Satusuaraexpress.co | Jakarta — Sebuah video berisi pengakuan dari Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Hukum Universitas Bung Karno (UBK) Jakarta, Muhammad Abdi Maludin, menyebar luas dan menjadi perbincangan hangat di masyarakat.
Dalam rekaman yang menjadi viral itu, ia dengan gamblang menceritakan peristiwa yang terjadi sebelum dan sesudah aksi demonstrasi yang digelar di kawasan Istana Negara pada 15 Juni 2026 silam.
Menurut penuturannya, Abdi menyatakan bahwa ia pernah menerima uang tunai yang diduga ditujukan sebagai suap. Uang tersebut ditawarkan dengan harapan agar ia dan rekan-rekannya membatalkan niat untuk turun ke jalan melakukan aksi. Namun meski tawaran tersebut diterima, ia menegaskan bahwa aksi demonstrasi tetap berjalan sebagaimana yang telah direncanakan.
“Perkara uang itu, saya diberi cash, agar tidak turun ke Istana Negara tetapi teman-teman tetap turun,” ujarnya di hadapan hadirin yang terdiri dari sesama mahasiswa dan civitas akademika kampus.
Baca juga : Ratusan Mahasiswa BEM UI Gelar Aksi Unjuk Rasa di Depan Gedung Baharkam Polri
Lebih jauh, Abdi menjelaskan bahwa pada awalnya ia menolak sejumlah tawaran uang yang datang dari berbagai pihak. Ia baru kemudian menerima dana tersebut, yang menurut klaimnya berasal dari pihak kepolisian, dengan tujuan agar gerakan mahasiswa tidak dilangsungkan baik di depan Istana Negara maupun di Gedung Dewan Perwakilan Rakyat.
Namun, ia menekankan bahwa keputusan untuk tetap menggelar aksi tidak berubah meski dana tersebut sudah ada di tangannya.
Dalam penjelasannya, ia juga menyebut adanya keterlibatan alumni Fakultas Hukum dalam proses penawaran dan penyerahan uang tersebut. Salah satu hal yang ditekankannya adalah bahwa pembagian dana baru dilakukan setelah aksi demonstrasi selesai dilaksanakan.
“Memang sejak sebelum aksi sudah banyak yang memberi uang, tapi saya menolak,” tambahnya.
Baca juga : Hari Ini BEM UI Akan Gelar Aksi Demo, Tagih Jawaban Tuntutan 17+8
Setelah aksi berlangsung di sepanjang Jalan Medan Merdeka Selatan, situasi berlanjut ke momen pertemuan yang lebih tinggi. Abdi bersama sejumlah perwakilan mahasiswa akhirnya diterima secara langsung oleh Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka di lingkungan Istana Negara pada hari yang sama. Pertemuan ini menjadi ruang bagi para mahasiswa untuk menyampaikan aspirasi dan tuntutan mereka secara langsung kepada pemimpin negara.
Dalam pertemuan tersebut, perwakilan mahasiswa memberikan batas waktu selama lima hari kepada pemerintah untuk menindaklanjuti apa yang mereka sampaikan. Tuntutan yang disampaikan berfokus pada dua bidang utama, yaitu fiskal dan pendidikan.
Mereka meminta agar pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) dibekukan sementara waktu, serta kebijakan deputi kedaulatan pangan di daerah diaudit secara terbuka dan transparan.
Selain itu, para mahasiswa juga mengusulkan agar anggaran yang dihemat dari langkah efisiensi tersebut dialihkan untuk memberikan subsidi pada biaya operasional perguruan tinggi. Harapannya, langkah ini dapat meringankan beban mahasiswa dan mewujudkan sistem pendidikan tinggi yang lebih terjangkau dan dapat diakses oleh semua kalangan.













