Mudik dengan Mobil Listrik Apakah Worth it?

Ilustrasi Mobil Listrik

Satusuaraexpress.co | Jakarta – Hemat di Kertas, Was-was di Rest Area Lebaran berikutnya masih beberapa bulan lagi, tetapi diskusi di grup keluarga dan kolom komentar otomotif sudah ramai: “Mudik pakai mobil listrik, aman nggak?” Pertanyaannya wajar, karena jumlah pemudik EV melonjak.

Dilansir dari data yang dikutip KabarBursa, sekitar 4.300 kendaraan listrik dipakai mudik pada Lebaran 2024, lalu lebih dari 13.600 unit pada 2025. PLN memproyeksikan lebih dari 23 ribu unit pada Lebaran 2026, naik sekitar 60 persen.

Namun di balik euforia, ada kecemasan klasik: antrean di rest area, charger yang penuh, dan tempat yang jauh dari jalur utama. Menurut Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), seperti dikutip Kontan (6 Oktober 2026), dengan populasi sekitar 223.100 BEV dan 5.081 unit SPKLU di 3.180 lokasi, secara kasar satu unit SPKLU melayani sekitar 44 mobil listrik. Jadi, di tengah klaim “mudik EV lancar”, apakah ini benar-benar sepadan untuk dicoba?

Mobil listrik berbasis baterai (BEV) menyimpan energi dalam baterai berkapasitas puluhan kilowatt-jam (kWh) dan diisi ulang di Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU), yang sering disebut “SPBU-nya mobil listrik”. Ada pengisian AC yang lambat dan pengisian cepat DC (fast charging). Menurut laporan Otomotifnet, banyak unit di Tol Trans Jawa yang sebelumnya hanya 22-50 kW kini ditingkatkan hingga ultra fast charging sampai 200 kW untuk mengurangi antrean.

Untuk Lebaran 2026, PLN menyiagakan 1.681 SPKLU di 994 titik jalur Sumatra-Jawa-Bali, dengan jarak rata-rata antar-SPKLU sekitar 22 kilometer. Dilansir dari pemberitaan Metro TV, 284 unit berada di 99 lokasi ruas tol, dan PLN menambah 149 unit berkapasitas 180-200 kW. Hasilnya, menurut Direktur Utama PLN Darmawan Prasodjo dalam rapat dengan Komisi XII DPR (13 April 2026), mudik EV berjalan lancar. PLN mencatat penggunaan SPKLU naik 4,14 kali lipat, dengan puncak 18.088 transaksi dan konsumsi 427.980 kWh pada 23 Maret 2026.

Tarif SPKLU, menurut Okezone, berkisar Rp1.650 hingga Rp2.475 per kWh, atau sekitar Rp123.750 untuk mengisi penuh baterai 50 kWh dengan tarif tertinggi. Untuk rute Jakarta-Surabaya sekitar 782 km, IDX Channel memperkirakan biaya bensin sekitar Rp598 ribu (Pertalite) hingga Rp977 ribu (Pertamax), di luar tol. Menurut Jawa Pos, tarif tol Golongan I untuk rute ini sekitar Rp860 ribu lebih pada 2026.

Perkiraan kasar penulis memakai efisiensi EV 6-8 km per kWh (rentang yang dikutip dalam ulasan Chery) dan tarif SPKLU di atas: biaya energi Jakarta-Surabaya sekitar Rp160 ribu hingga Rp320 ribu.

Perhitungan internal yang dikutip KabarBursa untuk rute sejauh 800 km menyebut penghematan lebih dari 40 persen dibanding mobil konvensional. Satu catatan penting: tol tidak berkurang karena memakai EV, jadi total penghematan terasa pada porsi energi, bukan seluruh biaya perjalanan. Harga bensin dan tarif listrik juga bisa berubah.

Pemerataan SPKLU. Menurut data Ditjen EBTKE yang dikutip GridOto (19 Oktober 2026), sekitar 78,44 persen SPKLU terkonsentrasi di Jawa dan Bali. Gaikindo melalui Jongkie Sugiarto menilai jumlah SPKLU masih sangat kurang dan bisa menghambat penjualan BEV.

Pengamat yang dikutip Kontan, Yannes, menambahkan bahwa keterbatasan SPKLU menjadi hambatan, terutama bagi konsumen tanpa home charging atau yang memakai mobil untuk perjalanan antarkota. Di sisi lain, Kementerian ESDM menargetkan 62.918 SPKLU roda empat pada 2030, sementara hingga Mei 2026 baru sekitar 4.892 unit.

Menurut ulasan GridOto dan Gebrak, insentif PPN DTP serta pembebasan bea masuk untuk mobil listrik impor utuh (CBU) tidak dilanjutkan pada 2026, meski mobil rakitan lokal yang memenuhi TKDN 40 persen masih berpeluang mendapat insentif. Analisis GridOto menyebut hilangnya insentif berpotensi menaikkan harga hingga sekitar 27 persen, dan lebih tinggi untuk CBU yang terkena bea masuk.

Waktu dan antrean. Jakarta-Surabaya sekitar 9-10 jam di kondisi normal menurut Jawa Pos, belum termasuk waktu mengisi daya. Menurut ulasan Kontan, jumlah unit pengisian di tiap rest area masih terbatas sehingga antrean tetap mungkin terjadi saat puncak liburan.

Langkah Solutif: Biar Mudik EV Tak Jadi Drama

1. Rencanakan rute dengan aplikasi
PLN menyebut fitur Trip Planner dan AntreEV di PLN Mobile terintegrasi dengan layanan SPKLU. Jasa Marga juga menyarankan memeriksa lokasi di aplikasi Travoy.

2. Isi penuh sebelum berangkat
Ini salah satu tips dasar yang dirangkum IDX Channel. Berangkatlah dengan baterai maksimal dan pilih titik isi daya sebelum baterai menipis.

3. Hindari jam puncak dan siapkan cadangan
Bank Mega menyarankan menghindari waktu puncak, dan Otomotifnet menyarankan tidak memaksakan antre bila satu rest area penuh, pindah ke titik berikutnya. PLN juga menyiapkan SPKLU mobile dan layanan darurat bila terjadi kendala di jalan.

4. Manfaatkan fasilitas besar
PLN membangun SPKLU Center di Jawa Tengah, seperti di rest area 275A Tegal dan 343 Batang, dengan 10-20 slot parkir pengisian bersamaan.

5. Hitung total biaya, bukan hanya energi
Bandingkan harga mobil, tol, asuransi, dan ketersediaan home charging. Bagi yang berniat membeli, pertimbangkan perubahan insentif pajak sebelum memutuskan.

6. Cek kesiapan untuk rute di luar Jawa
Karena SPKLU terkonsentrasi di Jawa-Bali, pemudik ke Sumatra atau pulau lain perlu perencanaan ekstra dan jadwal charging yang lebih longgar.

Mudik dengan mobil listrik kini layak dipertimbangkan, terutama di jalur Trans Jawa. Infrastruktur menguat, pengalaman Lebaran 2026 dilaporkan lancar, dan biaya energinya jauh lebih murah. Namun keberhasilannya bergantung pada perencanaan: rute, waktu isi daya, dan kesiapan menghadapi antrean. Bagi yang sudah memiliki EV, jawabannya cenderung “ya, worth it” dengan persiapan matang. Bagi yang belum punya, mudik saja bukan alasan cukup kuat untuk membeli, terlebih ketika insentif berkurang.

Sebagai penulis, pesan saya: jangan menilai EV hanya dari hemat bahan bakar, dan jangan menilainya hanya dari antrean di rest area. Pilih yang sesuai gaya hidup dan rute pulangmu, rencanakan dengan data, dan nikmati perjalanan pulang, karena tujuan akhirnya tetap sama: sampai dengan selamat.

Penulis: Yus Yunus | Editor: Ghugus San

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *