Satusuaraexpress.co | Jakarta — Rabu (15/4/2026) menjadi tanggal bersejarah bagi pemerintahan Kota Jakarta Selatan. Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, secara resmi melantik Syafrin Liputo sebagai Wali Kota Jakarta Selatan yang baru. Pelantikan ini menandai perjalanan karier yang luar biasa bagi sosok yang selama ini sangat lekat dengan dunia transportasi ibu kota.
Syafrin Liputo kini resmi menggantikan posisi yang sebelumnya dipegang oleh M. Anwar. Di sisi lain, posisi Wakil Wali Kota diisi oleh Firmanudin Ibrahim, yang menggantikan Ali Murthadho. Kehadiran duet baru ini membawa angin segar, namun di balik pelantikan megah tersebut, tersimpan kisah perjalanan karier yang penuh warna dan liku-liku bagi kedua pejabat ini.
Siapa yang tidak mengenal Syafrin Liputo? Sosok yang identik dengan seragam khas Dinas Perhubungan (Dishub) ini dikenal tegas dan memiliki dedikasi tinggi dalam mengatur lalu lintas Jakarta. Kariernya di dunia transportasi sangat panjang, bahkan ia sempat menjabat sebagai Kepala Dinas Perhubungan DKI Jakarta sejak tahun 2019.
Namun, jalan menuju kursi Wali Kota ini tidak selalu mulus. Sebelumnya, Syafrin pernah merasakan pahitnya dicopot dari jabatan. Peristiwa itu terjadi pada tahun 2015, saat ia masih menjabat sebagai Kepala Bidang Pengendalian Operasional Dishub DKI di era kepemimpinan Gubernur Basuki Tjahaja Purnama (Ahok).
Setelah pencopotan tersebut, Syafrin sempat berada dalam posisi non-job atau tidak menempati posisi tertentu. Namun, semangatnya tidak padam. Ia kemudian mendaftar dan bergabung dengan Badan Pengelola Transportasi Jabodetabek (BPTJ) di bawah Kementerian Perhubungan RI, sebelum akhirnya kembali ke lingkungan Pemprov DKI dan kini dipercaya memimpin salah satu wilayah strategis, Jakarta Selatan.
Sama halnya dengan Syafrin, Wakil Walikota Jakarta Selatan yang baru, Firmanudin Ibrahim, juga memiliki catatan sejarah yang serupa. Ia pernah mengalami momen pencopotan jabatan di masa lalu.
Kisah itu bermula saat Firmanudin menjabat sebagai Camat Tamansari. Pada Oktober 2018, di era Gubernur Anies Baswedan, ia dicopot dari jabatannya. Keputusan itu diambil terkait insiden pembongkaran bangunan PAUD Tunas Bina di Pinangsia yang dilakukan saat jam belajar berlangsung. Tindakan tersebut dinilai kurang bijaksana dan melalaikan tanggung jawab.
Gubernur saat itu menegaskan bahwa pencopotan merupakan langkah kedisiplinan dan upaya mencari pemimpin yang lebih bijaksana dalam mengambil keputusan. Meski demikian, Firmanudin kala itu merasa pembongkaran yang dilakukan sudah sesuai prosedur dan merupakan bentuk penegakan aturan bangunan, serta menganggap dirinya hanya diberhentikan sementara.
Meski pernah melewati masa sulit dan ujian karier yang berat, kedua tokoh ini membuktikan bahwa pengalaman adalah guru terbaik. Kini, dengan kepercayaan yang diberikan oleh Gubernur Pramono Anung, Syafrin Liputo dan Firmanudin Ibrahim siap menulis lembaran baru, membawa perubahan, dan memimpin Jakarta Selatan ke arah yang lebih baik.











