Mobilisasi Nasional: Transformasi Kepemimpinan Prabowo dalam Krisis Sumatera

Screenshot 2025 12 19 13 32 46 11 6012fa4d4ddec268fc5c7112cbb265e7
Garuda AstaCita Nusantara (GAN) mengapresiasi langkah Presiden Prabowo Subianto yang memobilisasi kekuatan nasional secara masif dalam penanganan bencana di wilayah Sumatera.

​Jakarta, faktapers.id – Organisasi Garuda AstaCita Nusantara (GAN) memberikan apresiasi tinggi terhadap model kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto dalam menangani rangkaian bencana alam yang melanda wilayah Sumatera, mulai dari Aceh, Sumatera Utara, hingga Sumatera Barat. GAN menilai, respons pemerintah saat ini mencerminkan pergeseran paradigma dari manajemen bencana konvensional menuju Mobilisasi Kekuatan Nasional yang terintegrasi.

Ketua Umum GAN, Muhammad Burhanuddin, menyoroti keputusan strategis Presiden untuk menurunkan sedikitnya 50.000 personel gabungan TNI dan Polri. Angka ini setara dengan kekuatan 50 batalion tempur yang dialihfungsikan menjadi satuan tugas kemanusiaan.

​”Skala pengerahan ini belum pernah terjadi dalam sejarah penanganan bencana non-tsunami di Indonesia. Ini bukan lagi sekadar bantuan regional, melainkan operasi skala nasional,” ujar Burhanuddin.

​Menurut analisis GAN, kekuatan ini memberikan dampak psikologis dan praktis di lapangan:

Kecepatan Evakuasi: Memastikan titik terisolasi dapat ditembus dalam hitungan jam, bukan hari.

​Logistik Terjamin: Distribusi bantuan pangan dan medis melalui jalur udara dan darat yang dikawal ketat personel keamanan.

Pemulihan Infrastruktur: Penggunaan unit zeni TNI untuk perbaikan jembatan dan akses jalan yang terputus secara instan.

​Perang Melawan ‘Serakahnomics’: Menilik Akar Ekologis

Hal yang paling menonjol dari kebijakan Presiden Prabowo, menurut GAN, adalah keberanian mengombinasikan operasi kemanusiaan dengan penegakan hukum lingkungan.

Bersamaan dengan proses evakuasi, pemerintah menginstruksikan pemeriksaan ketat terhadap dugaan praktik pembalakan liar (illegal logging) di kawasan hulu.

Burhanuddin memperkenalkan istilah “Serakahnomics” untuk menggambarkan praktik ekonomi eksploitatif yang menjadi biang keladi bencana.

​”Presiden menyadari bahwa banjir dan longsor di Sumatera bukan sekadar fenomena alam biasa, melainkan dampak dari ‘Serakahnomics’—sebuah sistem yang mengejar profit singkat dengan mengorbankan daya dukung ekologi. Langkah hukum terhadap perusak hutan saat bencana berlangsung adalah pesan kuat: tidak ada kompromi bagi perusak lingkungan,” tegas Burhanuddin.

Visi Rehabilitasi dan Keberlanjutan Ekonomi

Pasca-tanggap darurat, GAN mendorong pemerintah untuk tetap konsisten pada tahap rehabilitasi. Fokus utama yang diusulkan meliputi:

Restorasi Mata Pencaharian: Mengaktifkan kembali sektor pertanian dan perkebunan rakyat yang terdampak melalui skema bantuan modal dan bibit.

Infrastruktur Berketahanan: Membangun kembali sarana ekonomi yang lebih adaptif terhadap risiko perubahan iklim.
​Pola Kebijakan Tetap: Menjadikan koordinasi lintas lembaga ini sebagai cetak biru (blueprint) standar penanganan krisis di masa depan.

​”Kita tidak boleh terjebak dalam siklus bencana yang sama. Langkah Presiden Prabowo saat ini adalah pondasi penting. Saatnya seluruh elemen bangsa bahu-membahu membangun kembali Sumatera, tidak hanya fisiknya, tapi juga ketahanan ekonominya,” pungkasnya.

[]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *