Satusuaraexpress.co | Kabupaten Tangerang — Kebakaran yang melanda Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Jatiwaringin di Kecamatan Mauk, Kabupaten Tangerang, Banten, belum juga dapat dipadamkan secara menyeluruh hingga memasuki hari kelima kejadian. Berdasarkan pantauan terbaru, luas area yang terjangkit api diperkirakan telah meluas mencapai 15 hektare, hampir setengah dari total luas TPA yang mencapai 33 hektare.
Upaya serius penanganan dilakukan langsung oleh jajaran pimpinan tertinggi lingkungan hidup dan penanggulangan bencana. Pada hari Sabtu (4/7/2026), Wakil Menteri Lingkungan Hidup Diaz Faisal Malik Hendropriyono turun langsung meninjau kondisi di lokasi.
Dalam kunjungannya, beliau didampingi oleh sejumlah pejabat utama, antara lain Deputi Bidang Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan Rasio Ridho Sani, Deputi Penegakan Hukum Lingkungan Hidup Rizal Irawan, Bupati Tangerang Mochamad Maesyal Rasyid, serta Direktur Koordinasi Pengendalian Operasi Darurat BNPB Brigjen TNI Djohan Darmawan.
Baca juga : Kebakaran Gudang Tripleks di Meruya, Penyebabnya Pemilik Gudang Membakar Sampah
Sampai saat peninjauan, suasana di TPA masih dipenuhi kepulan asap putih pekat yang terus membubung tinggi ke langit. Meskipun tampak secara kasat mata kobaran api di permukaan tumpukan sampah sudah mulai mereda dan tak lagi terlihat lidah api yang menyala terang, asap yang keluar menjadi tanda nyata bahwa panas masih bersemayam di dalam lapisan tumpukan sampah yang sangat tebal.
Di sepanjang area kejadian, terlihat kesigapan petugas gabungan yang bekerja bahu membahu. Mereka mengarahkan semprotan air bertekanan tinggi dari selang-selang panjang menembus ke berbagai titik yang mengeluarkan asap.
Tak hanya mengandalkan kekuatan dari darat, tim khusus Manggala Agni pun dikerahkan untuk menjangkau titik-titik panas yang sulit dicapai dari permukaan. Dukungan kekuatan juga datang dari udara, di mana helikopter milik BNPB melaksanakan operasi penyiraman air secara masif atau water bombing untuk mempercepat proses pendinginan dan memutus jalaran api.
Baca juga : Kualitas Udara di Sekitar TPA Jatiwaringin Capai Tingkat Berbahaya Akibat Kebakaran
Deputi Penegakan Hukum Lingkungan Hidup KLH, Rizal Irawan, menyampaikan gambaran rinci mengenai perkembangan dan kompleksitas penanganan ini kepada Wamen Diaz. Ia menjelaskan bahwa kebakaran terus meluas sejak hari pertama. Dari awalnya hanya menghanguskan area seluas sekitar 3 hektare, perkiraan luas terbakar meningkat tajam menjadi 15 hektare tercatat hingga pukul 20.00–21.00 WIB pada malam 3 Juli lalu.
Pantauan menggunakan teknologi modern memperlihatkan tantangan yang lebih besar. Melalui rekaman dari drone thermal, pihaknya mendeteksi adanya ratusan titik panas yang tersebar secara merata di seluruh area gunungan sampah. Sebaran titik api yang terjadi di banyak tempat ini membuat penanganan menjadi jauh lebih rumit.
Ditambah lagi, lokasi TPA berada sangat dekat dengan kawasan permukiman warga, sehingga arah hembusan angin menjadi faktor krusial yang terus dipantau demi menjaga keselamatan masyarakat sekitar.
Baca juga : Diduga Karena Bakar Sampah,Satu Rumah Hangus Terbakar
Rizal juga mengungkapkan alasan utama mengapa api sulit dimatikan hingga tuntas. Struktur tumpukan sampah di TPA Jatiwaringin menjulang sangat tinggi, mencapai ketinggian antara 20 hingga 30 meter. Kondisi ini berbeda jauh dengan kebakaran lahan biasa. Api bisa saja padam di permukaan, namun tetap bersembunyi dan menyala perlahan di lapisan kedalaman yang tak terjangkau pandangan mata maupun semprotan air biasa.
“Kondisi ini justru membuatnya lebih berbahaya dibandingkan kebakaran lahan gambut sekalipun. Jika gambut hanya memiliki kedalaman terbakar maksimal 4–5 meter, di sini panas bisa menyimpan diri hingga kedalaman puluhan meter. Ditambah lagi, tumpukan sampah menghasilkan gas metana yang sangat mudah terbakar dan berisiko memicu ledakan sewaktu-waktu,” jelas Rizal.
Guna memperlancar segala upaya penanggulangan risiko ini, Pemerintah Kabupaten Tangerang telah resmi menetapkan status tanggap darurat melalui Surat Keputusan. Langkah ini diambil untuk mempermudah koordinasi, mobilisasi sumber daya, serta memastikan seluruh dukungan peralatan dan tenaga kerja dapat disalurkan secara maksimal.
Hingga berita ini disusun, barisan petugas gabungan tetap berjaga tanpa henti, terus menyemprot dan memantau setiap titik panas agar api tidak kembali menyala besar dan meluas ke area yang lebih luas lagi.













