Sabtu, Oktober 16, 2021
BerandaHeadlineSerba-Serbi PTM Terbatas Hari Pertama, Siswa Antusias Hingga Tak Bisa Tidur

Serba-Serbi PTM Terbatas Hari Pertama, Siswa Antusias Hingga Tak Bisa Tidur

Satusuaraexpress.co – Pemerintah Provinsi DKI Jakarta kembali menggelar pembelajaran tatap muka (PTM) secara terbatas yang diikuti oleh 610 sekolah di Ibu Kota, Senin (30/8/2021). Sekolah-sekolah ini diizinkan melaksanakan PTM terbatas berdasarkan Surat Keputusan Kepala Dinas Pendidikan DKI Jakarta Nomor 883 Tahun 2021.

Di Jakarta Timur, ada 195 sekolah yang menggelar PTM terbatas per Senin kemarin. Aturan maksimal siswa per kelas Sekolah Dasar Negeri (SDN) Pondok Kelapa 05 Pagi, Duren Sawit, Jakarta Timur, merupakan salah satu sekolah yang menggelar PTM terbatas. Kepala SDN Pondok Kelapa 05 Pagi Samukin mengatakan, pihaknya menerapkan protokol kesehatan (prokes) sesuai peraturan Dinas Pendidikan DKI Jakarta, per kelas diisi maksimal 16 siswa.

Untuk durasi pembelajaran, kelas rendah (1, 2 dan 3) berlangsung dua jam, sedangkan kelas tinggi (4, 5 dan 6) berlangsung tiga jam.

“Hari ini (yang masuk) kelas 1 dan 4. Kelas 1 A, B, C, D maksimal 16 siswa tiap-tiap kelas, demikian juga kelas 4,” kata Samukin, Senin. Samukin menuturkan, per hari ada dua tingkatan kelas yang masuk. “Senin kelas 1 dan 4, Rabu kelas 2 dan 5, Jumat itu kelas 3 dan 6,” tutur dia.

Siswa antusias

Samukin mengatakan, antusiasme PTM di SDN Pondok Kelapa 05 Pagi tinggi, terutama untuk kelas 1. ” Antusiasmenya luar biasa. Kemarin kami nyebar formulir untuk ikut serta dalam PTM ini, langsung terisi penuh bahkan lebih dari 16 (siswa). Lebihnya akan disertakan dalam tahap selanjutnya,” ujar Samukin.

“Anak (saya) kelas 1B, baru pertama kali masuk. (Dia) senang juga udah masuk sekolah, ketemu sama teman-teman,” kata Ernie saat ditemui di lokasi, Senin.

Selama pandemi, lanjut Ernie, anaknya jarang bertemu dengan teman-teman sekolahnya. “Anaknya senang bertemu teman-teman (lagi). Anaknya happy, dari subuh dia bangun,” ujar Ernie. Bahkan, saking senangnya, anaknya tidak mau dijemput. “Anaknya bilang, ‘enggak usah ditunggu, Bunda’. Saya enggak khawatir,” tutur Ernie.

Tak bisa tidur karena deg-degan

Salah satu murid SMP Corpatarin di Duren Sawit, Alviodita, mengaku tak bisa tidur semalaman karena deg-degan ketemu teman baru sekaligus menghadapi pelajaran secara tatap muka.

“Karena deg-degan mau lihat teman baru. (Deg-degan) banget,” kata dia, Senin. Alviodita bahkan sempat salah kelas karena baru pertama datang ke SMP tersebut. Sebelumnya, ia belajar secara daring.

“Sempat (salah kelas), tadi kelewatan,” ucap Alviodita. Hal yang sama juga dialami Aisyah, teman satu kelas Alviodita. Aisyah sempat salah masuk kelas. Aisyah juga tak bisa tidur karena deg-degan. “Deg-degan takut enggak bisa belajarnya. Karena pas daring kurang mengerti,” kata dia.

Penerapan prokes dan evaluasi Protokol kesehatan (prokes) diterapkan saat PTM terbatas ini, salah satunya terlihat di SMP Corpatarin. Selama pembelajaran, para siswa tetap mengenakan masker. Seusai pembelajaran, para siswa berbaris di depan kelas terlebih dulu sembari menunggu giliran cuci tangan. Para siswa SMP Corpatarin berbaris dengan jarak sekitar dua meter setelah jam belajar mereka rampung pukul 10.00 WIB.

Setelah cuci tangan, siswa kemudian harus melalui pengecekan suhu sebelum pulang ke rumah masing-masing. Selama PTM terbatas ini, para siswa juga diimbau tidak membawa bekal dan sudah sarapan dari rumah. “Kami tidak mengatakan tidak boleh, tetapi lebih bagus jangan, karena ada potensi kalau mereka makan di sekolah kan berarti membuka masker,” kata Kasudin Pendidikan Wilayah I Jakarta Timur Linda Siregar di SMP Corpatarin, Senin.

Apabila siswa tidak sempat sarapan dari rumah, Linda mengimbau kepala sekolah atau guru agar menyarankan siswa tersebut makan di tempat terpisah dengan siswa lain. “Makannya harus terpisah. Jadi jangan berdekatan dengan teman-teman,” ujar Linda.

“Tapi saran kami sarapan dari rumah, juga belajarnya kan enggak lama, hanya 4×35 menit berarti kan 140 menit,” tutur dia. Linda mengatakan, setelah dua bulan berjalan, PTM terbatas ini akan dievaluasi. “Jadi secara umum kami lihat, kalau prokesnya sudah berjalan dengan baik. Kami ingin mereka mempertahankan, karena nanti setelah dua bulan kami akan evaluasi,” kata Linda. (*)

 

Perkembangan Virus Corona


Most Popular