Kolaborasi PARFI 56 dan Dompet Dhuafa Dalam Meradjoet Sendja -Persembahan Cinta Untuk Republik

IMG 20260814 WA0001
Kolaborasi PARFI 56 dan Dompet Dhuafa Dalam Meradjoet Sendja -Persembahan Cinta Untuk Republik.

Satusuaraexpress.co | Jakarta — Dompet Dhuafa resmi menjalin kerja sama dengan Persatuan Artis Film Indonesia 1956 (PARFI ’56) untuk menjalankan program kemanusiaan yang berkelanjutan, bukan sekadar kegiatan sesaat. Semangat itulah yang menjadi napas utama dalam orkestrasi kebangsaan spesial bertajuk “Meradjoet Sendja”, sebuah pertunjukan monumental yang menjadi puncak dari program Bakti Seniman Nusantara.

Wakil Ketua Pengurus Yayasan Dompet Dhuafa, Herdiansyah, menyampaikan hal tersebut saat acara peluncuran. “Program ini sudah berjalan sejak 2024, hingga kemarin kami juga berkolaborasi di wilayah Sumatera,” ujarnya, Jumat (14/8/2026).

Ia menegaskan bahwa tujuan utama kerja sama adalah menumbuhkan empati dan kepedulian terhadap sesama, terutama mereka yang memiliki keterbatasan, termasuk para seniman yang mulai kurang dikenal masyarakat.

“Filantropi sejati terlihat saat lampu mulai redup, saat mereka butuh dukungan dan penguatan,” tambahnya.

Baca jugaDompet Dhuafa Luncurkan Kebun Pangan Madaya, Gerakan Pemberdayaan Wujudkan Ketahanan Pangan Berkelanjutan

Herdiansyah juga menyampaikan bahwa masyarakat Indonesia pada dasarnya memiliki jiwa dermawan yang tinggi. Hal ini terlihat dari kebiasaan saling membantu dalam kehidupan sehari-hari.

“Dompet Dhuafa saat ini mengelola dana sosial masyarakat sebesar sekitar Rp400 miliar. Melalui kolaborasi ini, juga diluncurkan program Dana Sosial, di mana setiap tiket penayangan film yang terjual akan ikut membantu saudara-saudara yang membutuhkan, ” ujarnya.

Film “Meradjoet Sendja” ini diproduseri sekaligus disutradarai oleh aktris dan seniman Olivia Zalianty, pertunjukan ini hadir sebagai upaya merajut kembali benang-benang perjuangan para pendiri bangsa serta nilai-nilai luhur kebangsaan, agar terus hidup dan diwariskan kepada generasi penerus.

“Ini adalah panggilan hati untuk menyambungkan kembali benang perjuangan yang sempat terpisah. Saya ingin penonton merasakan bahwa nilai-nilai para pendiri bangsa dan seniman masih hidup, dan wajib dibawa melangkah ke masa depan. Ini adalah persembahan cinta saya dan suami, KGPH Ndaru Kusumo, untuk Republik Indonesia,” ungkap Olivia.

Baca jugaDompet Dhuafa Gulirkan BesTeam Sama Yatim, Ajak Masyarakat Dorong Anak Yatim Berdaya

Pemilihan ejaan kuno “Sendja” dan kata “Meradjoet” bukanlah kebetulan. Secara artistik, ejaan tersebut membawa nuansa kembali ke masa awal kemerdekaan, menguatkan makna bahwa senja adalah masa peralihan, saat cahaya mungkin meredup, namun warisan tetap abadi. “Meradjoet” berarti menyambung kembali benang pemikiran yang terpisah, sedangkan “Sendja” bermakna ganda yakni masa penghujung perjuangan para tokoh, sekaligus pintu menuju hari esok yang lebih cerah.

“Secara keseluruhan, judul ini mengajak kita menyatukan kembali ingatan, gagasan, dan perjuangan agar tidak tenggelam bersama senja, melainkan diteruskan ke masa depan,” kata Olivia.

Pertunjukan yang digelar Rabu, 26 Agustus di Gedung Kesenian Jakarta ini juga menjadi titik puncak program Bakti Seniman Nusantara – Social Funds of Art & Culture, yang didukung penuh PARFI 56 dan bekerja sama dengan Dompet Dhuafa.

Sebagai Produser Eksekutif sekaligus Ketua Umum PARFI 56, Marcella Zalianty menegaskan bahwa pertunjukan ini adalah wujud nyata visi organisasi. “PARFI hadir bukan hanya sebagai pendukung, melainkan penggerak agar seniman dan pekerja film, baik senior maupun muda memiliki ruang berkarya dan dihormati. Meradjoet Sendja membuktikan bahwa cinta pada profesi dan bangsa harus diperjuangkan bersama, bukan sendiri-sendiri,” ujar Marcella.

Baca jugaLebih Dari Tiga Dekade, Dompet Dhuafa Salurkan Ratusan Hewan Hingga Pelosok Negeri dan Luar Negeri

Marcella juga menambahkan bahwa acara ini menjadi ruang kolaborasi yang bermanfaat luas, tak hanya bagi sesama seniman, tetapi juga bagi kemajuan kebudayaan dan pemberdayaan masyarakat. Ia menyoroti pentingnya perhatian terhadap kondisi seniman senior Indonesia sebagai salah satu alasan lahirnya pertunjukan ini.

Di atas panggung, deretan talenta profesional siap menghidupkan kisah kebangsaan, antara lain Arswendy Bening Swara, Tanta Ginting, Fryda Lucyana, Isyana Sarasvati, Lutfi Ardiansyah, Edopaha, Jane Callista, Shanna Shannon, dan Ridho Rokhanah. Mereka didukung tim artistik berpengalaman serta paduan suara berjumlah 200 orang.

Orkestrasi ini terbagi menjadi empat babak penuh makna. Babak I “Fajar Nusantara” menggambarkan kelahiran alam Nusantara serta dialog antara Soekarno dan Hatta. Babak II “Tanah Pengasingan” menyajikan perenungan para tokoh saat masa pembuangan yang melahirkan Pancasila. Babak III “Bahasa Keberanian” menampilkan monolog Siti Soendari tentang perjuangan menetapkan Bahasa Indonesia.

Puncaknya pada Babak IV “Pertemuan Satu Malam”, hadir pertemuan Soekarno dan Tan Malaka dengan dua jalan pandangan yang berbeda, ditutup dengan monolog Soekarno di senja usianya. Pertunjukan berakhir dengan momen menyentuh yakni 500 pelajar memenuhi ruang auditorium menyanyikan lagu “Pancasila” secara bersama-sama, lambang estafet nilai kebangsaan kepada generasi penerus.

Baca jugaDompet Dhuafa Hidupkan Suasana Tarawih Pasca Bencana Banjir Di Pidie Jaya

Arswendy Bening Swara, aktor senior yang telah berkarier sejak 1982, mengaku tergerak bergabung karena nilai-nilai yang diusung. “Pertunjukan ini adalah pengingat agar kita tidak melupakan sejarah. Menghidupkan tokoh sejarah di panggung adalah tantangan besar, karena kita harus membangkitkan kembali semangat mereka di hadapan generasi masa kini,” ujarnya.

Selain sebagai panggung seni, Meradjoet Sendja juga membawa misi kemanusiaan. Seluruh hasil penjualan tiket akan disumbangkan sepenuhnya melalui Dana Sosial PARFI 56 dan Dompet Dhuafa, untuk membantu seniman dan budayawan lanjut usia serta kaum dhuafa yang membutuhkan.

Yudi Latif, Ketua Dewan Pembina Yayasan Dompet Dhuafa Republika, memuji sinergi ini. “Perpaduan jiwa PARFI yang berbudaya dan Dompet Dhuafa yang memberdayakan sangat tepat. Pendekatan kultural dalam kemanusiaan akan lebih menggugah hati, dan mampu menyalakan lilin harapan bagi Indonesia,” katanya.

Acara ini membatasi jumlah penonton sebanyak 500 kursi terkurasi di Gedung Kesenian Jakarta. Tiket dapat dipesan melalui mitra resmi Loket.com, dan informasi lebih lanjut tersedia melalui akun media sosial resmi @parfi56.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *