Satusuaraexpress.co | Jakarta — PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC) secara resmi memulai program HSR Training Batch V Tahap 1. Langkah ini menjadi bukti nyata komitmen perusahaan dalam memperkuat kemandirian Sumber Daya Manusia (SDM) Indonesia dalam pengelolaan operasional maupun perawatan Kereta Cepat Whoosh.
“Program ini hadir sebagai fase lanjutan seiring dengan progres serah terima pengelolaan sarana dan prasarana yang kini telah mencapai angka 80 persen,” GM Corporate Secretary KCIC, Eva Chairunisa, Senin (20/4/2026).
Eva menyebut, sebanyak 102 peserta terpilih mengikuti rangkaian pendidikan yang berlangsung di Politeknik Perkeretaapian Indonesia. Selama kurun waktu 3 hingga 5 bulan, para peserta akan menempuh berbagai materi pembelajaran, mulai dari Diksarwira, pelatihan dasar kereta api cepat, hingga perpaduan antara teori mendalam dan praktik langsung.
“Fokus utama pelatihan kali ini adalah mempersiapkan tenaga ahli di dua bidang vital, yaitu Tenaga Pemeriksa Sarana dan Tenaga Pemeriksa Jalan Rel, ” ujarnya.
Baca juga : KCIC Berlakukan Penyesuaian Jadwal Kereta Cepat Whoosh
Setelah menyelesaikan seluruh modul pembelajaran, para peserta tidak serta merta langsung bertugas. Mereka akan melanjutkan ke tahap sertifikasi resmi yang diselenggarakan oleh Kementerian Perhubungan sesuai dengan standar nasional yang berlaku.
Selama proses belajar mengajar, para peserta didampingi langsung oleh tenaga profesional yang berpengalaman, memastikan bahwa kualitas pendidikan yang diterima setara dengan standar internasional.
Keberhasilan pelatihan Batch V ini tidak lepas dari fondasi yang telah dibangun sebelumnya. Hingga saat ini, tercatat sudah ada 652 SDM Indonesia yang telah sukses menerima transfer knowledge dan menjalani proses serah terima pekerjaan dari tenaga ahli Tiongkok.
“Rinciannya mencakup 350 orang untuk bidang Fixed Assets atau prasarana, 222 orang untuk bidang Operation, serta 80 orang khusus untuk perawatan sarana, ” jelasnya.
Baca juga : Tindakan Menahan Pintu Kereta Cepat Whoosh Dikecam, Ganggu Operasional dan Rugikan Penumpang Lain
Angka tersebut bahkan sudah mencakup para masinis dan mekanik sarana yang kini sepenuhnya telah digantikan oleh tenaga lokal. Fakta ini menunjukkan bahwa proses alih teknologi High Speed Railway (HSR) berjalan sangat efektif dan terukur.
Capaian 80 persen ini menjadi indikator kuat bahwa operasional Whoosh kini semakin ditopang oleh putra-putri bangsa yang kompeten, sekaligus secara signifikan mengurangi ketergantungan terhadap tenaga asing.
Melalui program pelatihan yang berkelanjutan ini, KCIC optimistis bahwa penguasaan teknologi kereta cepat oleh SDM nasional akan semakin matang. Ke depannya, diharapkan seluruh aspek operasional dan perawatan Whoosh dapat dikelola secara mandiri 100 persen oleh bangsa Indonesia.
Peran para tenaga terlatih ini sangat krusial dalam menjaga keberlangsungan layanan. Di sisi operasional, mereka bertugas sebagai masinis hingga petugas di Pusat Kendali Operasi (OCC) yang mengatur perjalanan kereta secara real-time.
Baca juga : KCIC Jaga Ketepatan Waktu Kereta Cepat Whoosh Tahun 2025 Meskipun Hadapi Banyak Gangguan Eksternal
Di sisi teknis, personel perawatan sarana bertugas menjaga keandalan rangkaian kereta, sementara tim perawatan prasarana memastikan jalur, jembatan, terowongan, hingga sistem kelistrikan dan persinyalan selalu dalam kondisi prima demi keamanan dan ketepatan waktu perjalanan.
‘Program ini merupakan bagian dari investasi jangka panjang yang telah dilakukan sejak awal proyek. Para peserta saat ini dipersiapkan bukan hanya sebagai operator, melainkan sebagai generasi penerus yang akan menjadi pengelola teknologi transportasi modern di masa depan, ” tuturnya.
KCIC menegaskan komitmennya untuk terus melanjutkan pengembangan kapasitas SDM, agar Indonesia dapat sejajar dengan negara-negara maju dalam penguasaan teknologi transportasi canggih.













