Satusuaraexpress.co | Jakarta — PT PLN (Persero) terus melangkah mantap memperkuat peran energi baru terbarukan melalui pengembangan pembangkit listrik tenaga air. Hingga Juli 2026, tercatat sekitar 9,2 gigawatt (GW) kapasitas Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) dan Pembangkit Listrik Tenaga Minihidro (PLTM) telah memasuki berbagai tahapan eksekusi. Angka itu setara dengan sekitar 79 persen dari total 11,7 GW kapasitas yang direncanakan dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025–2034.
Perkembangan proyek tersebut tersebar di beberapa tahapan kemajuan: sebanyak 410 megawatt (MW) masih dalam tahap kajian kelayakan, 6,8 GW memasuki tahap pengadaan, 1,4 GW sedang dalam pembangunan atau tahap konstruksi, dan sebanyak 570 MW telah resmi beroperasi melayani kebutuhan masyarakat.
Secara keseluruhan, pengembangan kapasitas sebesar 11,7 GW tersebut akan diwujudkan melalui 315 proyek yang dikembangkan PLN bersama mitra swasta, yakni penyedia listrik mandiri atau Independent Power Producer (IPP).
Karakteristik proyek yang beragam menuntut adanya kesatuan langkah dan kesinambungan kerja sama sejak tahap perencanaan hingga pelaksanaan di lapangan. Dalam hal ini, kolaborasi menyeluruh menjadi kunci utama agar pembangkit listrik tenaga air dapat berperan optimal sebagai pilar ketahanan energi nasional sekaligus pendorong transisi energi bersih di Indonesia.
Baca juga : Minat Pengisian Daya Kendaraan Listrik di Rumah Meningkat Pesat, Pelanggan HCS PLN Tembus 92 Ribu Lebih
Hal itu ditegaskan Direktur Manajemen Proyek dan Energi Baru Terbarukan PLN, Suroso Isnandar, saat membuka gelaran Indonesia Hydropower Summit 2026 yang berlangsung pada Rabu (5/8/2026), di kantor pusat PLN, Jakarta.
“PLN tidak berjalan sendirian dalam mengemban amanah ini. Kolaborasi adalah kunci agar program ini berhasil. Pemerintah, PLN, para mitra IPP, serta lembaga terkait termasuk Masyarakat Energi Baru Terbarukan (METI), kita semua memerlukan sinergi yang kuat, komitmen yang teguh, serta kontribusi nyata dari seluruh pemangku kepentingan,” ujar Suroso di hadapan para peserta pertemuan.
Selain PLTA dan PLTM, pengembangan energi air dalam dokumen RUPTL yang sama juga mencakup pembangkit tipe penyimpanan terpompa atau pumped storage dengan total kapasitas mencapai 4,3 GW. Teknologi ini berfungsi menyimpan energi pada saat pasokan listrik melimpah, lalu mengalirkannya kembali saat permintaan memuncak, sehingga menjaga keseimbangan serta keandalan sistem kelistrikan secara menyeluruh.
Sejumlah proyek unggulan jenis itu pun sedang disiapkan PLN, antara lain Pembangkit Listrik Tenaga Penyimpanan Terpompa Upper Cisokan berkapasitas 1.040 MW, Sumatera Utara sebesar 500 MW, Matenggeng 943 MW, Grindulu 1.000 MW, serta Jatiluhur sebesar 760 MW yang dikembangkan melalui kerja sama dengan pihak IPP.
Baca juga : PLN dan Pemkot Jakarta Barat Perkuat Koordinasi Percepatan Penanganan Kelistrikan Fasilitas Publik
Sementara itu, Komisaris Independen PLN, Ali Masykur Musa, memandang bahwa tantangan pengembangan energi air kini bukan lagi terletak pada penentuan lokasi dan potensi, melainkan pada upaya mempercepat perwujudan potensi tersebut menjadi proyek yang siap dibangun dan bermanfaat bagi rakyat.
“Memang masa pembangunan dan konstruksi pembangkit tenaga air memakan waktu cukup lama, namun nilainya sangat besar bagi masa depan. Karena itu, percepatannya tak bisa dilakukan secara terpisah-pisah, melainkan harus menyeluruh dari awal hingga akhir. Setiap tahapan, mulai dari perencanaan hingga pengoperasian, harus berjalan terukur dan terarah. Langkah pertama yang harus dipastikan adalah menentukan prioritas berdasarkan kesiapan proyek,” papar Ali.
Sejalan dengan gagasan tersebut, Pelaksana Tugas Ketua Umum METI, Norman Ginting, menekankan pentingnya proyek yang sehat secara finansial serta dukungan kerja sama antarpihak demi menjawab lonjakan kebutuhan listrik yang terus meningkat. Hal itu dipicu oleh pesatnya pembangunan pusat data, pertumbuhan pengguna kendaraan listrik, hilirisasi sumber daya mineral, serta berkembangnya industri berbasis teknologi hijau.
“Di tengah kebutuhan energi yang terus tumbuh, tenaga air menjadi fondasi yang kokhil untuk mewujudkan sistem kelistrikan yang andal sekaligus rendah emisi karbon. Oleh karena itu, kerja sama antarberbagai pihak tidak boleh berhenti sekadar pada pembahasan semata, melainkan harus melahirkan daftar proyek yang siap didanai, dibangun, dan beroperasi secara komersial demi kemaslahatan bersama,” tutup Norman dengan penuh harap.













