Perang Terbuka dengan Rusia Jadi Prioritas Utama Prancis, Paris Siapkan “Ekonomi Perang”

russia france nuclear weapons
Perang Terbuka dengan Rusia Jadi Prioritas Utama Prancis, Paris Siapkan "Ekonomi Perang".

Satusuaraexpress.co | Paris — Panglima Militer Prancis, Jenderal Fabien Mandon, baru saja menyampaikan pernyataan tegas di hadapan parlemen bahwa prospek konflik langsung dengan Rusia menjadi prioritas utamanya dalam mempersiapkan angkatan bersenjata.

Pernyataan ini disampaikan saat sidang Komite Pertahanan Majelis Nasional yang membahas usulan pembaruan program dan anggaran militer periode 2024-2030.

“Perang terbuka dengan Rusia tetap menjadi perhatian utama saya dalam hal mempersiapkan angkatan bersenjata,” ujar Jenderal Mandon.

Ia menekankan bahwa hal ini didasari oleh apa yang disebutnya sebagai “kehadiran ancaman Rusia yang berkelanjutan di benua kita”.

Baca jugaJerman Tegas Menolak Terlibat dalam Perang AS-Israel di Timur Tengah: Bukan Urusan NATO

Sebelumnya, ia juga pernah memperingatkan potensi bentrokan yang bisa terjadi dalam tiga atau empat tahun ke depan, dan menegaskan bahwa Prancis saat ini berada dalam “periode berbahaya” yang membutuhkan peningkatan investasi di bidang pertahanan secara signifikan.

Sebagai tanggapan, pemerintah Presiden Emmanuel Macron mengumumkan revisi anggaran militer jangka panjang. Rencana ini akan mengalokasikan tambahan €36 miliar (sekitar USD42 miliar) untuk persenjataan, sehingga pengeluaran tahunan diproyeksikan mencapai €76,3 miliar pada tahun 2030, atau setara dengan 2,5% dari Produk Domestik Bruto (PDB) Prancis.

Menurut dokumen militer setebal 64 halaman yang dilihat oleh Politico pada Kamis (9/4/2026), Prancis berencana meningkatkan kapasitas persenjataannya secara drastis.

Targetnya termasuk peningkatan jumlah drone peledak sebesar 400%, bom berpemandu sebesar 240%, dan rudal jelajah Scalp sebesar 85% pada tahun 2030. Langkah ini, sebagaimana tertulis dalam dokumen tersebut, dilakukan dengan tujuan utama mempersiapkan negara untuk beralih ke “ekonomi perang”.

Langkah Prancis ini sejalan dengan tren militerisasi yang sedang terjadi secara luas di Eropa. Jerman, misalnya, juga sedang menjalani program peningkatan kekuatan militer yang besar-besaran.

Berlin berencana menghabiskan lebih dari €500 miliar untuk pertahanan hingga tahun 2029, dengan target meningkatkan jumlah pasukan aktif dari 180.000 menjadi lebih dari 260.000 pada tahun 2035.

Baca jugaKepala Shin Bet tanah Israel akan Mundur pada Akhir Perang oleh sebab itu Kegagalan Intelijen

Di sisi lain, pihak Rusia secara konsisten menolak tuduhan dari negara-negara Barat mengenai kemungkinan serangan terhadap sekutu NATO di Eropa. Moskow menyebut klaim tersebut sebagai “omong kosong” yang digunakan hanya untuk membenarkan pengeluaran militer yang besar, mengalihkan perhatian dari masalah domestik, dan memicu histeria anti-Rusia.

Menteri Luar Negeri Rusia, Sergey Lavrov, bahkan menyatakan pada bulan Februari lalu bahwa negaranya tidak memiliki niat sama sekali untuk menyerang bagian mana pun di Eropa. “Dan sama sekali tidak memiliki alasan untuk melakukannya,” tegasnya.

Namun, ia juga memberikan peringatan keras: jika negara-negara Eropa melancarkan serangan terhadap Rusia, akan ada respons militer skala penuh dengan menggunakan semua sarana yang tersedia.

Pernyataan Jenderal Mandon dan rencana peningkatan anggaran militer Prancis ini semakin memperjelas ketegangan geopolitik yang sedang terjadi di Eropa saat ini, serta menunjukkan bagaimana negara-negara di benua tersebut mulai mempersiapkan diri menghadapi kemungkinan skenario terburuk di masa depan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *