Cengkareng Menjadi Wilayah Penyumbang Kasus DBD Terbanyak di Jakarta Barat

86e25280de78c3c384710bb17d042059 scaled
Petugas Kelurahan melakukan pemantauan jentik jentik nyamuk di permukiman warga.

Satusuaraexpress.co | Jakarta — Sepanjang periode Januari hingga Juli 2026, Suku Dinas Kesehatan Jakarta Barat mencatat adanya peningkatan kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) yang tersebar di delapan kecamatan. Dari seluruh wilayah yang dipantau, Kecamatan Cengkareng muncul sebagai kawasan dengan jumlah kasus terbanyak, mencapai angka 548 kasus. Angka ini menempatkan Cengkareng jauh melampaui kecamatan-kecamatan lain di wilayah administrasi Jakarta Barat.

Secara keseluruhan, tercatat sebanyak 1.538 kasus DBD yang terhimpun dari delapan kecamatan dalam kurun waktu tujuh bulan tersebut. Setelah Cengkareng, urutan jumlah kasus terbanyak berikutnya diduduki oleh Kecamatan Kalideres dengan 361 kasus, lalu Kecamatan Kebon Jeruk sebanyak 160 kasus, Kecamatan Kembangan 111 kasus, dan Kecamatan Palmerah mencatat 107 kasus.

Sementara itu, Kecamatan Grogol Petamburan tercatat 97 kasus, Kecamatan Tambora 90 kasus, dan Kecamatan Taman Sari menempati urutan terakhir dengan 64 kasus.

Kepala Suku Dinas Kesehatan Jakarta Barat, Sahruna, menyampaikan hal tersebut pada Rabu (5/8/2026) seraya menyatakan bahwa pihaknya akan memperkuat pemantauan secara berkala terhadap angka kejadian serta kecepatan penularan yang terjadi di lapangan.

Baca jugaAngka Kasus DBD di Jakbar Menurun, Sudinkes Sebut Cuaca Masih Mendukung Perkembangbiakan Nyamuk

Langkah penanganan cepat pun disiapkan, di antaranya melalui pelaksanaan Penyelidikan Epidemiologi serta penguatan gerakan Pemberantasan Sarang Nyamuk dengan pendekatan 3M Plus.

Tidak hanya itu, upaya penyebarluasan informasi dan promosi kesehatan mengenai bahaya DBD juga akan digencarkan secara menyeluruh agar kesadaran masyarakat semakin meningkat.

Melalui langkah ini, diharapkan warga turun langsung berpartisipasi aktif melakukan pemantauan keberadaan jentik nyamuk secara mandiri dan rutin di lingkungan rumah masing-masing.

“Deteksi dini terhadap keberadaan jentik nyamuk merupakan faktor paling penting dalam menekan dan mengentaskan penyebaran kasus DBD. Oleh karena itu, kami sangat mengharapkan peran aktif seluruh masyarakat untuk memantau keberadaan jentik nyamuk secara mandiri di rumah masing-masing,” tegas Sahruna.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *