IHSG Rontok Tajam: Tekanan Global dan Pelemahan Rupiah Picu Aksi Jual Masif

IHSG 960085971
Ilustrasi.

Satusuaraexpress.co | Jakarta — Pasar saham Indonesia kembali diwarnai gejolak hebat pada sesi pertama perdagangan hari ini. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tercatat merosot tajam sebanyak 252 poin atau setara 3,76%, hingga berada di level 6.470. Penurunan drastis ini menjadi cerminan tekanan berat yang menimpa pasar modal domestik, seiring memburuknya sentimen global dan melemahnya nilai tukar rupiah secara signifikan.

Berdasarkan catatan riset dari Pilarmas Investindo Sekuritas, pergerakan IHSG yang melemah ini berjalan beriringan dengan koreksi yang terjadi pada mayoritas indeks saham di kawasan Asia. Hal ini merupakan dampak langsung dari aksi jual besar-besaran yang melanda bursa Wall Street pada akhir pekan lalu, yang kemudian menular ke pasar-pasar saham lain di dunia. Di balik ketidakpastian pasar global tersebut, terdapat ketegangan geopolitik yang kian memanas di kawasan Timur Tengah.

Ketegangan itu semakin terasa setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, kembali mengeluarkan peringatan keras terhadap Iran. Hubungan antara Washington dan Teheran disebut masih menemui jalan buntu, sehingga memicu kekhawatiran luas bahwa Selat Hormuz jalur lalu lintas perdagangan energi yang sangat vital tetap tertutup dan mengganggu aliran pasokan minyak dunia.

Baca jugaPerkara di PN Jakut Bergulir, KAKI Dorong BEI Bekukan Saham CMNP

Kekhawatiran ini makin memuncak setelah beredar laporan mengenai adanya serangan terhadap sejumlah fasilitas energi di wilayah Teluk Persia yang terjadi selama akhir pekan kemarin. Kondisi ini membuat para pelaku pasar memilih untuk bersikap sangat berhati-hati dan waspada dalam mengambil keputusan investasi.

Selain faktor geopolitik, bayang-bayang perlambatan ekonomi dari China juga turut memperburuk suasana pasar. Data ekonomi yang dirilis menunjukkan perlambatan yang lebih dalam dari perkiraan. Pada April 2026, produksi industri China hanya tumbuh 4,1% secara tahunan, angka ini jauh melambat dibandingkan capaian bulan Maret yang sebesar 5,7% dan berada di bawah ekspektasi pasar yang memprediksikan pertumbuhan hingga 5,9%.

Tak hanya itu, kinerja penjualan ritel China juga tercatat sangat lemah, hanya naik 0,2% secara tahunan. Angka ini jauh tertinggal dibandingkan kenaikan yang tercatat pada bulan sebelumnya sebesar 1,7%.

Menurut analisis Pilarmas, gabungan antara dampak perang tarif yang terjadi secara global dan konflik yang berkepanjangan di Timur Tengah memiliki potensi besar untuk semakin menekan laju pertumbuhan ekonomi China. Padahal, negara tersebut dikenal sebagai salah satu motor penggerak ekonomi dunia, sehingga perlambatannya pasti akan berdampak luas pada perekonomian negara lain, termasuk Indonesia.

Baca jugaKasus Penggelapan Saham PT Bososi Pratama Masuk Babak Baru: Polisi Tetapkan Tersangka dan Terbitkan DPO

Dari sisi dalam negeri, gejolak di pasar keuangan terasa semakin kuat seiring dengan anjloknya nilai tukar rupiah. Mata uang garuda kini telah menembus angka psikologis Rp 17.600 per satu dolar Amerika Serikat. Pelemahan ini memicu reaksi negatif dari para pelaku pasar, terutama karena sejumlah pernyataan yang disampaikan oleh pihak pemerintah terkait kondisi rupiah dinilai belum cukup untuk memberikan kepastian maupun keyakinan akan stabilitas ekonomi nasional.

“Pasar melihat pentingnya komitmen kuat pemerintah dan otoritas dalam menjaga stabilitas nilai tukar serta membangun kembali kredibilitas fundamental ekonomi Indonesia,” tulis Pilarmas dalam catatan risetnya.

Pergerakan saham individu pada sesi pagi ini pun menunjukkan ketimpangan yang cukup nyata. Di tengah mayoritas saham yang tertekan, hanya sedikit emiten yang mampu bertahan dan mencatat kenaikan. Saham-saham yang tercatat sebagai penguat terbesar antara lain adalah BLUE, BPTR, ABDA, LABS, dan GSMF. Sebaliknya, tekanan berat menimpa saham-saham seperti DSSA, TPIA, AMMN, APIC, dan KONI, yang tercatat sebagai emiten dengan pelemahan terdalam pada sesi pertama hari ini.

Meski suasana pasar sedang diliputi ketidakpastian dan tekanan jual yang kuat, Pilarmas Investindo Sekuritas tetap memberikan rekomendasi perdagangan untuk sesi kedua. Salah satu saham yang disarankan untuk dibeli adalah saham PT Astra International Tbk (ASII). Analis menempatkan peringkat ‘beli’ untuk saham ini, dengan catatan area dukungan (support) berada di angka 5.725 dan area penolakan (resistance) berada di kisaran 6.050.

Kondisi pasar saat ini menuntut kewaspadaan tinggi dari seluruh pelaku pasar, mengingat arah pergerakan harga saham masih sangat bergantung pada perkembangan situasi geopolitik di Timur Tengah, kebijakan ekonomi negara-negara besar, serta langkah nyata otoritas dalam menstabilkan nilai tukar rupiah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *