Satusuaraexpress.co | JAKARTA – Kasih sayang orangtua sangat dibutuhkan bagi putra putrinya. Perasaan anak mudah tergores saat orangtuanya sudah tidak lagi menyayanginya. Demikian yang dirasakan oleh seorang remaja berinisial NA.
Remaja yang baru menginjak usia 12 tahun tersebut nekat kabur dari rumahnya karena sudah tidak tahan dengan perilaku orangtuanya. Ia kabur ke wilayah Tambora, Jakarta Barat. Tidak ada tempat yang NA tuju. Hingga malam hari, NA hanya berjalan di sekitar wilayah Tambora.
Disisi lain, orangtua NA nampak panik mengetahui putrinya belum pulang ke rumah hingga larut malam. Hingga keesokan harinya, NA tak kunjung pulang. Rasa takut masih menghantuinya.
Hingga siang hari, kabar kaburnya NA disampaikan Anggota Forum Kewaspadaan Dini Masyarakat (FKDM) Kelurahan Tambora, Bapak Indra kepada Bhabinkamtibmas Kelurahan Jembatan Lima, Polsek Tambora, Polres Metro Jakarta Barat, Aiptu Resiani Sagita.
Baca : Bahagianya EX Warga Kolong Tol Angke Setelah Tempati Rusun Lokbin Rawa Buaya
“Dari informasi yang saya peroleh adanya seorang anak perempuan, berinisial NA (12), kabur dari rumahnya karena merasa takut pada orang tuanya yang dianggap galak,” kata Resiani.
Tak diterima mentah-mentah, Aiptu Resiani pun segera mencari informasi terutama keberadaan NA. Usaha tidak menipu hasil. Tidak butuh waktu lama, Aiptu Resiani mendapat informasi.
“NA terlihat berada di wilayah RW 03 Kelurahan Tambora sejak malam sebelumnya, ” ucapnya.
Tak mau kehilangan jejak, Aiptu Resiani langsung menuju lokasi yang disebutkan. Benar saja, sesampainya di RW 03, NA sudah pergi dari tempat tersebut. Namun, Aiptu Resiani tidak ingin patah semangat. Dibantu warga setempat, Aiptu Resiani kembali melakukan pencarian.
Setelah menyusuri berbagai sudut, akhirnya NA berhasil ditemukan. NA yang ketakutan memilih bersembunyi sebuah tempat rongsokan di Gang Daging, RW 02 Kelurahan Tambora. Saat ditemukan NA dalam kondisi meringkuk menyembunyikan mukanya.
“Awalnya, NA enggan keluar dari persembunyian dan bahkan mengungkapkan keinginan untuk mengakhiri hidupnya,” kata Aiptu Resiani.

Mendengar ucapan NA, membuat Aiptu Resiani kaget. Aiptu Resiani pun berusaha melakukan pendekatan humanis dan bujukan yang penuh kasih. Bersyukur, NA akhirnya melunak dan bersedia diajak ke kantor Kelurahan Jembatan Lima.
Setelah mengetahui identitas NA, Aiptu Resiani segera berkoordinasi dengan Bhabinkamtibmas Kelurahan Keagungan, Aiptu Sugiyarno. Ia menginformasikan bahwa NA ditemukan dan meminta agar orangtua anak tersebut dihubungi untuk menjemputnya.
Pukul 16.42 WIB, orang tua NA datang ke lokasi bersama Aiptu Sugiyarno. Dalam hitungan detik, suasana langsung berubah drastis. Baik orangtua maupun anak saling berpelukan. Sambil menangis keduanya saling meminta maaf. NA pun kini sudah pulang ke rumahnya di Jl. Kampung Jawa Kebun Sayur, Kelurahan Keagungan, Kecamatan Taman Sari, Jakarta Barat.
Berkaca dari kasus NA, orangtuanya harusnya bisa belajar supaya lebih sabar dalam mendidik anaknya. Terlebih saat anak sudah depresi apapun dapat dilakukan. Beruntung, ada sosok Aiptu Resiani yang tanpa pamrih mencari NA. Beliau bukan hanya seorang Polisi melainkan sosok ibu yang sayang kepada anak.
Berkat kecepatan dan kepedulian Aiptu Resiani, konflik kecil yang berpotensi menjadi tragedi ini dapat diselesaikan dengan baik. Tindakan cepat, tepat, dan empati seperti yang dilakukan Aiptu Resiani merupakan contoh nyata bahwa kehadiran polisi dapat menjadi solusi di tengah permasalahan yang dihadapi warga.













