Perumda Pasar Jaya Gagas Gerakan Jakarta Tanpa Plastik Sekali Pakai

IMG 20260730 192901
Perumda Pasar Jaya Gagas Gerakan Jakarta Tanpa Plastik Sekali Pakai.

Satusuaraexpress.co | Jakarta — Mengangkat persoalan sampah plastik dari sekadar masalah kebersihan menjadi urusan lingkungan, kesehatan, ekonomi, dan keberlanjutan pembangunan kota, Perumda Pasar Jaya secara resmi membangun gerakan Jakarta tanpa plastik sekali pakai. Langkah ini diharapkan menjadi tonggak mewujudkan Jakarta yang bebas dari sampah plastik.

Direktur Utama Perumda Pasar Jaya, Agus Himawan, mengatakan persoalan sampah plastik kini telah berkembang menjadi isu yang menyentuh berbagai aspek kehidupan masyarakat. Oleh karena itu, Perumda Pasar Jaya berkomitmen tampil sebagai salah satu motor penggerak perubahan melalui berbagai program nyata di seluruh pasar yang dikelola.

“Persoalan sampah plastik kini tidak lagi sekadar menjadi masalah kebersihan, tetapi telah berkembang menjadi persoalan lingkungan, kesehatan masyarakat, ekonomi, hingga keberlanjutan pembangunan kota,” ujar Agus, Sabtu (1/8/2026).

Perumda Pasar Jaya berencana secara bertahap mengurangi penggunaan kantong plastik sekali pakai dan menggantinya dengan mendorong penggunaan tas belanja ramah lingkungan yang dapat dipakai berulang kali. Edukasi dan sosialisasi kepada para pedagang maupun pembeli pun akan terus digencarkan agar kesadaran bersama akan pentingnya menjaga lingkungan semakin tumbuh.

Baca jugaPerumda Pasar Jaya Maksimalkan Penanganan Sampah di Pasar Induk Kramat Jati

Selain itu, Perumda Pasar Jaya memperkuat pemilahan sampah sejak dari sumbernya dengan menerapkan prinsip 3R meliputi Pengurangan, Penggunaan Kembali, dan Daur Ulang. Inovasi pengelolaan sampah terus dikembangkan melalui penerapan konsep ekonomi sirkular yang mengubah sampah menjadi sesuatu yang bernilai.

“Kami terus mengembangkan berbagai inovasi dalam pengelolaan sampah melalui penerapan ekonomi sirkular,” tambah Agus.

Perumda Pasar Jaya juga menyatakan dukungannya terhadap program pemerintah dalam penerapan teknologi pengolahan sampah menjadi energi atau Waste to Energy (WtE), dengan melibatkan dunia usaha dan masyarakat demi terwujudnya pengelolaan sampah yang berkelanjutan.

Dengan mengelola sekitar 153 pasar rakyat yang tersebar di seluruh penjuru Jakarta, jaringan pasar yang luas ini menjadi sarana yang sangat strategis untuk menyentuh jutaan masyarakat setiap harinya. Perubahan perilaku di lingkungan pasar diperkirakan akan memberikan dampak besar terhadap penurunan jumlah sampah plastik yang dihasilkan warga.

Baca jugaPerumda Pasar Jaya Percepat Penanganan Sampah di Pasar Induk Kramat Jati

“Jaringan pasar tersebut menjadi sarana yang efektif untuk mengedukasi pedagang dan konsumen agar membiasakan penggunaan tas belanja ramah lingkungan, mengurangi plastik sekali pakai, serta melakukan pemilahan sampah sejak dari sumbernya,” papar Agus.

Sementara itu, Plt. Deputi Pencegahan Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan Hidup Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup, Laksmi Widjajayanti, mengingatkan bahwa Jakarta menghasilkan sekitar 9.000 ton sampah setiap harinya. Oleh karena itu, diperlukan strategi pengelolaan yang terpadu, mulai dari hulu hingga ke hilir.

Menurut Laksmi, teknologi WtE memang mampu mengolah sebagian sampah menjadi energi listrik, namun hanya mampu menangani sekitar 24 persen dari total persoalan sampah yang ada. Sisanya tetap harus diupayakan melalui pengurangan sampah dari sumber, pemilahan, penggunaan kembali, dan daur ulang yang semuanya menjadi fondasi utama pengelolaan sampah nasional.

Baca jugaPerumda Pasar Jaya Lakukan Low Investment di Pasar Permuka

“Pengurangan sampah dari sumber, pemilahan, penggunaan kembali, dan daur ulang tetap menjadi fondasi utama dalam sistem pengelolaan sampah nasional,” tegasnya.

Sampah plastik pun menjadi sorotan tersendiri karena dampaknya yang jangka panjang. Analis Lingkungan Hidup Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta, Erma Putri, mengingatkan bahwa sampah plastik yang mencemari lingkungan berpotensi mengancam kesehatan manusia melalui pencemaran mikroplastik yang tidak tampak kasat mata.

“Ketika kita berbicara tentang plastik, sesungguhnya kita sedang berbicara tentang polusi yang kita tinggalkan untuk generasi mendatang,” ujar Erma.

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta sendiri terus mendorong seluruh elemen masyarakat untuk memilah sampah menjadi empat kategori, yaitu sampah organik, anorganik, bahan berbahaya dan beracun, serta residu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *