Sensasi Meredup, Pasar Padel di Swedia Dihantui Kebangkrutan

Screenshot 2025 0923 102526
Ilustrasi Padel.

Satusuaraexpress.co | Jakarta — Pasar padel di Swedia dihantui kebangkrutan setelah sensasi meredup hingga peminatnya diklaim mulai jenuh. Berita mengejutkan datang dari raksasa Swedia, We Are Padel, yang mengajukan restrukturisasi perusahaan dan kemungkinan harus menutup setengah dari 80 lokasinya. CEO We Are Padel, Christoffer Lilja, mengundurkan diri dari jabatannya dan pendirinya, Pontus Gustafsson, menyebutkan “tantangan profitabilitas di pasar yang sangat kompetitif.”

Melansir Bloomberg, We Are Padel dalam laporan pada 2023 hanya menyisakan 13 klub. Pemiliknya mencatat kerugian sebesar 716 juta kronor Swedia ($65 juta) pada tahun 2022, didorong oleh penurunan nilai aset yang besar.

Perusahaan lain, PDL United, yang didukung oleh Coeli Private Equity, telah bangkrut dan asetnya kini dikendalikan oleh para kreditor. Eno Polo, CEO grup padel Eropa Triton, LeDap, di mana We Are Padel merupakan bagian penting dari jejaknya di Swedia, menggambarkan ledakan ekonomi di negara itu sebagai “demam emas”, dan mengaitkannya dengan gelembung properti baru-baru ini.

Baca juga : KemenP2MI Dorong Transformasi Penempatan Pekerja Migran Indonesia

Adapun industri padel di Swedia bermula pada 2020-2021 saat awal pandemi, ketika orang-orang menemukan olahraga yang ramah Covid dan diizinkan untuk dimainkan dengan aturan jaga jarak sosial. Saat itu padel meledak ketika orang-orang memiliki banyak waktu luang untuk bermain dan lapangan selalu penuh sepanjang hari.

Beberapa tahun yang lalu, Swedia disebut-sebut memiliki 700.000 pemain padel dari total populasi 10 juta jiwa. Namun, seiring pelonggaran pembatasan Covid dan kembalinya para pekerja ke kantor, orang-orang memiliki lebih sedikit waktu untuk bermain dan lapangan padel menjadi lebih sulit terisi, terutama di luar jam sibuk.

Padel pun sempat disebut sebagai olahraga nasional baru yang berujung pada terbukanya bisnis baru. Namun memasuki 2022, krisis mulai menghantui bisnis padel. Pusat-pusat padel di negara Nordik kini telah berubah menjadi gudang dan toko kelontong murah setelah ledakan olahraga raket itu berubah menjadi kegagalan.

Baca juga : Calon Hakim Agung Jalani Tes Kelayakan dan Kepatutan, Dicecar Pertanyaan Terkait Restoratif dan Hukiman Mati Ferdy Sambo

Hampir 90 perusahaan padel telah mengajukan kebangkrutan pada 2023, menurut data dari lembaga referensi kredit Creditsafe. Bayang-bayang kebangkrutan, salah satunya di Swedia, disebabkan karena persaingan yang semakin ketat, inflasi yang melonjak, dan menurunnya minat dari kelas menengah.

Kemudian di Vasteras, sekitar seratus kilometer di sebelah barat ibu kota Stockholm, bekas pusat padel kini sedang dialihfungsikan menjadi toko kelontong di bawah merek Willys milik Axfood AB.

Gedung-gedung lainnya telah dialihfungsikan menjadi gudang panel surya dan ban. Meskipun dibayang-bayangi kebangkrutan, para analis masih memproyeksikan masa depan yang cerah untuk olahraga ini.

Sebuah laporan riset dari Deloitte memperkirakan nilai ekosistem padel saat ini sekitar 2 miliar euro dan diperkirakan akan melampaui 4 miliar euro ($4,3 miliar) pada tahun 2026, karena jumlah lapangan di seluruh dunia diproyeksikan akan berlipat ganda menjadi 85.000.

Peluang global ini telah memberikan harapan bagi beberapa pengusaha Swedia. Pendiri Spotify Technology SA, Martin Lorentzon, mendukung pusat padel yang dibuka di Canary Wharf, London, pada akhir Agustus, dengan Inggris Raya disebut-sebut sebagai salah satu negara di mana olahraga ini dapat berkembang pesat di tahun-tahun mendatang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *