Satusuaraexpress.co | Jakarta – Jakarta Barat, sebagai salah satu kawasan tua di ibu kota, kembali menyisakan kisah sejarah yang menarik untuk ditelusuri. Baru-baru ini, Suku Dinas Kebudayaan Jakarta Barat menindaklanjuti sebuah temuan penting berupa empat lempengan batu granit yang diduga kuat sebagai benda cagar budaya.
Objek-objek ini ditemukan di wilayah Kelurahan Tanjung Duren Selatan, Kecamatan Grogol Petamburan, dan diperkirakan merupakan bagian dari Bongpay lempengan batu bertuliskan yang memiliki nilai sejarah tinggi bagi komunitas Tionghoa.
Langkah penelusuran ini dilakukan setelah adanya laporan mengenai keberadaan benda-benda bersejarah tersebut. Tim dari Suku Dinas Kebudayaan Jakarta Barat, yang dipimpin langsung oleh Kepala Seksi Perlindungan, Sekrino, telah berkunjung ke Kantor Lurah Tanjung Duren Selatan untuk meninjau langsung kondisi dan keberadaan keempat lempengan batu tersebut.
Menurut penjelasan Sekrino, penemuan ini sejatinya bukanlah hal yang mengejutkan jika dilihat dari latar belakang sejarah wilayah tersebut.
“Dari pengamatan awal, penemuan ini tidak mengherankan karena wilayah Jakarta Barat, terutama Glodok dan kawasan Tanjung Duren serta sekitarnya, sejak dahulu memang dikenal sebagai kantong kebudayaan masyarakat Tionghoa,” ujarnya.
Baca juga : Aksi Kapolsek Tanjung Duren Turun Urai Lalu-lintas Hingga Dorong Mobil di Genangan Air
Berdasarkan catatan peta-peta lama Jakarta dan berbagai sumber tertulis sejarah, wilayah Tanjung Duren dulunya merupakan lokasi berdirinya salah satu Tepekong atau tempat peribadatan masyarakat Tionghoa terbesar di masa Batavia. Meskipun belum dapat dipastikan kaitan langsungnya, Sekrino menduga kuat bahwa keempat lempengan batu beraksara Tionghoa ini memiliki hubungan erat dengan keberadaan bangunan bersejarah tersebut.
Kenyataan yang menyayat hati ternyata menyelimuti nasib benda-benda bersejarah ini. Berdasarkan keterangan yang diterima dari pihak kelurahan, masyarakat sekitar sebenarnya telah mengetahui keberadaan lempengan batu ini sejak lama. Namun, karena kurangnya pemahaman dan pengetahuan mengenai nilai sejarah yang dikandungnya, benda-benda berharga itu justru diperlakukan seolah benda biasa.
“Ada yang memanfaatkannya sebagai alas saat mencuci kendaraan bermotor, dan sebagian lainnya bahkan pernah digunakan sebagai bahan tambahan dalam pembangunan rumah warga, ” ujarnya.
Menyadari nilai penting dari temuan ini, Sekrino menyatakan akan segera mengirimkan nota dinas kepada Dinas Kebudayaan DKI Jakarta untuk melaporkan secara resmi penemuan ini. Ia pun berharap agar Pusat Konservasi Cagar Budaya (PKCB) DKI Jakarta dapat menindaklanjuti dengan melakukan penelitian dan kajian yang lebih mendalam serta komprehensif.
Baca juga : Akibat Faktor Ekonomi, Ayah di Tanjung Duren Aniaya Dua Anaknya
“Temuan ini dapat melengkapi khazanah sejarah perkembangan Jakarta, khususnya jejak keberadaan dan peran masyarakat Tionghoa dalam membangun kota ini,” tambahnya.
Sementara itu, Lurah Tanjung Duren Selatan, Indri Prawiji, menjelaskan bahwa awal mula diketahuinya keberadaan batu ini berawal dari unggahan warga di media sosial. Mendapatkan informasi tersebut, jajarannya langsung turun melakukan pemantauan dan pengecekan ke lokasi persisnya, yaitu di lingkungan RW 01 dan RW 05.
Saat pertama kali ditemukan, keempat lempengan batu granit itu tergeletak begitu saja di pinggir jalan, tersembunyi di kawasan pemukiman padat warga. Mengingat risiko kerusakan, pergeseran, atau bahkan hilang, pihak kelurahan segera mengambil langkah pengamanan dengan memindahkan dan menyimpannya di lingkungan kantor kelurahan.
Indri pun menyampaikan harapannya agar proses penelitian lebih lanjut dapat memberikan kepastian hukum dan sejarah atas benda tersebut.
“Semoga penelitian lebih lanjut bisa memastikan apakah batu itu termasuk artefak yang memiliki sejarah terkait perkembangan Jakarta, sehingga kita dapat lebih menghargai dan merawat warisan yang ditinggalkan leluhur kita,” ungkapnya.
Kini, keberadaan lempengan batu tersebut menjadi saksi bisu masa lalu yang menanti untuk dibuka kembali kisahnya bagi generasi Jakarta saat ini dan mendatang.













