Satusuaraexpress.co – Indonesia sejak ratusan tahun yang lalu, sejak masih dibawah pemerintahan raja-raja dan kesultanan yang tersebar di seluruh Nusantara telah dikenal sebagai gudang rempah-rempah dunia.
Bahwa berita tentang melimpahnya hasil rempah-rempah Indonesia ini telah tersebar ke berbagai wilayah maupun berbagai penjuru dunia, yang pada akhirnya membuat bangsa-bangsa Eropa datang ke kepulauan Nusantara untuk mencari dan berburu beraneka rempah-rempah.
Mereka bahkan berambisi untuk menguasai perdagangannya karena merupakan komoditas yang bernilai ekonomi sangat tinggi.
Ketua Dewan Rempah Indonesia Gamal Nasir mengatakan pertemuan penentuan hari rempah nasional ini setidaknya nanti akan menjadi momentum untuk membangkitkan rempah Indonesia.
Tokoh perkebunan Indonesia yang juga pendiri dan Ketua Dewan Pembina Museum Perkebunan Indonesia (Musperin) Soedjai Kartasasmita mengatakan rempah Indonesia adalah sabuk zamrud (gordel Van smaragd) di kawasan timur Indonesia.
Di gugusan pulau di kawasan timur Indonesia yang luasnya hanya sekitar 240 KM2 itu dulu rempah Indonesia mampu menimbulkan perubahan dunia, khususnya di kawasan Asia Pasifik, di antaranya munculnya negara-negara baru.
Oleh karena itu, Soedjai Kartasasmita dalam kesempatan ini mengusulkan agar dibangun monumen rempah rempah di kawasan timur Indonesia. “Bisa di Ambon, Banda atau Halmahera,” tambahnya.
Selain itu, Soedjai juga mengusulkan agar dibangun museum rempah rempah. “Pemerintah Belanda saat ini sedang mengembalikan 100 ribu artefak perkebunan ke Indonesia. Momentnya tepat sekali,” jelasnya.
Pada era tahun 1.500-an Masehi, perdagangan cengkeh dan pala nusantara didominasi oleh pedagang Arab. Mereka tidak mau membuka dimana lokasi tanamannya. Sehingga mendorong Eropa untuk mencari sendiri lokasi penanaman rempah.
“Keuntungan perdagangan rempah waktu itu, bisa 900 kali lipat. Banyak negara Eropa tertarik terjun perdagangan rempah,” tambahnya. (CR)













