Jakarta, Satusuaraexpress.co – Pramuka di Indonesia memiliki sejarah panjang, dimulai saat Presiden Republik Indonesia pertama Soekarno yang menyerahkan Panji Gerakan Pramuka kepada Sri Sultan Hamengku Buwono IX. Pada momen tersebutlah sejarah ditetapkannya Hari Pramuka Indonesia.
Hal tersebut tertuang dalam Keputusan Presiden Nomor 238 Tahun 1961 tentang Gerakan Pramuka. Momen tersebut juga dikenal sebagai Hari Permulaan Tahun Kerja.
Namun sebelum sampai pada peristiwa penting itu, Indonesia memiliki sejarah yang panjang tentang gerakan kepanduan tersebut. Berikut rangkaian sejarahnya seperti dikutip dari situs resmiĀ Pramuka.
Gerakan kepanduan muncul di Indonesia sejak masa penjajahan Belanda, tepatnya pada 1912. Kala itu, Belanda memiliki gerakan kepanduan yang bernama Nederlandsche Padvinders Organisatie (NPO).
Pada 1914, gerakan kepanduan tersebut akhirnya terpisah dari NPO dan berdiri sendiri dengan nama Nederlands-Indische Padvinders Vereeniging (NIPV) alias Persatuan Pandu-Pandu Hindia Belanda.
Saat itu, gerakan kepanduan tersebut berisi orang-orang keturunan Belanda saja sehingga tak ada masyarakat Indonesia yang ikut dalam gerakan tersebut.
Terbentuknya Gerakan Kepanduan Bumiputera
Perkembangan gerakan kepanduan asal Belanda memicu terbentuknya gerakan kepanduan yang berisi bumiputera, yaitu Javaansche Padvinders Organisatie.
Gerakan kepanduan bumiputera ini diinisiasi oleh Pemimpin Keraton Solo Mangkunegara VII. Setelah itu, muncul berbagai organisasi kepanduan di Tanah Air yang berbasis agama, suku, dan lainnya sebagai berikut.
Padvinder Muhammadiyah (Hizbul Wathan)
Nationale Padvinderij
Syarikat Islam Afdeling Pandu
Kepanduan Bangsa Indonesia
Indonesisch Nationale Padvinders Organisatie
Pandu Indonesia
Padvinders Organisatie Pasundan
Pandu Kesultanan
El-Hilaal
Pandu Ansor
Al Wathoni
Tri Darma Kristen
Kepanduan Asas Katolik Indonesia
Kepanduan Masehi Indonesia
Indonesia Ikut Jambore Kepanduan Dunia
Berbagai gerakan kepanduan yang muncul membuat bidang kepanduan berkembang pesat di Indonesia. Bahkan, sampai menarik perhatian dari Bapak Pandu Dunia Lord Baden-Powell.
Kala itu, Powell sempat mengunjungi beberapa organisasi kepanduan di Batavia, Semarang, dan Surabaya pada 1934.
Bahkan, perwakilan gerakan kepanduan Indonesia sempat mengikuti Jambore Kepanduan Dunia di Belanda pada 1937.
Kemudian, Indonesia juga mendirikan Perkemahan Kepanduan Indonesia Oemoem (All Indonesia Jambore) di Yogyakarta pada 19-23 Juli 1941.













