Di tengah Gempuran Penjualan Online, Pasar Tradisional Jakarta Kian Lengang Pasca Pandemi

Suasana Pasar Pramuka Matraman, Jakarta Timur.

Satusuaraexpress.co | Jakarta — Suasana yang dulunya ramai dan penuh semangat di berbagai pasar tradisional di Jakarta kini terasa semakin lengang. Sejak Pandemi Covid-19 melanda dan gempuran penjualan online, denyut aktivitas jual beli di tempat-tempat yang selama ini menjadi jantung perekonomian rakyat belum mampu pulih sepenuhnya, bahkan cenderung semakin sepi dan membuat para pedagang merasakan penurunan omzet yang signifikan.

Ketua Komisi B DPRD DKI Jakarta, Nova Harivan Paloh menyebut pergeseran daya beli masyarakat menjadi salah satu penyebab utama lesunya aktivitas pasar tradisional, dengan penurunan omzet mencapai sekitar 50 persen bahkan lebih. Kondisi ini diperparah dengan maraknya penjualan daring yang membuat pengunjung pasar semakin berkurang.

“Pergeseran pola belanja masyarakat ke platform online membuat konsumen yang sebelumnya berbelanja langsung kini lebih memilih memesan berbagai kebutuhan secara daring, ” kata Nova, Rabu (21/1/2026).

Untuk Nova meminta agar pemerintah turun tangan mengatur penjualan daring agar tercipta kesetaraan harga dan persaingan yang lebih adil dengan pedagang pasar tradisional.

Baca juga : Pemprov DKI Jakarta Lanjutkan OMC Hari Keempat, Tiga Sorti Dikerahkan Tekan Potensi Hujan Lebat

Sementara, Anggota Komisi B DPRD DKI Jakarta, Wa Ode Herlina juga mengakui bahwa kebiasaan kaum ibu yang dulunya senang berbelanja sayur-sayuran sambil mampir melihat-lihat dan membeli pakaian kini jarang terlihat, karena mereka lebih memilih berbelanja secara online.

“Gempuran pakaian impor dan bekas dari luar negeri menjadi saingan berat bahkan ancaman serius bagi pedagang pakaian, yang berpotensi membuat mereka gulung tikar, ” ujarnya.

Terpisah, Direktur Pasar Deprok di Cipinang Muara, Jatinegara, Cheruddin, mengungkapkan bahwa sejak pandemi merebak, tanda-tanda sepinya pengunjung sangat terasa. Banyak kios pakaian di pasar tersebut telah gulung tikar, tidak hanya karena pergeseran pola belanja masyarakat ke platform daring, tetapi juga akibat gempuran pakaian impor dan bekas dari luar negeri, terutama dari China.

Melihat kondisi yang memprihatinkan ini, Cheruddin dari Pasar Deprok mengambil inisiatif bekerja sama dengan JakLingko. Para pedagang diberikan kartu JakLingko untuk mengurangi beban transportasi mereka, sebagai wujud kebersamaan dan kekeluargaan.

“Pasar Deprok sendiri memiliki sejarah panjang, mulai dari pedagang yang mengangkut dagangannya dengan cara “ndeprok” di pinggir jalan sekitar tahun 1970-an, sehingga upaya untuk memperkuat jalinan kerja sama di bidang perekonomian rakyat ini menjadi hal yang sangat penting, “kata Cheruddin.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *