Satusuaraexpress.co | Jakarta – Sisa-sisa kenangan belajar masih tertinggal di antara tumpukan reruntuhan yang menganga lebar di SDN Kebayoran Lama Selatan 09, Jakarta Selatan. Sejak atap dan dinding bangunan utamanya ambruk pada November 2024, tak ada tanda-tanda perbaikan yang terlihat hingga hari Selasa, kemarin. Dua tahun berlalu, sekolah itu kini seolah menjadi bangunan mati yang dibiarkan begitu saja di tengah kawasan padat ibu kota.
Pantauan di lokasi menampakkan pemandangan yang sungguh memprihatinkan. Besi-besi kerangka penyangga atap melintir tak beraturan, saling bertumpuk dan menjulang miring seolah tak sanggup lagi menahan beban yang pernah dipikulnya. Genting-genting tanah liat pecah berantakan berserakan di lantai, bercampur dengan puing plafon yang lapuk, potongan kayu jendela, hingga tumpukan buku pelajaran dan alat tulis yang kini tertutup debu tebal berwarna kelabu.
Meja dan kursi belajar yang dulu menjadi tempat siswa menimba ilmu masih tersusun rapi di posisinya, namun kini terkubur sebagian oleh reruntuhan atap yang jatuh menimpanya. Di salah satu potongan dinding yang masih tegak berdiri, selembar jadwal piket kelas yang sudah pudar warnanya masih menempel erat. Lembaran kertas itu menjadi saksi bisu aktivitas belajar mengajar yang tiba-tiba terputus, seolah baru kemarin siswa mencatat nama mereka untuk bertugas menjaga kebersihan kelas.
Baca juga : Pemkot Jakbar Dorong Kolaborasi Wujudkan Pendidikan Berkualitas, Ramah Anak, dan Inklusif
Diketahui saat peristiwa itu terjadi, empat ruang kelas beserta satu Unit Kesehatan Sekolah (UKS) ambruk seketika. Kini, seluruh bangunan utama telah dikosongkan. Tak terdengar lagi riuh suara tawa anak-anak atau sorak guru yang sedang mengajar di sana.
Ratusan siswa terpaksa harus berbagi tempat belajar dengan menumpang di SDN Kebayoran Lama Selatan 11 yang bertetangga. Hanya sepotong lorong pendek yang berjarak beberapa meter dari reruntuhan yang masih berdiri utuh, kini digunakan sebagai ruang kepala sekolah dan ruang administrasi.
Evi (33), salah satu orang tua murid kelas lima, masih teringat jelas peristiwa mengerikan itu terjadi tepat saat libur Pilkada, November 2024 silam.
“Nggak ada angin, nggak ada hujan, tiba-tiba roboh. Robohnya itu juga nggak langsung, pelan sekitar pukul setengah tujuh pagi. Nah, waktu sore hari hujan deras, baru langsung bruk gitu saja,” kenang Evi, Selasa (21/7/2026).
Baca juga : Rekrut 848 Anak, Upaya Pemkot Bogor Tekan Angka Putus Sekolah Lewat Pendidikan Nonformal
Sejak saat itu, kehidupan belajar anak-anaknya berubah total. Mereka kini harus masuk sekolah pada siang hari, membuat waktu istirahat dan kegiatan lain di luar sekolah menjadi terganggu.
“Intinya nggak nyaman, anak-anak tuh penginnya sekolah di sekolahannya sendiri. Masuk siang itu bikin kurang istirahat. Terus harapan anak-anak itu besar banget, ‘Ya Allah, kapan ya sekolah pagi lagi biar aku bisa ngaji?’,” ucap Evi sambil menirukan ucapan putrinya.
Keterlambatan perbaikan ini pun membuat Evi dan orang tua lainnya merasa kecewa mendalam. Bagaimana mungkin sebuah fasilitas pendidikan di kawasan strategis Jakarta Selatan dibiarkan terbengkalai selama bertahun-tahun tanpa ada kejelasan?
“Kembali lagi secara SD kan penginnya masuk pagi, apalagi di Jaksel gitu kan. Buat orang tua murid juga kan mikir, ini kita di Jakarta lho, Jakarta Selatan lagi! Masa seperti ini nggak diperbaiki, kok lama banget. Ini benar-benar roboh yang nggak layak banget, miris banget,” pungkasnya.













