Galeri  

Thailand Dilanda Aksi Unjuk Rasa Anti-Pemerintah

IMG 20201017 172011
Reuters/Jorge Silva

satusuaraexpress.co – Thailand tangah ramai diberitakan soal aksi demonstrasi oleh kelompok anti-pemerintah. Dikatakan, aksi demonstrasi itu adalah yang terbesar dalam beberapa tahun terakhir.

Dikutip Reuters, lebih dari 10.000 pendemo di Thailand memadati kota Bangkok seraya meneriakan ‘jatuh dengan kediktatoran’ dan negara milik rakyat’. Unjuk rasa hari ini (17/10) diprediksikan terbesar setelah kudeta di tahun 2014.

Kabarnya hari ini, para pendemo di Thailand akan gelar unjuk rasa lagi, meski ada tindakan keras oleh polisi. Selama lebih dari tiga bulan protes yang menargetkan monarki yang kuat serta pemerintah.

Sebelumnya, pada Jumat (16/10) unjuk rasa dilakukan. Polisi setempat berhasil menangkap lebih dari 50 orang, termasuk para pemimpin protes, pertama kali pula polisi setempat menggunakan meriam air terhadap pengunjukrasa.

Gerakan rakyat menyebutkan, demo akan berlangsung pada jam 4 sore waktu setempat, tetapi tidak mengatakan lokasinya. Yang jelas, mereka meminta pendemo agar siap menggunakan taktik penindasan oleh polisi.

IMG 20201017 171929
Pengunjuk rasa pro-demokrasi melakukan penghormatan tiga jari di Sanam Luang di sebelah Grand Palace di Bangkok pada tanggal 20 September 2020 (Vivek Prakash / AFP).

“Kami mengutuk kekerasan apa pun terhadap rakyat,” kata Gerakan Rakyat dalam sebuah pernyataan seperti dikutip Reuters. “Kami akan terus melakukan protes pada 17 Oktober,” katanya.

Aturan larangan unjuk rasa di Thailand

Pada Kamis (15/10/2020) lalu, Pemerintah Thailand memerintahkan larangan unjuk rasa yang telah menjadi tantangan terbesar selama bertahun-tahun bagi Perdana Menteri Prayuth Chan-ocha, mantan Pemimpin Junta.

Setelah publik tahu, ribuan orang menggelar aksi, memprotes kebijakan itu. Massa aksi memenuhi kota Bangkok pada Jumat (16/10).

Menurut Seorang Pusat Medis, unit tanggap darurat di Bangkok. Polisi Thailand menyatakan, respon mereka terhadap pemrotes pada Jumat, proporsional dan sejalan dengan norma internasional. Tiga pengunjuk rasa dan empat personel polisi terluka pada hari itu.

Kelompok hak asasi manusia mengutuk tindakan Pemerintah Thailand tersebut.

“Pemerintah yang peduli dan Perserikatan Bangsa-Bangsa harus berbicara secara terbuka untuk menuntut segera diakhirinya represi politik oleh Pemerintahan Prayuth,” kata Brad Adams, Direktur Asia Human Rights Watch.

Para pengunjuk rasa menuntut pengunduran diri Prayuth, yang pertama kali mengambil alih kekuasaan dalam kudeta 2014. Dia menolak tuduhan pengunjuk rasa bahwa dirinya merekayasa pemilu tahun lalu untuk mempertahankan kekuasaan.

Melanggar tabu yang sudah lama ada, para pengunjuk rasa juga menyerukan pembatasan kekuasaan monarki.

Istana Kerajaan Thailand tidak mengomentari protes itu, tetapi Raja mengatakan, Thailand membutuhkan orang-orang yang mencintai negara dan monarki. Komentarnya disiarkan di televisi pemerintah pada Jumat ketika polisi bentrok dengan pengunjuk rasa di Bangkok.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *