Kritik Tajam KAI DKI Jakarta: Kinerja Pemprov Dinilai Belum Tuntas dan Kurang Turun ke Lapangan

file 000000005a2c71fa91f8ea4d20bf48b4
Umar Abdul Aziz.

Satusuaraexpress.co | Jakarta — Tokoh Masyarakat sekaligus Wakil Ketua Kongres Advokat Indonesia (KAI) DKI Jakarta, Umar Abdul Aziz, S.Pd., S.H., M.H., melayangkan kritik yang sangat tajam terhadap kinerja Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Menurut pandangannya, pemerintahan daerah ibu kota belum benar-benar siap maupun bekerja secara tuntas dalam menjalankan amanah yang diemban, serta masih banyak tertinggal dalam menyelesaikan berbagai persoalan mendasar yang dirasakan langsung oleh warga Jakarta.

Salah satu catatan keras yang disampaikan Umar adalah kecenderungan Pemprov DKI untuk melimpahkan berbagai permasalahan rumit langsung ke pemerintah di tingkat kewilayahan. Langkah pelimpahan tugas ini, sayangnya, tidak diiringi dengan pendampingan atau aksi nyata yang terlihat di lapangan.

Ia menilai bahwa para pemimpin di tingkat wilayah justru jarang turun langsung melihat kondisi riil di masyarakat, seolah-olah hanya menginginkan hasil akhir yang rapi tanpa mengetahui akar masalahnya secara mendalam.

“Pemimpin di wilayah jarang sekali turun ke lapangan. Maunya tinggal terima beres, sat-set-sat-set rapi. Contohnya seperti penanganan banjir baru-baru ini, di mana pemimpin daerah selalu ditekan oleh pimpinan pusat, namun penyelesaiannya belum menyentuh akar persoalan,” ungkap Umar kepada awak media.

Baca jugaGubernur DKI Jakarta Pramono Anung Bakal Lantik Ratusan ASN, Pilih Hari Rabu dengan Alasan Khusus

Karena masalah ini terus berulang, ia pun mendesak adanya sinergitas yang lebih kuat dan nyata antara kepemimpinan di tingkat wilayah dengan jajaran pemerintahan di Balai Kota, agar kebijakan yang dibuat dapat berjalan selaras dan efektif.

Selain masalah penanganan banjir dan pola kerja birokrasi, Umar juga menyoroti kondisi infrastruktur yang memprihatinkan di sejumlah titik strategis ibu kota. Salah satu contoh yang disampaikannya adalah kawasan Kemang, di mana kondisi jalan banyak yang rusak dan berlubang, sementara fasilitas pembatas jalan hingga marka jalan atau rase sering kali tidak berfungsi sebagaimana mestinya dan terabaikan.

Persoalan lingkungan pun tak luput dari perhatiannya. Hingga saat ini, pengelolaan sampah di sebagian besar wilayah DKI Jakarta dinilai belum menemukan solusi yang pasti dan berkelanjutan. Masalah penumpukan sampah masih kerap terjadi, karena jadwal pengangkutan yang sering kali terlambat dan tidak konsisten, sehingga mengganggu kenyamanan serta kebersihan lingkungan warga.

Di sisi pelayanan publik, Umar meminta Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung untuk segera melakukan evaluasi menyeluruh terhadap kinerja seluruh Aparatur Sipil Negara (ASN) di bawah kepemimpinannya. Ia menegaskan bahwa fasilitas serta pelayanan yang diterima warga saat ini sama sekali tidak sebanding dengan kewajiban pajak yang harus dibayarkan, bahkan nilainya terus meningkat dari tahun ke tahun.

Baca jugaTokoh Pemuda Jakarta Barat Umar Abdul Aziz Bantah Keras Isu Pemerasan dan ‘Backing’ Bangunan Ilegal, Ancam Tempuh Jalur Pidana

“Warga Jakarta taat membayar pajak, tapi mengapa akses terhadap berbagai fasilitas justru semakin sulit didapatkan? Pemerintah juga terlihat gagal menekan harga kebutuhan pokok. Kita bisa melihat sendiri, harga cabai meroket, kebutuhan rumah tangga semakin mahal dan tidak terjangkau, sementara pajak tetap berjalan dan ikut naik terus,” tegas Umar.

Umar juga membeberkan kenyataan pahit mengenai ketimpangan sosial yang masih sangat mencolok di tengah masyarakat, meskipun Pendapatan Asli Daerah (PAD) DKI Jakarta tercatat tinggi namun belum mampu mengentaskan kemiskinan secara merata. Berdasarkan pengamatannya, kesenjangan ini sangat terasa terlihat, salah satunya di wilayah Jakarta Selatan.

“Setiap ada kegiatan atau razia di Jakarta Selatan, banyak sekali ditemukan warga yang hidup dalam kemiskinan dan rela mengantre berjam-jam di pinggir jalan hanya demi menunggu sedekah sebesar Rp50.000 dari dermawan yang lewat. Di sisi lain, terdapat banyak panti sosial kelolaan swasta yang sangat berjuang dan membutuhkan bantuan anggaran dari Pemprov, namun belum mendapatkan perhatian yang cukup,” ungkap Umar.

Di akhir pernyataannya, Umar berharap Gubernur DKI Jakarta beserta seluruh jajarannya tidak lagi hanya bekerja di balik meja dan bergerak hanya saat ada tekanan. Ia menuntut agar pemerintah lebih peka dan tanggap terhadap kondisi ekonomi masyarakat yang semakin sulit dan berat.

“Jangan duduk diam dan merasa cukup dengan laporan di atas kertas, tapi kerjalah dengan sungguh-sungguh untuk rakyat, kerjalah untuk wong cilik yang setiap hari berjuang hidup di ibu kota,” pungkas Umar.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *