Satusuaraexpress.co | Jakarta — Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) RI, Suyudi Ario Seto, didampingi Sekretaris Utama, melaksanakan audiensi strategis dengan Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Dadan Hindayana, di kantor BGN.
Pertemuan tersebut fokus pada pembahasan integrasi Program Makan Bergizi Gratis (MBG) sebagai instrumen penting dalam memperkuat resiliensi nasional dalam menghadapi ancaman penyalahgunaan dan peredaran gelap narkotika.
Dalam kesempatan tersebut, Kepala BNN RI menyampaikan apresiasi atas terlaksananya pertemuan yang dianggap memiliki nilai strategis. Ia menegaskan bahwa Program MBG memiliki keselarasan visi yang erat dengan program unggulan BNN yaitu ANANDA BERSINAR, khususnya dalam upaya membangun fondasi Generasi Emas 2045 yang sehat secara fisik dan mental, berkarakter baik, serta memiliki daya tangkal yang kuat terhadap pengaruh negatif sejak masa usia dini.
Baca juga : BNN Resmikan Layanan Call Center 184 untuk Perkuat Akses Layanan Terkait Narkotika
“Pemenuhan gizi optimal adalah fondasi fisik esensial untuk memperkuat resiliensi kognitif anak. Dengan tubuh dan otak yang sehat, anak-anak Kita akan memiliki benteng alami untuk menolak ancaman narkotika di masa depan,” paparnya.
Lebih lanjut, Kepala BNN RI menjelaskan urgensi sinergi antara kedua lembaga, dengan merujuk pada data prevalensi narkotika tahun 2025 yang mencapai 2,11 persen atau setara dengan 4,1 juta jiwa di seluruh Indonesia. Menurut tinjauan kriminologi sosial, kemiskinan dan kerentanan ekonomi seringkali dieksploitasi oleh sindikat narkotika untuk merekrut calon pengguna atau pelaku peredaran.
“Oleh karena itu, kehadiran Program MBG di kawasan rawan dianggap mampu menjadi instrumen mitigasi yang efektif untuk mengurangi faktor risiko tersebut, ” tuturnya.
Baca juga : BNN RI Musnahkan Barang Bukti Narkotika 104 Kilogram dan 990 Mililiter MDMB-4EN-PINACA
Sebagai bentuk komitmen nyata dalam mendukung program gizi nasional, BNN menawarkan pemanfaatan seluruh instansi vertikal yang tersebar di 34 provinsi dan 182 kabupaten/kota untuk memfasilitasi pembangunan infrastruktur pelayanan gizi.
Selain itu, BNN juga mengusulkan ide inovatif berupa penyisipan pesan literasi pencegahan narkotika melalui media seperti stiker atau embos pada wadah makanan (ompreng) yang digunakan dalam Program MBG.
Tak hanya itu, Kepala BNN RI juga menekankan pentingnya pemanfaatan ekosistem Satuan Pelayanan Program Gizi (SPPG) sebagai sarana reintegrasi sosial bagi penyintas narkoba.
“Kami berharap para penyintas yang telah pulih dapat diberdayakan di SPPG agar mereka kembali produktif dan terhindar dari fase kekambuhan (relapse),” tambahnya.
Kepala BGN, Dadan Hindayana, dengan antusias menyambut tawaran kolaborasi yang diajukan BNN. Ia memberikan atensi khusus terhadap ketersediaan 88 lokasi aset milik BNN yang sangat potensial untuk segera diintegrasikan menjadi titik SPPG.
“Target besar Kami adalah membangun 24.362 titik SPPG di 514 kabupaten/kota di seluruh Indonesia. Realisasi skala besar ini mutlak membutuhkan sinergi lintas sektoral, termasuk dukungan operasional dari BNN,” jelasnya.
Sebagai langkah awal yang konkret, kedua lembaga sepakat untuk menginisiasi kolaborasi pengembangan SPPG di tiga wilayah awal, yaitu Jakarta Utara, Lido, dan Provinsi Banten. Kolaborasi ini diarahkan untuk menyerap tenaga kerja dari kelompok penyintas narkoba yang telah menyelesaikan program rehabilitasi, sehingga mereka dapat berkontribusi secara aktif dalam pengelolaan dan pelayanan di fasilitas SPPG.
Baca juga : Vape Sebagai Media Baru Konsumsi Narkoba, Peringatan Serius dari BNN RI
Selain pengembangan lokasi baru, kedua pihak juga sepakat untuk membangun ekosistem SPPG di kawasan yang selama ini memiliki stigma sebagai “kampung narkoba”, dengan tujuan utama untuk mentransformasikan wilayah tersebut menjadi kawasan yang mandiri, produktif, dan berdaya saing.
Untuk memastikan keberlanjutan dan terstrukturnya kerja sama, kedua belah pihak akan segera merumuskan dokumen Memorandum of Understanding (MoU) sebagai landasan kerja sama yang jelas dan berkesinambungan, baik di tingkat pusat maupun daerah.
Pertemuan strategis tersebut diakhiri dengan komitmen yang kuat dari kedua pihak untuk segera mengakselerasi koordinasi teknis melalui Wakil Kepala BGN dan jajaran staf khusus yang akan ditunjuk. Langkah ini ditempuh guna memastikan bahwa seluruh poin sinergi strategis yang telah disepakati dapat segera diimplementasikan dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat luas di Indonesia.













