Satusuaraexpress.co | Jakarta — Kabar gempa berkekuatan magnitudo 7,7 yang mengguncang wilayah Nusa Tenggara Timur pada Sabtu (15/8) dini hari, seketika menyisakan duka dan kehancuran. Puluhan nyawa melayang, ribuan warga terpaksa mengungsi, sementara jejak kehancuran tampak nyata di sejumlah kawasan yang terdampak parah.
Di tengah duka yang mendalam, tangan-tangan penolong pun bergerak cepat. Dompet Dhuafa Republika menjadi salah satu lembaga yang sejak jam-jam pertama setelah gempa langsung menurunkan tim dan bantuan guna meringankan beban saudara-saudara kita di NTT.
Merespon kondisi tersebut, Dompet Dhuafa memberangkatkan bantuan logistik melalui jalur laut dan darat ke sejumlah titik terdampak dengan target 81 Ton bantuan secara berkala.
Hingga saat ini Dompet Dhuafa telah memberikan pelayanan untuk 3.094 jiwa penerima manfaat dalam bentuk pendistribusian logistik sebanyak 1.264 jiwa, 1.560 jiwa penerima makanan, 105 jiwa penerima layanan kesehatan, 15 jiwa penerima psychological first aid hingga 150 jiwa telah dievakuasi.
Baca juga : Kolaborasi PARFI 56 dan Dompet Dhuafa Dalam Meradjoet Sendja -Persembahan Cinta Untuk Republik
Ketua Pengurus Dompet Dhuafa Republika, Ahmad Juwaini, menegaskan bahwa kekuatan gempa magnitudo 7,7 itu tergolong sangat dahsyat. Seandainya kekuatan sebesar itu menghantam kawasan padat penduduk besar seperti Jakarta, kerusakan yang ditimbulkan bisa jauh lebih fatal dan masif. Meski NTT bukan kawasan perkotaan besar, dampaknya tetap luar biasa berat.
Juwaini menyebut angka korban meninggal terus meningkat, kini tercatat mendekati 70 orang dan diprediksi masih akan bertambah, ribuan jiwa terpaksa mengungsi, serta kerusakan bangunan dan infrastruktur tampak tersebar di sejumlah wilayah terdampak.
“Karena itu, Dompet Dhuafa sejak hari pertama langsung merespons dengan mengirimkan bantuan reaksi cepat. Prioritas utama pada tahap awal tak lain adalah menyelamatkan nyawa,” ujar Ahmad Juwaini.
Ia menjelaskan, pada pukulan pertama gempa, peluang keselamatan sangat bergantung pada kecepatan pertolongan. Orang-orang yang terjebak di bawah reruntuhan bangunan memiliki waktu yang sangat terbatas untuk diselamatkan. Semakin lambat pertolongan tiba, semakin besar risiko kehilangan nyawa. Itulah alasan mengapa langkah pertama yang dilakukan adalah upaya evakuasi dan pertolongan darurat sesegera mungkin.
Baca juga : Dompet Dhuafa Luncurkan Kebun Pangan Madaya, Gerakan Pemberdayaan Wujudkan Ketahanan Pangan Berkelanjutan
“Setelah masa krisis awal berlalu, bantuan kemudian difokuskan pada pemenuhan kebutuhan mendesak seperti makanan bergizi, layanan kesehatan bagi warga yang luka-luka maupun yang mengalami gangguan kesehatan pascabencana, serta pembangunan tempat-tempat pengungsian sederhana, ” terangnya.
Juwaini turut menyampaikan perhatian terhadap kebutuhan yang kerap terlupakan di pos pengungsian, seperti kebutuhan khusus bayi, balita, hingga perlengkapan kebersihan dan kenyamanan bagi perempuan. Hal-hal kecil semacam itu, menurutnya, justru sangat dibutuhkan warga yang kehilangan tempat tinggal dan segala isinya. Belum lagi gempa susulan yang terus terjadi hingga hari-hari berikutnya, meninggalkan jejak ketakutan dan trauma mendalam di hati para penyintas yang enggan kembali ke rumah masing-masing.
“Kami menyadari bantuan kami belum sanggup menutupi seluruh kebutuhan. Namun kami hadir untuk turut meringankan, menyisir wilayah demi wilayah guna memastikan tak ada warga yang terlewatkan dari jangkauan pertolongan,” tegas Ahmad.
Bantuan logistik pun terus mengalir melalui jalur darat maupun laut, disesuaikan dengan kondisi medan yang sulit dijangkau di beberapa pelosok Flores. Lebih jauh, Ahmad menyampaikan komitmen Dompet Dhuafa tak akan berhenti di masa darurat semata. Berdasarkan pengalaman menangani bencana-bencana besar, pemulihan berlangsung lama, tak terhitung dalam hitungan hari atau minggu, melainkan bulan hingga tahun.
Baca juga : Lebih Dari Tiga Dekade, Dompet Dhuafa Salurkan Ratusan Hewan Hingga Pelosok Negeri dan Luar Negeri
“Kami menyiapkan diri mendampingi saudara-saudara kita di NTT setidaknya hingga dua tahun ke depan. Bantuan berlanjut hingga fase pemulihan dan pembangunan kembali,” ujarnya.
Gerak Cepat dari Berbagai Penjuru, Demi Satu Tujuan
Sementara itu, Kepala Disaster Management Center (DMC) Dompet Dhuafa, Shofa Qudus melukiskan betapa cepatnya rangkaian pergerakan tim dilakukan begitu laporan gempa masuk. Tepat pukul 04.30 pagi waktu setempat, getaran dahsyat mengguncang daratan Flores. Bahkan dari kejauhan, rekan-rekan relawan di Makassar pun merasakan guncangan yang kuat.
Tak menunggu lama, tim terdekat yang berada di Laratuka langsung berangkat siang itu juga menuju Maumere lewat jalur darat, tiba menjelang sore dan segera membuka pos dapur umum serta menyalurkan makanan hangat bagi sekitar 1.600 warga yang mengungsi.
Langkah demi langkah tersusun rapi. Tim kedua dan ketiga diberangkatkan pada Minggu pagi yakni satu rombongan langsung terbang dari Jakarta menuju Labuan Bajo membawa tim medis, tim penanggulangan bencana, dan tim komunikasi, rombongan lain berangkat dari Kupang menuju Labuan Bajo.
Belum selesai itu, tim keempat pun bergerak dari kantor Dompet Dhuafa Jawa Timur sore harinya, melesat menyeberang Banyuwangi, Bali, Lombok, membawa kendaraan taktis penuh berisi logistik lengkap beserta ambulans dan sepeda motor penjelajah. Siang dan malam tak henti mereka tempuh jalan berliku, demi tiba secepatnya di lokasi yang berduka.
Baca juga : Dompet Dhuafa Optimis Sambut Ramadan 1447H dengan Kampanye “Berzakat Itu Kalcer”
Kini jangkauan bantuan pun melebar. Dari arah Nagekeo, sekitar 6–8 ton logistik telah disiapkan untuk dikirimkan ke wilayah terdampak. Lewat jalur laut, ratusan paket bantuan pun diangkut menyusuri pesisir utara Pulau Flores menuju kawasan yang sulit dijangkau lewat darat.
“Puluhan relawan telah tersebar di berbagai titik seperti Maumere, Reo, hingga wilayah-wilayah pelosok yang akses jalannya sempat rusak akibat gempa. Di beberapa ruas jalan, kerusakan cukup parah membuat kendaraan berat sulit lewat. Yang penting sampai ke tangan penyintas, walau harus berjalan perlahan,” ujar Shofa.
Pos-pos induk pun mulai disiapkan guna melayani wilayah yang luas dan sulit dijangkau. Pos utama didirikan di Nanggung Keli, kawasan yang paling parah terdampak sekaligus memiliki akses udara yang masih bisa diandalkan. Pos penyangga lainnya berdiri di Labuan Bajo guna menjangkau wilayah pesisir barat Flores. Sementara pos-pos layanan tersebar pula di titik-titik terjauh: Reo, Rutung, Sape, Wae Rebo, hingga wilayah pegunungan yang sehari sekali saja bisa didatangi pesawat tergantung cuaca.
“Harapannya, kehadiran kami yang sederhana ini dapat sedikit menghapus air mata, mengobati kesedihan, dan menjadi semangat baru bagi saudara-saudara kami di NTT untuk bangkit kembali,” tutup Shofa.











