Satusuaraexpress.co | Jakarta — Selama tiga bulan terakhir, wilayah Jakarta Barat mencatat perkembangan yang menggembirakan dalam penanganan Demam Berdarah Dengue (DBD). Data yang dirilis oleh Suku Dinas Kesehatan setempat menunjukkan penurunan jumlah kasus yang cukup signifikan.
Pada bulan April 2026, tercatat sebanyak 335 orang terjangkit penyakit ini. Angka itu terus menyusut menjadi 197 kasus di bulan Mei, dan hingga tanggal 4 Juni 2026 pukul 09.00 WIB, hanya tercatat satu kasus baru yang dilaporkan.
Meski tren penurunan ini memberikan angin segar, Kepala Suku Dinas Kesehatan Jakarta Barat, Sahruna, mengingatkan masyarakat untuk tidak berpuas diri atau menjadi lengah. Ia menegaskan bahwa kondisi lingkungan dan cuaca saat ini masih menyimpan potensi risiko yang cukup besar.
“Tingkat kelembaban dan suhu udara di wilayah tersebut masih berada dalam rentang yang sangat ideal bagi pertumbuhan dan perkembangbiakan nyamuk Aedes aegypti, pembawa virus penyebab DBD, ” kata Sahruna, Selasa (23/6/2026).
Baca juga : Pemkot Jakarta Barat Intruksikan Warga Berantas Kasus DBD Rutin Dua Kali Seminggu
Berdasarkan perkiraan yang disampaikan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) untuk bulan Juni 2026, rata-rata kelembaban udara di Jakarta Barat mencapai 80 persen. Angka ini persis berada di tengah rentang optimum yang dibutuhkan nyamuk untuk berkembang biak, yaitu antara 71 hingga 83 persen.
Sementara itu, suhu udara diprediksi bergerak di kisaran 24 hingga 31 derajat Celsius, yang sangat mendekati suhu ideal pertumbuhan nyamuk, yakni 25 hingga 27 derajat Celsius. Kondisi ini membuat siklus hidup nyamuk berjalan lebih cepat dan peluang penularan penyakit menjadi lebih terbuka.
Tidak hanya itu, BMKG juga memproyeksikan bahwa Angka Insiden DBD bulanan berpotensi mencapai 7,6 kasus per 100.000 penduduk jika upaya pencegahan tidak dipertahankan dengan baik. Menyikapi perkiraan tersebut, seluruh Puskesmas di Jakarta Barat telah memperketat langkah pengawasan.
Baca juga : Kasus DBD di Jakarta Barat Tertinggi se-DKI, Rekan Indonesia Dorong Pemkot Atasi ini
“Pemantauan secara berkala terhadap pola penyebaran dan kecepatan penularan penyakit terus dilakukan di lapangan. Apabila ditemukan tanda-tanda peningkatan risiko, penanganan cepat melalui Penyelidikan Epidemiologi segera dilaksanakan, ” ujarnya.
Upaya pengendalian juga difokuskan pada penguatan gerakan Pemberantasan Sarang Nyamuk atau yang dikenal sebagai PSN 3M Plus. Petugas kesehatan secara rutin memeriksa keberadaan jentik nyamuk di lingkungan pemukiman, sekaligus menyebarkan informasi mengenai bahaya DBD dan cara pencegahannya kepada warga.
Sahruna menekankan bahwa keberhasilan jangka panjang dalam mengendalikan penyakit ini sangat bergantung pada kesadaran setiap individu. Deteksi dini terhadap keberadaan sarang nyamuk menjadi kunci utama, dan hal ini hanya dapat berjalan efektif jika dilakukan secara terus-menerus.
Baca juga : Komisi A DPRD DKI, Minta Dinkes DKI Pro Aktif Untuk Kasus DBD di DKI
Oleh karena itu, peran aktif masyarakat sangat diharapkan, terutama dengan melaksanakan tugas sebagai Juru Pemantau Jentik atau Jumantik di lingkungan tempat tinggal masing-masing.
“Jangan sampai penurunan kasus yang sudah dicapai membuat kita lengah. Selama kondisi cuaca masih mendukung, maka upaya membersihkan tempat penampungan air, menutup wadah, dan memanfaatkan kembali barang bekas harus terus dilakukan setiap hari. Dengan kerja sama semua pihak, risiko peningkatan kasus DBD dapat dicegah secara maksimal,” tegasnya.













