Satusuaraexpress.co | Bogor – Wakil Menteri Kesehatan (Wamenkes), dr. Benjamin Paulus Octavianus bersama Wali Kota Bogor, Dedie A. Rachim, Wakil Wali Kota Bogor, Jenal Mutaqin, Wakil Ketua II DPRD Kota Bogor, M. Zainal Abidin, Kepala Dinas Kesehatan Kota Bogor, serta Lurah Pasir Jaya, secara resmi menandatangani dukungan komitmen bersama dalam upaya pencegahan dan penanggulangan penyakit Tuberkulosis (TBC) di wilayah setempat.
Dalam kesempatan tersebut, dr. Benjamin mengingatkan bahwa Indonesia merupakan salah satu negara dengan beban kasus TBC tertinggi di dunia. Sekitar 10 persen dari total kasus TBC global berada di Indonesia, yang menempatkan negara ini pada urutan kedua secara internasional. Data menunjukkan, pada tahun 2020 tercatat sekitar 824 ribu kasus dengan capaian penemuan kasus baru sebesar 48 persen.
“Angka ini meningkat pada tahun 2025, di mana diperkirakan terdapat 1.090.000 kasus dengan keberhasilan pengobatan mencapai 80 persen, ” kata dr. Benjamin, Kamis (30/7/2026).
Khusus untuk Kota Bogor, perkiraan jumlah kasus TBC sepanjang tahun 2025 hingga 2026 mencapai sekitar 18 ribu kasus. Oleh karena itu, peran aparatur wilayah dinilai sangat vital untuk mengajak masyarakat, terutama mereka yang tinggal satu rumah dengan penderita TBC, memanfaatkan layanan Cek Kesehatan Gratis (CKG).
Baca juga : Pembangunan Kota Bogor Kini Didukung Pembiayaan Kreatif, Tak Lagi Hanya Mengandalkan APBD
“TBC adalah penyakit menular. Orang yang serumah dengan penderita wajib diperiksa. Selama ini yang diobati hanya yang sakit, padahal yang belum bergejala bisa saja menjadi pasien di tahun mendatang. Tahun ini kita alokasikan anggaran untuk CKG di 10.930 titik se-Jawa Barat, dan 400 di antaranya ada di Kota Bogor,” ujar dr. Benjamin.
Pemeriksaan ini bertujuan memastikan seluruh kontak erat pasien TBC terdeteksi dini. Bagi yang memenuhi kriteria, akan diberikan Terapi Pencegahan Tuberkulosis (TPT) secara rutin sebanyak 12 kali pemberian untuk menekan perkembangan kuman penyakit. Agar target pemeriksaan selesai dalam 100 hari, dibutuhkan tambahan empat hingga lima unit alat rontgen atau X-Ray.
“Kenaikan angka kasus di tahun depan justru menandakan penemuan kasus yang lebih optimal. Namun di tahun-tahun selanjutnya kita optimis angka akan turun, karena mereka yang berisiko sudah mendapat perlindungan sejak dini,” tambahnya.
Baca juga : Di Tengah Tantangan Fiskal, Pemkab Bogor Tetap Utamakan Pelayanan Dasar dan Pembangunan Merata
Wamenkes juga mengajak Camat dan Lurah untuk turun langsung mengajak warga yang berisiko melakukan pemeriksaan, serta melibatkan dukungan pihak swasta agar 400 lokasi layanan CKG di Kota Bogor dapat berjalan maksimal.
Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Kota Bogor, Erna Nuraena menjelaskan kegiatan penelusuran kasus TBC akan disatukan dalam program CKG Smart. Pelaksanaannya direncanakan mulai awal Agustus hingga November 2026, menyasar total 23.200 orang yang tersebar di 68 kelurahan. Pemeriksaan akan dilaksanakan di 232 titik khusus, dengan masing-masing lokasi melayani sekitar 100 warga.
“Keberhasilan program ini sangat bergantung pada kerja sama lintas sektor, mulai dari tenaga kesehatan, aparatur wilayah, kader kesehatan, hingga pemangku kepentingan lainnya, agar penemuan kasus aktif berjalan terintegrasi dengan baik,” ungkap Erna.
Ia juga memaparkan sejumlah tantangan yang dihadapi, antara lain koordinasi penelusuran kontak yang belum merata, penanganan pasien yang berasal dari luar wilayah Kota Bogor, keterbatasan sumber daya manusia serta sarana prasarana, pemahaman masyarakat yang masih rendah, hingga stigma negatif terhadap penderita TBC.
“Penandatanganan komitmen ini diharapkan menjadi langkah nyata memperkuat kolaborasi demi mewujudkan Kota Bogor yang bebas dari ancaman TBC, ” tutupnya.













