Satusuaraexpress.co | Jakarta — Pada Kamis (18/12/2025), kawasan Silang Selatan Monas, Jakarta Pusat menjadi lokasi untuk aksi unjuk rasa yang dilakukan oleh Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Solidaritas Nelayan Indonesia (SNI). Kegiatan yang dimonitor secara langsung ini diikuti oleh sekitar 3.619 orang massa, dengan dipimpin oleh Akmal, Hadi Sutrisno, dan James Then.
Tuntutan yang Disampaikan
Aksi ini mengangkat sejumlah tuntutan krusial bagi kelompok nelayan di seluruh Indonesia, antara lain:
– Penurunan Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) sebesar 3%
– Penyediaan Bahan Bakar Minyak (BBM) khusus untuk keperluan laut
– Penghapusan Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) untuk sektor kelautan
– Penolakan terhadap aktivitas kapal asing di wilayah perairan Indonesia
– Pencabutan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 11 Tahun 2023
Penyampaian Aspirasi dari Perwakilan Daerah
Berbagai perwakilan dari daerah berbeda menyampaikan pandangan dan keluhan mereka dalam orasi yang disampaikan di lokasi.
Baca juga : Gelar Khitanan Massal, Bakti Kesehatan Polres Metro Jakarta Selatan Bersama Masyarakat
Wandi dari Indramayu menyatakan bahwa keberadaan massa di Jakarta merupakan bukti kesatuan SNI, meskipun sebelumnya ada upaya teror agar mereka tidak turun ke ibu kota. Menurutnya, pertemuan dengan menteri sebelumnya hanya menghasilkan janji yang dianggap tidak sesuai dengan kenyataan, karena kebijakan yang dikeluarkan tidak sepenuhnya untuk kepentingan nelayan.
Edi dari Cilacap menegaskan penolakan terhadap semua kebijakan yang merugikan nelayan dan mengajak untuk menuntut penggantian Menteri Trenggono. Ia menyebut kondisi saat ini sebagai “bencana kemanusiaan” karena kesejahteraan nelayan diabaikan, sementara pemerintah dianggap telah melakukan intimidasi dan memperlakukan nelayan dengan cara yang tidak pantas.
Asad dari Tuban menyampaikan bahwa sejak Presiden Prabowo menjabat, harapan nelayan akan terwujudnya kesejahteraan belum tercapai. Kebijakan yang dikeluarkan dinilai hanya membuat rakyat sengsara, sementara akses nelayan untuk mencari ikan diperumit dan kapal asing justru dengan mudah beroperasi di perairan negara.
Baca juga : Aset Pemda Banyak Terbengkalai di Diamkan Pemkot Jakarta Barat
Ibu Ida dari Indramayu menekankan bahwa nelayan bukanlah penjahat atau perusak negara, melainkan orang yang bekerja dengan jujur untuk mencari nafkah, menjaga laut, dan mempertahankan hidup keluarga. Ia menyatakan penolakan terhadap kriminalisasi terhadap nelayan dan mengingatkan bahwa negara tampaknya lebih berpihak pada kepentingan modal daripada rakyat kecil.
Selain itu, ia juga menyampaikan belasungkawa terhadap korban bencana di Sumatra Aceh dan Kalimantan, serta menegaskan bahwa jika tuntutan tidak ditanggapi, akan dilakukan aksi kembali dengan massa yang lebih besar.
Tahapan Kegiatan Aksi
Setelah tiba di lokasi dan menyampaikan serangkaian orasi, massa aksi secara bersama-sama menyanyikan lagu kebangsaan “Bagimu Negeri” sebagai bentuk pengakuan terhadap kesatuan negara. Selanjutnya, 20 perwakilan massa melakukan pertemuan dengan pihak Sekretariat Negara untuk menyampaikan tuntutan secara langsung.
Akhirnya, seiring dengan turunnya hujan, massa mulai berangsur-angsur meninggalkan lokasi. Akses jalan di Silang Selatan Monas kemudian kembali dibuka dan dapat digunakan secara normal.













