Biennale Klaten 2026: “Tak Gendong”, Merayakan Seni, Perempuan, dan Kelestarian Lingkungan di Ruang Publik

Biennale Klaten 2026 2
Biennale Klaten 2026: “Tak Gendong”, Merayakan Seni, Perempuan, dan Kelestarian Lingkungan di Ruang Publik.

Satusuaraexpress.co | Klaten — Kementerian Kebudayaan melalui Program Dana Indonesia Raya (Dana Indonesiana Tahun 2025), kategori “Pendayagunaan Ruang Publik”, memberikan dukungan penuh kepada para maestro seni Indonesia melalui penyelenggaraan Biennale Klaten Environmental Art “Tak Gendong The Power of Women”.

Diselenggarakan oleh Yayasan Angin Segar pada 20–22 April 2026 di Ruang Publik Lima Benua, Geritan, Belangwetan, Klaten Utara, kegiatan ini menjadi ruang perjumpaan yang hidup antara seni, lingkungan, masyarakat, dan nilai-nilai budaya yang tumbuh subur di tengah keseharian masyarakat.

Sebagai biennale pertama di tingkat kabupaten di Indonesia, Biennale Klaten menempatkan masyarakat bukan sekadar penonton, melainkan subjek utama yang terlibat dalam proses penciptaan dan pengembangan karya seni. Pendekatan ini menjadikannya salah satu inisiatif paling bermakna dalam perkembangan seni kontemporer di tanah air.

Filosofi “Tak Gendong”: Beban, Tanggung Jawab, dan Kekuatan Perempuan

Mengusung konsep Seni Lingkungan (Environmental Art), edisi keempat tahun 2026 ini mengangkat tajuk “Tak Gendong — The Power of Women”. Tema ini lahir dari kesadaran mendalam terhadap persoalan ekologis, pengelolaan limbah, serta pentingnya memaknai kembali nilai-nilai sosial yang hidup di masyarakat.

Baca jugaDunia Hiburan Tanah Air Berduka, Komedian Senior Diding Boneng Tutup Usia

Istilah “Tak Gendong” bukan sekadar kiasan. Ia merepresentasikan filosofi tentang tanggung jawab, beban, sekaligus kekuatan. Dalam konteks tema The Power of Women, gagasan ini merefleksikan peran krusial perempuan dalam menjaga lingkungan atau dalam bahasa yang lebih hidup, “menggendong beban ekologis” sehari-hari.

Mulai dari kebiasaan memilah sampah di rumah, mengelola limbah, hingga menjaga kelestarian alam, perempuan selama ini menjadi pilar yang tak terpisahkan dari keseimbangan lingkungan hidup.

Seni yang Menyatu dengan Ruang Kehidupan

Berbeda dengan pameran konvensional yang terkurung di dalam galeri, Biennale Klaten membawa karya seni keluar ke ruang publik ke jalanan, tepi sungai, hamparan sawah, gang-gang sempit, gedung-gedung, hingga blumbang (kolam atau empang). Ruang kehidupan masyarakat menjadi bagian tak terpisahkan dari proses artistik, sekaligus menjadi tolok ukur perkembangan seni kontemporer di pedesaan.

Rangkaian kegiatan tidak hanya menghadirkan pameran karya seni visual, tetapi juga panggung pertunjukan, kuliner tradisi, serta beragam aktivitas yang mempertemukan seniman dan warga dalam ruang kreatif bersama.

Baca jugaHUT Ke-499 Jakarta: Gebyar Seni Budaya Setu Babakan 2026 Bangkitkan Kembali Tradisi Betawi yang Mulai Langka

Semangat kolaborasi semakin diperkuat melalui pendekatan translokal dalam pengelolaan lingkungan, khususnya melalui praktik upcycling mengubah barang bekas dan limbah menjadi karya baru yang bernilai estetis dan fungsional. Seniman dan warga bekerja sama, memanfaatkan kembali material yang seharusnya dibuang, lalu mengolahnya menjadi karya dan gagasan baru.

Kolaborasi Lintas Disiplin untuk Bumi dan Masyarakat

Kegiatan ini melibatkan sekitar 50 pelaku seni dan budaya, serta menghadirkan penggiat lingkungan, kelompok ibu-ibu pengelola bank sampah, hingga para pemulung, mereka yang setiap hari bersentuhan dengan realitas sampah dan lingkungan. Keterlibatan beragam unsur ini memperkuat semangat bersama: menjaga lingkungan melalui pendekatan seni dan budaya.

Sebelum puncak acara pada April 2026, rangkaian Biennale Klaten telah dimulai sejak 17 Oktober 2025, bertepatan dengan Hari Kebudayaan Nasional melalui tahapan kajian dan residensi seniman. Hasil dari proses panjang tersebut kemudian dipresentasikan kepada masyarakat dalam pameran dan program publik yang berlangsung selama tiga hari penuh.

Pembukaan dilakukan oleh Staf Khusus Menteri Kebudayaan Bidang Media dan Komunikasi Publik, M. Asrian Mirza. Dalam perhelatan ini, dipertemukan lima maestro seni klasik dan lima maestro seni kontemporer, didukung empat ahli tata kelola.

Baca jugaInspirasi Persit: dr. Zuhria Novianty dan Seni Merajut Keseimbangan Hidup di Tengah Tugas Negara

“Kolaborasi ini menjadi wujud nyata upaya memadukan kekayaan tradisi dengan karakter seni kontemporer yang fungsional, terbuka, dan tetap relevan dengan perkembangan zaman, ” kata Asrian.

Menuju Seni yang Inklusif dan Berkelanjutan

Biennale Klaten terus bertransformasi dari ruang yang sebelumnya cenderung eksklusif, kini bergerak menuju penyelenggaraan yang semakin inklusif dan terbuka. Ruang partisipasi diperluas, memberi kesempatan seluas-luasnya bagi masyarakat dan berbagai pemangku kepentingan untuk terlibat.

Melalui Biennale Klaten, seni diharapkan tidak hanya hadir di ruang-ruang tertentu, tetapi dapat tumbuh dan berkelanjutan bersama masyarakat di mana pun berada. Seni menjadi medium untuk merespons perubahan iklim, memperkuat solidaritas sosial, serta membuka ruang dialog antara nilai-nilai lokal dan arus dunia yang terus berubah.

Kehadiran Biennale Klaten juga membuktikan satu hal penting: pemajuan kebudayaan tidak harus selalu berangkat dari pusat atau kota besar. Ia dapat tumbuh dari kekuatan komunitas dan ruang hidup masyarakat sehari-hari. Dengan menempatkan masyarakat sebagai bagian penting dari ekosistem kebudayaan, seni dapat menjadi kekuatan bersama dalam membangun kesadaran, kreativitas, dan keberlanjutan lingkungan untuk hari ini, untuk masa depan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *