Gempa M7,7 NTT: Korban Meninggal Bertambah Menjadi 71 Orang, Ratusan Ton Bantuan Disalurkan

IMG 20260817 WA0076
Gempa M7,7 NTT: Korban Meninggal Bertambah Menjadi 71 Orang, Ratusan Ton Bantuan Disalurkan.

Satusuaraexpress.co | Kupang — Situasi pascabencana gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 yang mengguncang wilayah Nusa Tenggara Timur terus berlanjut dengan dukungan penuh dari berbagai pihak. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat jumlah korban meninggal dunia terus bertambah, hingga mencapai angka 71 orang per Rabu (19/8/2026), sekitar pukul 16.00 WIB. Satu korban tambahan baru saja tercatat berasal dari Kabupaten Nagekeo, menambah daftar duka yang sebelumnya telah tercatat di sejumlah kabupaten terdampak.

Selain kehilangan nyawa, dampak gempa ini dirasakan oleh puluhan ribu warga yang kini terpaksa meninggalkan hunian mereka. Sebanyak 59.647 jiwa masih berada di berbagai titik pengungsian, baik yang dikelola pemerintah maupun pengungsian mandiri, akibat bangunan yang rusak parah serta kekhawatiran akan adanya gempa susulan yang kapan saja dapat terjadi.

Kabupaten Manggarai tercatat sebagai daerah dengan jumlah pengungsi terbanyak, yakni mencapai 20.333 jiwa yang kini menempati sementara tempat-tempat yang dianggap aman.

Di tengah situasi yang masih penuh ketidakpastian tersebut, upaya penyaluran bantuan terus digencarkan. BNPB bersama pemerintah daerah bergerak cepat mendistribusikan kebutuhan hidup warga yang terdampak. Hingga Selasa (18/8/2026), sekitar pukul 18.00 WIB, tercatat sebanyak 398 ton bantuan telah dikirimkan melalui jalur udara maupun laut dalam kurun waktu 15 hingga 18 Agustus.

Baca jugaPasca Gempa M7,7, PLN Berhasil Pulihkan Seluruh Sistem Kelistrikan Flores

Jalur darat tetap menjadi andalan utama untuk menjangkau lokasi-lokasi pengungsian dari titik-titik logistik terdekat, meskipun penyaluran dilakukan secara bertahap dengan menyesuaikan kondisi geografis serta keterbatasan akses jalan yang rusak di beberapa titik. Sementara itu, jalur laut juga turut dioptimalkan guna menjangkau wilayah-wilayah yang sulit dilewati melalui jalan darat.

Pada Selasa (18/8/2026), KRI Bung Hatta berangkat dari Pelabuhan Labuan Bajo menuju Pelabuhan Reok, Kabupaten Manggarai, membawa sejumlah bantuan dari BNPB berupa beras, bahan makanan pokok, tenda keluarga, tenda pengungsi, serta berbagai sumbangan yang terkumpul dari unsur-unsur masyarakat luas.

Pemenuhan kebutuhan dasar para pengungsi menjadi prioritas utama yang terus diupayakan. Bantuan yang disalurkan meliputi kebutuhan pangan, air bersih, tempat berlindung berupa tenda, matras, selimut, serta pelayanan kesehatan dan sarana sanitasi. Perhatian khusus juga diberikan bagi kelompok yang paling rentan, antara lain anak-anak, lanjut usia, ibu yang sedang mengandung, serta penyandang disabilitas agar mereka tetap terlindungi dan terlayani dengan baik.

Baca jugaGempa M7,7 Guncang NTT: 47 Warga Meniggal, Ribuan Rumah dan Fasilitas Umum Rusak

Proses pendataan sekaligus penyaluran bantuan terus dilakukan secara bertahap, mengingat para pengungsi tersebar di banyak lokasi, termasuk di tempat-tempat pengungsian mandiri yang belum sepenuhnya terjangkau pendataan. Pemerintah daerah didorong untuk terus memperkuat posko-posko penanganan bencana dan satuan tugas agar kebutuhan masyarakat dapat tercatat dengan baik dan disalurkan secara tepat sasaran.

Untuk mempercepat penanganan masa tanggap darurat, pemerintah turut mengerahkan sumber daya nasional yang terdiri dari unsur TNI, Polri, BNPB, serta unsur pentaheliks lainnya. Personel, logistik, hingga tenaga kesehatan dikerahkan untuk menjangkau wilayah-wilayah yang mengalami kendala akses. Pesawat dan kapal militer juga turut disiapkan guna mendukung kelancaran distribusi bantuan melalui jalur udara maupun laut.

BNPB menegaskan bahwa segenap pengerahan kekuatan dan sumber daya tersebut diarahkan semata-mata untuk mempercepat pelayanan kepada masyarakat yang sedang berduka dan terdampak bencana. Dukungan dan bantuan akan terus diberikan sesuai kebutuhan serta perkembangan situasi yang ada di lapangan, hingga penanganan pascabencana ini perlahan beralih menuju tahap pemulihan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *