minuman manis dalam kemasan. Data Kemenkes menunjukkan prevalensi obesitas pada usia 5 sampai 19 tahun naik dari 2,8 persen pada 2006 menjadi 6,1 persen pada 2016. Pada remaja 13 sampai 17 tahun, 14,8 persen mengalami berat badan berlebih dan 4,6 persen obesitas.
Bukti ilmiah internasional mendukung kaitan ini. Meta-analisis di jurnal Diabetes Care yang menggabungkan 11 studi kohort menemukan peminum minuman berpemanis gula dalam jumlah tertinggi (umumnya satu sampai dua porsi per hari) memiliki risiko diabetes tipe 2 26 persen lebih besar. Analisis dosis-respons lebih baru di Advances in Nutrition (2025) menemukan setiap tambahan satu porsi minuman manis berkaitan dengan risiko diabetes tipe 2 yang 25 persen lebih tinggi, dengan tingkat kepastian sedang. Studi yang sama tidak menemukan bukti konsisten bahwa semua jenis gula dalam makanan, apa pun bentuknya, meningkatkan risiko. Kemenkes menyatakan satu porsi minuman berpemanis per hari menaikkan risiko diabetes tipe 2 sebesar 18 persen.
Ancaman masa depan: komplikasi datang lebih cepat
Diabetes dikenal dapat memicu komplikasi seperti stroke, penyakit jantung, dan gagal ginjal. Riset dari Amerika Serikat menunjukkan ancaman itu muncul lebih awal pada penderita diabetes tipe 2 yang terdiagnosis saat muda.
Studi lanjutan TODAY2 yang dimuat di New England Journal of Medicine mengikuti remaja usia 10 sampai 17 tahun dengan diabetes tipe 2 selama hingga 15 tahun. Dalam 15 tahun setelah diagnosis, 60 persen peserta memiliki setidaknya satu komplikasi terkait diabetes, dan hampir sepertiganya dua komplikasi atau lebih. Peneliti mencatat peserta mendapat penanganan intensif tanpa biaya selama studi, yang mungkin menurunkan angka komplikasi dibanding kondisi nyata.
Studi yang dimuat di JAMA pada 2017 membandingkan 1.746 penderita tipe 1 dan 272 penderita tipe 2 usia muda. Penyakit mata ditemukan pada 9 persen penderita tipe 2 dan 6 persen penderita tipe 1. Penyakit ginjal dan saraf pada penderita tipe 2 masing-masing 20 persen dan 18 persen, dibanding 6 persen dan 9 persen pada tipe 1.
Studi Diabetes Care 2003 pada orang dewasa menemukan diabetes tipe 2 yang muncul sebelum usia 45 tahun berkaitan dengan risiko penyakit kardiovaskular yang jauh lebih tinggi dibanding orang seusia tanpa diabetes. Dimas Aryo Pamungkas memperingatkan komplikasi pada jantung dan ginjal dapat muncul dalam 10 sampai 15 tahun, dan menceritakan pasien 22 tahun dengan gula darah 500 mg/dL yang meninggal karena komplikasi.
Diabetes pada usia muda juga membebani produktivitas. Peneliti TODAY2 menyebut angka komplikasi itu berimplikasi besar pada kesehatan, biaya layanan kesehatan, dan hilangnya produktivitas. Sebagian besar data dari studi di atas berasal dari luar Indonesia, sehingga gambaran di dalam negeri perlu penelitian lokal.
Upaya pencegahan dan hal yang belum pasti
Pemerintah mulai menyasar sisi konsumsi. Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 2024 dikeluarkan untuk mengurangi konsumsi pangan dengan kandungan gula, garam, dan lemak berlebihan. Badan Pengawas Obat dan Makanan juga menyiapkan label Nutri Level, yang tahap pertamanya menyasar minuman siap konsumsi dengan GGL level C dan D. Nadia Tarmizi menilai tanpa intervensi kebijakan seperti itu, risiko diabetes di usia muda akan terus naik.
IDAI mendorong pembatasan iklan makanan cepat saji dan pencantuman kandungan karbohidrat serta gula pada kemasan. Dokter menganjurkan menjaga berat badan ideal, memperbanyak buah dan sayur, serta aktif bergerak. Gejala awal yang perlu diwaspadai antara lain cepat lelah, sering buang air kecil malam hari, berat badan turun tanpa sebab, dan kesemutan. Orang tua dan remaja dengan gejala tersebut disarankan memeriksakan diri ke tenaga kesehatan.
Beberapa hal masih belum pasti. Angka IDAI berasal dari pencatatan di sejumlah kota dan dipengaruhi peningkatan deteksi, sementara data nasional khusus remaja dan dewasa muda belum tersedia dalam sumber yang kami rujuk. Kenaikan kasus diabetes tipe 1 tidak terkait langsung dengan pola makan, sehingga tidak semua lonjakan dapat dikaitkan dengan konsumsi gula.
Penulis: Yus Yunus | Editor: Ghugus San













