Satusuaraexpress.co | Jakarta — Suasana yang biasanya tenang di sekitar Jalan Gusti Ngurah Rai, Kelurahan Cipinang Muara, Kecamatan Jatinegara, Jakarta Timur, berubah menjadi kacau dan menakutkan pada Selasa sore, 5 Mei 2026. Saat jam menunjukkan pukul 18.19 WIB, suara teriakan, benturan, dan ledakan petasan memecah keheningan, menandai pecahnya tawuran antara dua kelompok warga, yaitu dari Kebon Singkong dan Cipinang Muara.
Segalanya bermula dari tindakan tidak bijak sekitar pukul 18.02 WIB, ketika sekelompok warga dari Kebon Singkong melemparkan petasan ke arah warga di lingkungan Jagal RW 010 Kelurahan Cipinang. Tindakan ini langsung memicu kemarahan dan ketegangan yang sudah lama tersembunyi di antara kedua kelompok. Dalam waktu singkat, suasana menjadi semakin panas.
Warga dari kedua sisi saling berhadapan, saling melempar benda, dan terlibat dalam pertempuran fisik yang membuat warga sekitar merasa takut dan panik. Anak-anak menangis, orang tua berusaha menyelamatkan keluarganya, dan jalanan yang biasanya ramai kini kosong seketika karena orang-orang berlindung di dalam rumah.
Di tengah kekacauan yang tak terkendali itu, ada satu orang yang berusaha menjadi penengah dan meredakan ketegangan. Ia adalah Nur Hasan, seorang warga yang dikenal sebagai orang yang peduli dan selalu berusaha menjaga kedamaian di lingkungannya.
Baca juga : Kericuhan di Petamburan: Dua Lapak Terbakar Akibat Tawuran Warga
Menurut keterangan saksi mata, Nur Hasan berusaha keras mencegah warga dari RW 010 Cipinang Jagal untuk tidak membalas serangan dan tidak terjebak dalam lingkaran kekerasan.
Ia berteriak meminta mereka tenang, serta menyuruh semua warga untuk segera masuk ke dalam rumah masing-masing demi keselamatan bersama. Namun, niat baiknya itu justru membawa nasib buruk baginya.
Dalam usahanya melerai dan memastikan semua orang aman, Nur Hasan berdiri tepat di tengah-tengah jalur rel kereta api yang melintas di dekat lokasi tawuran. Ia begitu fokus pada upayanya menghentikan pertengkaran sehingga tidak menyadari bahaya yang sedang mendekat dari kedua arah.
Tiba-tiba, dua kereta api datang secara bersamaan satu bergerak dari arah Jakarta menuju Bekasi, dan yang lainnya menuju Jawa. Karena posisinya berada tepat di tengah rel dan tidak ada waktu lagi untuk menyingkir, Nur Hasan tertabrak oleh kereta-kereta itu dengan kekuatan yang dahsyat.
Sesaat kemudian, kekacauan seolah berhenti sejenak. Warga yang sedang bertengkar tiba-tiba terdiam saat melihat kejadian mengerikan itu. Nur Hasan ditemukan tergeletak tak bernyawa di samping rel, tubuhnya mengalami luka parah akibat tabrakan itu.
Suasana yang tadinya penuh kemarahan kini berubah menjadi kesedihan dan rasa bersalah yang mendalam. Jasad korban kemudian dibawa ke Rumah Sakit Polri Kramat Jati, Jakarta Timur, untuk penanganan lebih lanjut dan proses identifikasi.
Baca juga : Kericuhan di Jalan Jati Pinggir: Tawuran Antarwarga Petamburan Berakhir dengan Dua Korban Luka-Luka
Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Budi Hermanto, mengonfirmasi peristiwa itu saat dihubungi pada Rabu, 6 Mei 2026. Ia menyebutkan bahwa kejadian ini adalah bukti betapa berbahayanya tindakan kekerasan yang seringkali dimulai dari hal kecil.
Kombes Budi juga mengimbau seluruh masyarakat untuk selalu menjaga ketertiban dan menciptakan suasana yang kondusif di lingkungan masing-masing.
Ia juga mengingatkan bahwa jika ada gangguan keamanan atau ketertiban masyarakat, atau jika membutuhkan bantuan darurat, warga dapat langsung menghubungi Call Center Polri di nomor 110 agar penanganan dapat dilakukan dengan cepat dan tepat, tanpa harus mengambil tindakan sendiri yang justru dapat membahayakan nyawa orang lain maupun diri sendiri.
Peristiwa tragis ini menjadi pelajaran berharga bagi kita semua: bahwa kekerasan tidak akan pernah menyelesaikan masalah, melainkan hanya akan menimbulkan kerugian, kesedihan, dan bahkan kehilangan nyawa yang tidak tergantikan.













