Perlukah, Mengetahui Kadar Antibodi Pasca Vaksinasi Covid-19

5ff1751a42e4a

Satusuaraexpress.co – Pada dasarnya wajar bagi penerima vaksin apabila ingin mengetahui apakah sudah ada antibodi anti COVID-19 yang cukup untuk memberi proteksi terhadap dirinya. Namun , keraguan ini sebenarnya lebih relevan lagi bagi orang yang berusia lanjut atau yang mempunyai penyakit komorbiditas tertentu. Pada orang berusia di atas 60 tahun, respons imunitas menurun, bahkan hingga hanya 35 persen. Respons pembentukan antibodi juga kurang baik pada penyandang diabetes, gagal ginjal kronis, penyakit paru obtruktif kronis, atau HIV-AIDS.

Berbagai uji klinis vaksin COVID-19 menggunakan pemeriksaan antibodi kuantitatif sebagai salah satu tolok ukur imunitas yang didapatkan dari vaksinasi. Hal ini kemudian menimbulkan banyak pertanyaan mengenai perlu atau tidaknya masyarakat melakukan pemeriksaan antibodi setelah menjalani program vaksin.

Saat ini berbagai organisasi kesehatan tidak menganjurkan masyarakat untuk menjalani pemeriksaan antibodi setelah vaksinasi COVID-19. Luaran akhir yang dianggap paling penting untuk menilai program vaksinasi di komunitas adalah jumlah individu yang mengalami COVID-19 setelah vaksin dan bukan kadar antibodi.

Vaksin COVID-19 berperan penting untuk membentuk herd immunity dan mengontrol pandemi. Adanya instruksi untuk melakukan pemeriksaan yang belum terbukti efektif untuk menilai imunitas pascavaksin dikhawatirkan hanya akan menghambat program vaksin.

Sekilas tentang Bermacam Pemeriksaan COVID-19

Pemeriksaan reverse-transcription polymerase chain reaction (RT-PCR) masih menjadi baku emas untuk mengidentifikasi materi RNA SARS-CoV-2 pada sampel biologis. Namun, meskipun tes ini bersifat akurat untuk mendiagnosis kasus aktif COVID-19, tes ini tidak dapat mengevaluasi imunitas individu yang telah terinfeksi virus atau yang telah divaksin. Oleh karena itu, tes ini tidak bisa menentukan apakah seseorang imun setelah divaksin COVID-19.

Pemeriksaan serologi (antibodi) dianggap berperan lebih penting untuk tujuan evaluasi imunitas karena pemeriksaan ini dapat memberikan informasi mengenai status imun seseorang terhadap SARS-CoV-2.

Pemeriksaan antibodi kualitatif hanya menunjukkan ada tidaknya antibodi terhadap SARS-CoV-2 dalam darah seseorang, sementara pemeriksaan antibodi kuantitatif bisa menunjukkan titer antibodi. Namun, mayoritas tes antibodi kualitatif maupun kuantitatif yang dikenal sebagai rapid test COVID-19 memiliki sensitivitas dan spesifisitas yang kurang baik. Beberapa tes ini ditawarkan pada masyarakat untuk memeriksa imunitas pascavaksin tetapi sebenarnya tes ini tidak didesain untuk tujuan ini.

Memahami Proses Terbentuknya Imunitas setelah Vaksinasi SARS-CoV-2

 Protein S (spike) dan RBD (receptor binding domain) pada SARS-CoV-2 menjadi target utama pembuatan vaksin karena antibodi spesifik yang terbentuk terhadap protein ini mampu mencegah virus berikatan dengan reseptor angiotensin-converting enzyme 2 (ACE2) sebagai port de entry ke dalam sel inang. Hal ini menyebabkan berbagai tes titer antibodi juga dikembangkan menggunakan target protein S dan RBD.

Penelitian mengenai antibodi pascavaksinasi dengan vaksin mRNA (BioNTech/Pfizer dan Moderna) mendeteksi terbentuknya antibodi 21 hari setelah vaksinasi pertama, dengan peningkatan titer hingga 5 kali setelah vaksinasi kedua. Sementara itu, antibodi yang terbentuk dengan vaksin virus inaktif (Sinovac) mulai dapat terdeteksi pada 92,4% individu setelah 14 hari dari pemberian dosis kedua.

Namun, hingga saat ini belum ada konsensus mengenai kadar antibodi target yang bisa dinyatakan protektif dan beberapa uji klinis vaksin yang ada juga belum dituntaskan. Keterbatasan data ini bisa menjadi kendala ketika menggunakan pemeriksaan antibodi kuantitatif sebagai “penguji” efektivitas vaksin di praktik klinis sehari-hari.

Evaluasi Penggunaan Pemeriksaan Antibodi untuk Menilai Imunitas Pascavaksin

Secara teoritis, pemeriksaan antibodi kuantitatif setelah vaksinasi diharapkan bisa menilai respons imun terhadap vaksin, mengukur durasi dan kadar antibodi yang mampu bertahan dalam tubuh, serta mempertimbangkan kadar antibodi yang akan membutuhkan booster vaksinasi di kemudian hari.

Namun, pada praktik nyatanya, terdapat banyak kendala dalam implementasi tes ini setelah vaksin karena belum ada standarisasi tentang target antibodi yang protektif dan belum ada konsensus mengenai durasi sirkulasi antibodi. Selain itu, akurasi dan jenis tes antibodi yang ada juga masih dipertanyakan relevansinya dengan penentuan efektivitas vaksin.

Kendala Penggunaan Pemeriksaan Antibodi untuk Menilai Imunitas Pascavaksin

Imunitas badan kita sangat kompleks dan terdiri dari beragam jenis.Tes-tes yang saat ini dilakukan untuk “mengukur” tingkat antibody terhadap COVID-19 hanya mendeteksi B-cell antibody (test serologi IgM dan IgG). B-cell adalah antibody yang tugasnya memberikan “alarm” (warning)” sewaktu badan kita terkena paparan virus. Test antibody yang ada saat ini belum bisa mendeteksi T-cell antibody.T-cell antibody disebut sebagai si “killer” karena berfungsi menbunuh virus.

Sampai saat ini belum ada pemeriksann laboratorium yang bisa mengukur T-cell di badan.

Saat ini CDC tidak menyarankan pemeriksaan antibodi untuk menilai imunitas pasien pascavaksinasi. Ada beberapa alasan mengapa pemeriksaan ini tidak disarankan.

Pertama, pemeriksaan antibodi yang ada saat ini tidak didesain untuk menilai antibodi dari vaksin melainkan untuk menilai antibodi dari penyakit. Tes-tes antibodi ini memiliki sensitivitas dan spesifisitas yang bervariasi tetapi umumnya kurang baik.

Kedua, kadar antibodi dalam serum belum terbukti berhubungan dengan kemampuan proteksi terhadap infeksi. Imunitas yang dimediasi oleh sel (cell-mediated immunity) yang sebenarnya berperan penting dalam perkembangan respons imun setelah vaksin tidak dinilai oleh tes antibodi yang ada.

Ketiga, saat ini belum ada pedoman (guideline) untuk menginterpretasikan hasil tes antibodi yang dilakukan setelah vaksin. Para ahli belum bisa menentukan apakah hasil tes antibodi yang negatif berarti bahwa pasien tidak mengembangkan respons imun terhadap vaksin, atau tes antibodi yang digunakan tidak memeriksa jenis antibodi yang tepat, atau hasil tes antibodi tersebut adalah negatif palsu.

Keempat, vaksinasi dalam komunitas bekerja dengan cara membentuk herd immunity. Instruksi untuk melakukan pemeriksaan yang sebenarnya tidak perlu dapat membuat pasien enggan untuk melakukan vaksin. Selain itu, bila hasil tes antibodi menunjukkan respons imun yang baik sehabis dosis pertama vaksin, pasien mungkin akan merasa tenang dan merasa tidak perlu menjalani dosis kedua, sehingga proteksi imunnya dan herd immunity menjadi terganggu.

Kesimpulan

Saat ini CDC dan berbagai organisasi kesehatan lain tidak menganjurkan pemeriksaan antibodi setelah vaksinasi COVID-19. Mayoritas pemeriksaan antibodi yang ada tidak didesain untuk mendeteksi antibodi dari vaksin melainkan antibodi dari penyakit. Tes antibodi yang ada juga umumnya memiliki sensitivitas dan spesifisitas kurang baik. Selain itu, kadar antibodi dalam serum belum terbukti berhubungan dengan proteksi seseorang terhadap infeksi dan saat ini belum ada pedoman tentang interpretasi hasil tes antibodi pada pasien pascavaksin.

Pasca vaksinasi respon imun pasti terjadi.

Pembentukan antibodi bergantung pada banyak faktor (faktor vaksin, faktor host, dan faktor assay).

Belum terdapat standarisasi internasional antibodi netralisasi yang sesuai dengan berbagai tes antibodi kuantitatif yang beredar. Gold standard adalah PRNT.

Pemeriksaan antibodi kuantitatif RBD-S untuk monitoring mandiri respon imun vaksinasi harus menggunakan alat dan reagen yang sama. Target utama vaksinasi saat ini adalah untuk mencapai meningkatkan cakupan untuk mencapai herd immunity , belum ada rekomendasi penambahan/perubahan jenis vaksin/dosis berdasarkan hasil antibody Penentuan cut-off kadar antibodi seroprotektif masih membutuhkan penelitian lebih lanjut

Vaksinasi dalam komunitas bekerja dengan cara membentuk herd immunity. Adanya arahan pada pasien untuk melakukan pemeriksaan yang tidak perlu ditakutkan akan menghambat program vaksinasi dan mengganggu pencapaian herd immunity.

 

Jakarta 22 April 2021

Dr.Mulyadi Tedjapranata

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *