Pemkot Jakarta Timur Tangani 105 Anak Tidak Sekolah di Duren Sawit, 75 Anak Siap Kembali Belajar

IMG 20260830 WA0000
Ilustrasi

Satusuaraexpress.co | Jakarta — Pemerintah Kota Jakarta Timur melalui Kecamatan Duren Sawit bergerak aktif menangani masalah Anak Tidak Sekolah (ATS) di wilayahnya, dengan melakukan verifikasi langsung dan pendampingan menyeluruh kepada anak-anak serta keluarga.

Upaya ini membuktikan bahwa angka yang tercatat sebelumnya jauh lebih besar dibandingkan data riil di lapangan, sekaligus membuka harapan baru bagi ratusan anak untuk kembali memperoleh hak pendidikan mereka.

Berdasarkan data awal yang diterima dari Kementerian Pendidikan, tercatat sekitar 3.080 anak di Kecamatan Duren Sawit masuk dalam kategori Anak Tidak Sekolah. Namun, setelah tim kecamatan melakukan verifikasi dan pendataan langsung ke rumah-rumah warga, angka tersebut menurun tajam.

Camat Duren Sawit, Kelik Sutanto, menjelaskan bahwa hasil verifikasi di lapangan menunjukkan jumlah ATS yang sebenarnya adalah 105 anak.

“Dari angka awal yang mencapai ribuan, setelah kita turun langsung ke lapangan dan berkomunikasi dengan keluarga anak-anak tersebut, jumlah yang benar-benar tidak bersekolah adalah 105 anak. Ini menjadi dasar bagi kita untuk menyusun langkah penanganan yang tepat sasaran,” ujar Kelik, Minggu (30/8/2026).

Baca jugaDukungan Kuat untuk Global Islamic Holistic Education Summit 2026: Membangun Pendidikan Berakar Pesantren, Berwawasan Global

Dari 105 anak tersebut, sebanyak 75 anak menyatakan berkomitmen untuk kembali melanjutkan pendidikan. Menyikapi antusiasme tersebut, jajaran lintas sektor di Kecamatan Duren Sawit segera mempercepat berbagai langkah penanganan agar anak-anak tersebut dapat segera kembali ke bangku sekolah.

Dari 75 anak yang ingin kembali belajar, 11 di antaranya merupakan penyandang disabilitas. Pemerintah kecamatan menempuh langkah khusus bagi kelompok ini, dengan menyalurkan mereka ke sejumlah Sekolah Luar Biasa (SLB) di wilayah Jakarta Timur yang disesuaikan dengan kebutuhan dan kemampuan masing-masing anak.

Namun, penanganan anak penyandang disabilitas menghadapi tantangan tersendiri, mengingat Kecamatan Duren Sawit belum memiliki SLB Negeri. Akibatnya, sebagian anak harus mengakses SLB swasta yang memerlukan biaya.

Kasatlak Pendidikan Wilayah 1 Kecamatan Duren Sawit, Farida Farhah, menjelaskan bahwa pihaknya bekerja sama dengan Puskesmas untuk mengidentifikasi jenis kebutuhan setiap anak guna menempatkan mereka di tempat yang tepat.

Baca jugaLewat Program “Sekolah Kembali”, Dinas Pendidikan DKI Jakarta Rangkul Ratusan Anak Tidak Sekolah Kembali Belajar

“Kami berupaya semaksimal mungkin agar anak-anak penyandang disabilitas ini tetap bisa bersekolah dan mendapatkan pendidikan yang layak, meskipun kita belum memiliki SLB Negeri di sini,” ungkap Farida.

Bagi anak tidak sekolah yang bukan penyandang disabilitas, Kecamatan Duren Sawit bekerja sama dengan Pusat Kegiatan Belajar Mengajar (PKBM) Golden untuk menyelenggarakan proses pembelajaran. Kegiatan belajar mengajar dilaksanakan di Kantor Satuan Pelaksana Pendidikan Kecamatan Duren Sawit, dirancang agar menarik dan mampu memotivasi anak-anak untuk tekun belajar.

Sebagian besar anak tidak sekolah berasal dari keluarga kurang mampu. Oleh karena itu, pemerintah kecamatan menargetkan penyelesaian seluruh proses penanganan pada bulan Agustus ini, agar anak-anak tersebut dapat segera masuk ke dalam Data Pokok Pendidikan (Dapodik). Dengan masuknya ke dalam data tersebut, mereka dapat diusulkan untuk menerima bantuan Kartu Jakarta Pintar.

Baca jugaPemprov DKI Jamin Kelangsungan Pendidikan SDN Kebayoran Lama Selatan 09 di Tengah Rencana Pembangunan Ulang

“Kita percepat penanganannya selesai bulan Agustus ini, supaya mereka masuk Dapodik. Setelah masuk, kita bisa usulkan mendapat Kartu Jakarta Pintar untuk meringankan beban keluarga,” jelas Kelik.

Kelik juga mengingatkan peran penting orang tua dalam mendukung keberhasilan pendidikan anak-anak. Pendampingan dan bimbingan dari orang tua diharapkan dapat menjaga konsistensi anak dalam mengikuti pembelajaran hingga lulus dan memperoleh ijazah.

“Orang tua harus selalu mendampingi dan membimbing anak-anaknya mengikuti proses belajar, sehingga nantinya mereka bisa mendapatkan ijazah dan berguna untuk masa depan,” ujarnya.

Selain itu, penanganan ini juga melibatkan orang tua asuh yang berasal dari tokoh masyarakat, unsur kecamatan, serta para lurah di wilayah Duren Sawit. Kolaborasi lintas sektor ini menjadi kekuatan utama dalam memastikan tidak ada anak yang tertinggal dari akses pendidikan.

Farida Farhah berharap sinergi yang telah terjalin dapat terus diperkuat, sehingga setiap anak di Kecamatan Duren Sawit dapat kembali meraih haknya atas pendidikan dan membuka peluang masa depan yang lebih cerah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *