Perekonomian Global Diperkirakan Akan Pulih Lebih Cepat Karena Dua hal

images 48

Jakarta, Satusuaraexpress.co – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memperkirakan perekonomian global pulih lebih cepat. Ada dua alasan yang menyembabkan hal itu.

Pertama itu terlihat dari akselerasi proses vaksinasi Covid-19 secara global. Kedua, membaiknya sektor manufaktur.

Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso mengatakan, di Amerika Serikat (AS), perbaikan ekonomi diperkirakan berlangsung lebih cepat didorong oleh stimulus fiskal senilai 1,9 triliun dolar AS dan tingginya laju vaksinasi yang diperkirakan akan menciptakan herd immunity di semester II 2021.

“Optimisme pemulihan ekonomi di AS mendorong kenaikan yield US Treasury dan meningkatkan volatilitas pasar keuangan global, terutama di pasar obligasi dan nilai tukar negara Emerging Markets,” ujar dia, Jumat (26/03).

Perkembangan positif dari sisi perekonomian dan progres vaksinasi tersebut mendorong pasar saham global menguat di Maret. Sampai dengan 19 Maret 2021, IHSG menguat sebesar 1,8 persen month to date (mtd).

Namun demikian, peningkatan volatilitas di pasar keuangan global mendorong yield obligasi domestik meningkat dan nilai tukar rupiah melemah 1,1 persen mtd ke Rp14.400 per dolar AS.

Pelemahan tersebut diiringi dengan outflow investor nonresiden sebesar Rp0,12 triliun mtd dan Rp1,01 triliun mtd. Lebih rinci year to date (ytd) pasar saham: net buy Rp0,92 triliun; ytd pasar Surat Berharga Negara: net sell Rp1,3 triliun.

Di sektor perbankan, dukungan Pemerintah dalam bentuk Penyertaan Modal Negara kepada BUMN mendorong Dana Pihak Ketiga (DPK) tumbuh double digit sebesar 10,11 persen year on year (yoy) di Februari 2021, terutama didorong oleh pertumbuhan giro yang signifikan sebesar 19,98 persen yoy.

Sementara itu, pada Februari 2021 kredit perbankan terkontraksi sebesar -2,15 persen yoy seiring dengan tingginya tren pelunasan kredit serta belum pulihnya permintaan sektor usaha. Di industri keuangan non bank, piutang Perusahaan Pembiayaan terkontraksi sebesar -19,8 persen yoy dikarenakan belum pulihnya permintaan dari sektor rumah tangga.

Industri asuransi tercatat menghimpun pertambahan premi sebesar Rp22,8 triliun (Asuransi Jiwa: Rp15,5 triliun; Asuransi Umum dan Reasuransi: Rp7,3 triliun) dan fintech P2P Lending Februari 2021 mencatatkan outstanding pembiayaan sebesar Rp16,96 triliun atau tumbuh sebesar 17,0% yoy.

Hingga 23 Maret 2021, jumlah penawaran umum yang dilakukan di pasar modal mencapai 30 emiten, dengan total nilai penghimpunan dana mencapai Rp33,7 triliun. Dari jumlah penawaran umum tersebut, 7 di antaranya dilakukan oleh emiten baru.

Dalam pipeline saat ini terdapat 66 emiten yang akan melakukan penawaran umum dengan total indikasi penawaran sebesar Rp25,33 triliun. (ad)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *