Mengapa Permata MHT Tidur Panjang

IMG 20211227 211430
Brigjen TNI (Purn) Abdul Syukur, kini menginjak usia 80 tahun (Foto: Rachmad Sadeli/GJ)

Setelah sempat ‘tertidur pulas’ cukup lama, setidaknya sejak 1990-an hingga era 2000-an, Persatuan Masyarakat Jakarta Muhammad Husni Thamrin (Permata MHT) mengukuhkan Pengurus Barunya siang ini, Sabtu (10/4/2021) di Resto Pulau Dua, Senayan, Jakarta.

Apa pasal yang menyebabkan Permata tertidur pulas?

Brigjen TNI (Purn) dr. Abdul Syukur yang pernah menjadi Ketua Umum Permata MHT selama 2 periode bercerita tentang masa-masa awal berdiri hingga keemasan Permata MHT.

“Seingat saya, ada beberapa tokoh yang ikut mendirikan Permata di awal berdirinya. Di antaranya Habibullah Halim, KH. Hamidullah, dr. Abdul Radjak, dr. Yusuf, Hasbullah Thabrany, Suaib Syafar, Amarullah Asbah, dan Jabir Chaidir Fadhil,” tutur Abdul Syukur yang di usianya ke 80, berusaha keras mengingat tahun demi tahun kiprahnya di Permata.

“Ya, itu tahun 1976,” ujar Bang Dudung, panggilan akrab Abdul Syukur mengingat tahun berdirinya Permata MHT.

Tujuan berdirinya Permata saat itu, kata Syukur, untuk meningkatkan kesejahteraan sosial dan ekonomi orang Betawi. Waktu itu belum ada Bamus Betawi, sehingga Permata dapat dianggap sebagai salah satu perkumpulan awal orang Betawi di era Orde Baru.

Untuk diketahui, Bamus Betawi baru berdiri di tahun 1982, dan salah satu organisasi yang ikut mendeklarasikan adalah Permata MHT.

“Saat itu ada kesepakatan untuk tidak membawa Permata ke ranah politik. Tapi karena banyak tokoh Permata yang berkecimpung di Partai Persatuan Pembangunan, kita dicurigai oleh pemerintah (baca: Golkar, yang saat itu mendominasi peta politik Indonesia),” Syukur mengulum senyum. Toh kecurigaan itu tidak mengurangi kiprah Permata dalam mengadakan kegiatan-kegiatan sosial.

Di antara aksi sosial yang fenomenal adalah membantu pembuatan jalan (gang) di Cawang dan Halim. “Kedua jalan (gang) itu sampai sekarang masih bernama Jalan Permata MHT,” sebut perwira yang pernah berdinas di RSPAD Gatot Subroto ini.

Nah, seingat Bang Dudung, pada tahun 1989, dia ditugaskan ke Palembang. Saat itulah, tampuk kepemimpinan Ketua Umum Permata MHT diserahkan ke caretaker Suaib Syafar. “Bang Suaib waktu itu pangkatnya kalau enggak salah kapten,” jelas Bang Dudung. Lantaran pergantian kepengurusan yang kurang lancar itulah, Bang Dudung menduga, Permata MHT tertidur pulas.

Sekarang saat yang tepat bagi Permata untuk bangkit kembali, kata Bang Dudung. Selain sudah ada regenerasi, cita-cita luhur Permata MHT adalah amanat para pendiri yang tidak boleh dibiarkan mati.

Sumber: Gerbang Jakarta

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *