Satusuaraexpress.co | Jakarta – Menjadi Polisi tidak melulu berurusan dengan kriminalitas. Terkadang, polisi juga diminta untuk melayani masyarakat secara langsung. Dari situlah muncul inovasi-inovasi yang bermanfaat bagi masyarakat.
Salah satunya, Aiptu Agus Riyanto, Bhabinkamtibmas Polsek Kembangan Polres Metro Jakarta Barat. Dengan modal terbatas, ia membuka sekolah gratis dan mengajak anak-anak pemulung di Slum Area Kampung Balong, Kembangan, Jakarta Barat, untuk belajar.
Ia melihat, banyak anak-anak di kawasan kumuh tersebut tidak bersekolah. Sementara, masing-masing orangtuanya sibuk mencari barang bekas untuk bisa ditukarkan dengan rupiah. Akibatnya, anak-anak lebih memilih ikut orangtuanya mencari barang bekas.
Baca : Salurkan KUR ke Pekerja Migran Maksimal Rp100Juta, Komitmen KemenP2MI Sejahterakan PMI
Beruntung ada Aiptu Agus Riyanto. Sejak pertama kali bertugas sebagai Bhabinkamtibmas di wilayah Srengseng, Agus sering berinteraksi langsung dengan masyarakat setempat. Melihat kondisi tersebut, Agus pun tergarak hatinya.
Ia melihat banyak anak usia sekolah yang tidak mendapatkan pendidikan layak karena kondisi ekonomi keluarga. Anak-anak ini, yang seharusnya bermain dan belajar, malah membantu orang tua mereka mengumpulkan barang bekas.

“Sebagai Bhabinkamtibmas, tugas saya bukan hanya menjaga keamanan, tapi juga membantu masyarakat. Melihat banyak anak-anak yang putus sekolah, saya merasa terpanggil untuk melakukan sesuatu,” kata Agus didampingi Kapolsek Kembangan Kompol Moch Taufik Iksan, Minggu (12/1/2025).
Agus masih ingat betul, kapan ia mulai mengajak anak-anak itu belajar. Ya, empat tahun lalu, dengan modal semangat dan kepedulian, Agus memulai langkah kecilnya itu. Satu persatu ia mulai mengumpulkan anak-anak yang tidak sekolah untuk ikut belajar. Bertempat di gubuk sederhana terbuat dari kayu dan triplek, Agus yang masih menggunakan seragam dinas mulai memberikan pelajaran.
Dari sinilah, cikal bakal Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPA) Maju Bersama terbentuk. Lambat laun, tempat belajar yang didirikan oleh Agus terus berkembang. Hingga kini sekolah gratis ini sudah memiliki sekitar 80 anak dengan rentang usia 4 hingga 13 tahun.
Baca : Lumba-lumba Muncul di Laut Jakarta, Tanda Lingkungan Membaik?
Melihat kerja kerasnya membuahkan hasil Agus pun kian bersemangat. Di TPA kini menyediakan program pendidikan non-formal seperti sekolah paket untuk mereka yang putus sekolah. Uniknya, operasional sekolah ini tidak mengandalkan biaya dari para siswa, melainkan memanfaatkan sampah yang dikumpulkan oleh anak-anak.
Botol-botol bekas yang mereka bawa setiap dua minggu sekali dijual untuk membiayai kebutuhan sekolah.
“Karena sekolah ini di tempat pemulung, kita manfaatkan sampah sebagai sumber pendanaan. Sampah-sampah ini kita jual, hasilnya digunakan untuk keperluan sekolah. Dengan cara ini, anak-anak belajar untuk mandiri,” jelas Agus.
Baca : Dua Anak Kabin yang Selamat Dari Kecelakaan Pesawat Diminta Bunuh Diri
Dalam menjalankan sekolah ini, Agus tidak sendiri. Ia menggandeng relawan dan elemen masyarakat yang dengan sukarela membantu mengajar. Hingga kini, para relawan tersebut menjadi tulang punggung pendidikan anak-anak pemulung di Kampung Balong.
“Guru-guru di sini adalah relawan yang sudah lama mendukung program ini. Semangat mereka luar biasa, sama seperti semangat anak-anak yang belajar di sini,” tambah Agus.
Langkah Agus Riyanto dalam mendirikan sekolah ini tidak hanya membawa dampak langsung bagi anak-anak pemulung, tetapi juga menginspirasi banyak pihak.
Kepeduliannya menunjukkan bahwa siapa pun bisa berkontribusi untuk masyarakat, tak peduli seberapa besar atau kecil langkah tersebut.
“Saya berharap anak-anak ini punya masa depan yang lebih baik. Dengan pendidikan, mereka bisa keluar dari lingkaran kemiskinan dan meraih mimpi-mimpi mereka,” kata Agus dengan penuh harap.
Kini, TPA Maju Bersama terus berjalan, memberikan harapan baru bagi generasi muda yang kurang beruntung. Agus, di sela-sela tugasnya sebagai polisi, tetap meluangkan waktu untuk mengajar dan memastikan keberlangsungan sekolah ini.
Baca : Taman Marga Satwa Masih Jadi Primadona Masyarakat untuk Menghabiskan Akhir Pekan
Di tengah keterbatasan, Aiptu Agus Riyanto menunjukkan bahwa kepedulian dan kerja keras dapat membawa perubahan besar. Sekolah yang ia dirikan di tengah permukiman kumuh bukan hanya tempat belajar, tetapi juga simbol harapan dan semangat untuk masa depan yang lebih baik.
Kapolsek Kembangan Kompol Moch Taufik Iksan yang turun langsung ke TPA turut memberikan apresiasi kepada Aiptu Agus Riyanto. Ditengah kesibukannya menjaga keamanan masyarakat, ia menyempatkan diri untuk mengajak anak-anak kurang mampu belajar.
“Sangat bagus. Banyak yang tidak tau bahwa Aiptu Agus berhasil mendirikan TPA di tengah pemukiman yang kumuh. Bahkan berhasil mengajak anak-anak yang tadinya tidak sekolah menjadi sekolah, ” kata Taufik.
Taufik berharap akan ada Aiptu Agus yang lain. Meski dengan modal terbatas, tapi dengan tekad dan kemauan hal sekecil apapun akan menjadi besar.













