Pemkot Jakbar Siapkan Waduk Seluas 10 Hektare untuk Penanggulang Banjir

IMG 20260223 WA0004
Lurah Kamal, Edy Sukarya (kanan) meninjau lahan yang akan digunakan untuk Waduk di Kalideres, Jakarta Barat.

Satusuaraexpress.co | Jakarta — Area Taman Pemakaman Umum (TPU) Pegadungan di Kelurahan Kamal, Kecamatan Kalideres, Jakarta Barat, tidak lagi hanya direncanakan sebagai kawasan pemakaman semata. Sebagian dari lahan seluas 65 hektar akan diubah fungsi menjadi waduk dengan luas sekitar 10 hektar, sebagai upaya penanggulangan banjir yang kerap mengganggu wilayah tersebut dan sekitarnya.

Lurah Kamal, Edy Sukarya, mengatakan setelah proses pengosongan lahan permukiman warga selesai, akan segera dilakukan tahapan pengurugan dan peninggian tanah hingga sekitar dua meter. Langkah ini bertujuan untuk menjaga area pemakaman tetap kering dan mencegah terjadinya genangan air yang berpotensi menyebabkan banjir.

“Jadi enggak semuanya untuk kuburan informasinya, tapi juga akan dibikinin waduk. Setelah kosong langsung diuruk, dengan ketinggian 2 meter kurang lebih. Jadi langsung ditinggiin juga biar enggak banjir kan,” jelas Edy, Senin (23/2/2026).

Ia menegaskan pentingnya pembangunan waduk tersebut, karena tidak hanya melindungi TPU tetapi juga seluruh permukiman sekitar dari ancaman banjir. Sementara itu, proses relokasi warga terdampak proyek terus berlangsung. Hingga Selasa (10/2) lalu, sebanyak sembilan Kartu Keluarga (KK) telah berhasil dipindahkan ke rumah susun (rusun) yang disediakan pemerintah.

Baca juga : Festival Apresiasi DPRD DKI Jakarta Tahun Baru Imlek 2026

“Mereka kini tinggal di beberapa lokasi rusun, antara lain 4 KK di Rusun Tegal Alur, 3 KK di Rusun Pesakih, 1 KK di Rusun Rawa Bebek, dan 1 KK di Rusun Rawasari. Sudah dipindah kemarin. Kita sengaja masuk duluan biar jadi contoh,” ucapnya.

Target pengosongan seluruh lahan adalah paling lambat tujuh hari setelah Lebaran tahun ini. “Kelurahan Kamal targetnya 7 hari setelah Lebaran. Insyaallah clear,” katanya penuh keyakinan.

Namun, proses relokasi tidak sepenuhnya berjalan lancar. Sebagian warga merasa keberatan karena lokasi rusun yang ditawarkan berada jauh dari tempat tinggal lama mereka. Beberapa opsi rusun bahkan terletak di luar Jakarta Barat, seperti Rusunawa Jagakarsa (Jakarta Selatan), Rusunawa Rorotan, dan Nagrak (Jakarta Utara).

“Pada prinsipnya mereka mau semua sebetulnya (direlokasi), cuma sayang rusunnya jauh. Mereka kan nyari nafkahnya di sini, itu masalahnya,” ungkap Edy.

Ia memahami perasaan warga yang sebagian besar telah menetap selama lebih dari 30 tahun dan menggantungkan mata pencaharian di sekitar kawasan TPU Pegadungan.

Baca juga : Gubernur DKI Wajibkan Pemasangan Ornamen Betawi di Gapura dan Ruang Publik Jakarta pada Tahun 2026

“Mereka kan bertahun-tahun di situ, 30 tahun lebih. Pindah doang gampang, tapi masalahnya cari nafkah,” ujarnya.

Selain itu, pada awal tahun 2026 sempat terjadi kendala terkait fasilitas rusun seperti atap bocor dan pasokan air yang belum lancar. Namun kini, Edy memastikan semua unit yang ditempati warga sudah memenuhi standar layak huni.

“Alhamdulillah. Perintah Bu Wali, orang mau pindah harus rapi. Jangankan kamar, jalanannya pun harus rapi kita sambut. Alhamdulillah sudah, mantap, siap semua fasilitas,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *