Pergantian Menteri Keuangan: Pasar Saham Merespons Positif, IHSG Berpotensi Menguat

image 1770341331
Ilustrasi bursa saham.

Satusuaraexpress.co | Jakarta — Pengangkatan Suahasil Nazara sebagai Menteri Keuangan untuk sisa masa jabatan Kabinet Merah Putih periode 2024–2029 secara resmi ditetapkan melalui Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 97/P Tahun 2026, yang ditandatangani Presiden Prabowo Subianto pada 14 September 2026.

Suahasil menggantikan Purbaya Yudhi Sadewa yang sebelumnya menjabat posisi tersebut. Pergantian ini disambut dengan sentimen positif dari pelaku pasar modal dalam negeri.

Henry Wibowo, Co-Founder Alphagate Capital dan mantan Kepala Strategi Indonesia di J.P. Morgan, menilai pengangkatan Suahasil cenderung diterima baik oleh pasar. Hal ini terutama karena Suahasil merupakan figur yang sangat dikenal investor dan memiliki rekam jejak panjang di Kementerian Keuangan. Latar belakangnya sebagai ekonom serta pengalamannya dalam menyusun kebijakan fiskal memberikan keyakinan bahwa kesinambungan kebijakan dan disiplin fiskal akan tetap terjaga.

“Reaksi pasar pada hari pengumuman menunjukkan perbaikan yang nyata. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang sempat turun hingga 2% berhasil memangkas hampir seluruh penurunannya setelah pengumuman pergantian Menteri Keuangan di akhir sesi perdagangan,” kata Henry.

Baca jugaGegar Bursa: Saham PIK 2 (PANI) Ambles Lebih dari 11% dalam Sepekan, Sentimen Pencabutan Status PSN oleh Pemerintah Picu Eksodus Investor

Sementara itu, pengamat pasar modal sekaligus Direktur Avere Investama, Teguh Hidayat, menyatakan bahwa selama menjabat, Purbaya Yudhi Sadewa terlalu sering memberikan komentar terkait pergerakan pasar saham, yang justru membuat pasar cenderung bergejolak.

“Dia memang disukai media dan masyarakat, tetapi kurang disukai pelaku pasar,” ujarnya.

Henry Wibowo menjelaskan bahwa sentimen terhadap aset Indonesia berpotensi membaik jika diikuti dengan sinyal kebijakan fiskal yang jelas, yang mencakup tiga hal utama. Pertama, komitmen menjaga defisit APBN tetap di bawah 3% dari PDB, kedua, keseimbangan antara program prioritas pemerintah dan kemampuan fiskal negara, di mana setiap peningkatan belanja harus memiliki sumber pembiayaan yang jelas, ketiga, penguatan koordinasi antara Kementerian Keuangan dan Bank Indonesia demi menjaga stabilitas rupiah, pasar obligasi, dan likuiditas perbankan.

“Jika ketiga hal tersebut dapat disampaikan dengan jelas dalam beberapa minggu ke depan, risiko premi Indonesia dapat menurun dan kepercayaan investor asing dapat pulih secara bertahap, ” ujarnya.

Baca jugaMenteri Keuangan Mulai Salurkan Dana Sebesar Rp200 Triliun ke Lima Bank Milik Negara

Dalam jangka pendek, IHSG berpotensi mengalami pemulihan dengan target awal di kisaran 6.700–6.800. Jika diikuti dengan penguatan rupiah, penurunan imbal hasil obligasi pemerintah, dan kembalinya arus modal asing, indeks berpeluang kembali menuju level 7.000.

Namun, pengangkatan menteri baru saja tidak cukup untuk mendorong penguatan yang berkelanjutan; pasar nantinya akan kembali menilai pelaksanaan kebijakan, pergerakan nilai tukar, harga minyak, imbal hasil obligasi pemerintah AS, serta perkembangan ekonomi global.

Teguh Hidayat memperkirakan IHSG dapat mencapai rentang 7.000–7.500 pada akhir tahun 2026. Sektor perbankan diprediksi menjadi yang paling cepat merespons positif pergantian ini, terutama empat bank besar yang menjadi sasaran utama investor asing.

Selain itu, bisnis terkait infrastruktur teknologi informasi dan pusat data juga diproyeksikan memiliki prospek pertumbuhan yang menjanjikan. Sebaliknya, sejumlah kebijakan Purbaya, seperti penahanan kenaikan cukai rokok pada tahun 2026, juga menjadi perhatian pasar dalam melihat arah kebijakan selanjutnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *