DPRD DKI Sebut RDF Rorotan upaya Pengurangan Sampah dari Sumber

IMG 20260204 WA0010
Ketua DPRD DKI Jakarta, Khoirudin.

Satusuaraexpress.co | Jakarta — Di tengah tumpukan sampah yang semakin menumpuk di Tempat Pemrosesan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang, upaya mencari solusi alternatif pengelolaan sampah di Jakarta menjadi semakin mendesak. Peristiwa longsor yang pernah terjadi di lokasi tersebut menjadi pengingat keras bahwa sistem pengelolaan sampah yang ada saat ini perlu diperkuat, baik dari sisi teknologi maupun partisipasi masyarakat.

Ketua DPRD DKI Jakarta Khoirudin, melihat fasilitas pengolahan sampah Refuse Derived Fuel (RDF) di Rorotan sebagai salah satu jalan keluar yang menjanjikan. Menurutnya, volume sampah yang masuk ke TPST Bantargebang sudah mencapai tingkat yang sangat tinggi, sehingga membutuhkan dukungan teknologi pengolahan yang lebih modern dan efisien.

“Tidak bisa dihindari karena memang sudah terlalu tinggi tumpukan sampahnya. RDF Rorotan menjadi solusi karena kapasitasnya sekitar 2.500 ton,” ujarnya, Kamis (12/3/2026).

Khoirudin berharap keberhasilan operasional RDF Rorotan dapat menjadi model bagi pembangunan fasilitas serupa di berbagai wilayah Jakarta. Dengan adanya fasilitas pengolahan yang lebih dekat dengan sumber sampah, ketergantungan terhadap pengiriman sampah ke Bantargebang dapat dikurangi secara signifikan.

Baca jugaDPRD DKI Dukung Pembatasan Akses Anak di Bawah 16 Tahun terhadap Platform Digital Berisiko Tinggi

“Kalau di sana sudah berjalan baik, kita ingin membangun fasilitas serupa di beberapa wilayah Jakarta sehingga tidak perlu lagi semuanya dikirim ke TPST Bantargebang,” tambahnya.

Terkait keluhan bau yang muncul dari fasilitas RDF, Khoirudin memberikan kepastian bahwa hasil pengecekan menunjukkan tingkat bau masih berada dalam batas toleransi. Saat ini, sudah tersedia alat ukur kualitas udara yang juga dapat mendeteksi unsur bau di lingkungan sekitar fasilitas, sehingga pemantauan dapat dilakukan secara terus-menerus.

Sementara itu, Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) DKI Jakarta, Asep Kuswanto, menekankan bahwa teknologi pengolahan seperti RDF Rorotan saja tidak cukup. Pengurangan sampah dari sumber merupakan kunci utama untuk menjaga keberlanjutan sistem pengelolaan sampah di Jakarta dan mengurangi beban TPST Bantargebang.

“Semakin banyak sampah yang dapat dipilah dan dikurangi sejak dari rumah tangga, perkantoran, hingga kawasan permukiman, maka semakin kecil pula tekanan yang harus ditanggung TPST Bantargebang sebagai lokasi pengolahan akhir,” ujar Asep.

Menurutnya, pengurangan sampah dari sumber adalah bagian penting dari strategi jangka panjang pengelolaan sampah Jakarta. Langkah-langkah sederhana yang dapat dilakukan masyarakat antara lain memilah sampah menjadi kategori mudah terurai, material daur ulang, residu, serta sampah B3 rumah tangga. Selain itu, masyarakat juga didorong untuk melakukan pengomposan sampah makanan dan memanfaatkan kembali barang-barang yang masih memiliki nilai guna.

Baca jugaPolemik Pembangunan Krematorium, DPRD DKI dan Pemkot Jakbar Buka Forum Dialog untuk Tampung Aspirasi Warga

“Langkah-langkah tersebut terbukti efektif menekan volume sampah yang harus diangkut ke fasilitas pengolahan maupun tempat pemrosesan akhir,” jelasnya.

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta terus memperkuat sistem pengelolaan sampah dari hulu hingga hilir, termasuk melalui pengembangan fasilitas modern seperti RDF Plant Rorotan yang mengolah sampah menjadi bahan bakar alternatif bagi industri semen. Namun, Asep menegaskan bahwa semua upaya ini membutuhkan partisipasi aktif masyarakat.

DLH DKI Jakarta pun terus mengajak warga untuk membangun budaya pemilahan dan pengurangan sampah dalam kehidupan sehari-hari. “Jika masyarakat semakin aktif memilah dan mengurangi sampah, maka sistem pengelolaan sampah Jakarta akan semakin berkelanjutan dan beban TPST Bantargebang dapat terus berkurang karena hanya residu yang dikirim ke sana,” pungkasnya.

Dengan kombinasi teknologi pengolahan yang canggih dan kesadaran masyarakat untuk mengurangi sampah dari sumber, diharapkan masalah tumpukan sampah di Jakarta dapat teratasi dengan lebih baik, dan TPST Bantargebang tidak lagi menanggung beban yang berlebihan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *