Satusuaraexpress.co | Jakarta — Persoalan sampah di Provinsi DKI Jakarta kembali menjadi sorotan tajam di tengah masyarakat. Di tengah gempuran berbagai narasi kebijakan dan program penanganan sampah yang terus digulirkan pemerintah, kenyataan di lapangan berbicara lain seperti tumpukan sampah masih kerap berserakan di sejumlah titik, menyisakan pertanyaan besar tentang sejauh mana upaya penyelesaian masalah ini benar-benar menyentuh akar persoalan.
Kondisi yang masih memprihatinkan ini terlihat di berbagai sudut kota mulai dari pinggir jalan raya yang padat arus lalu lintas, kawasan pasar yang menjadi pusat aktivitas warga, hingga ke dalam lingkungan permukiman padat penduduk. Tumpukan sampah yang terlambat diangkut, plastik-plastik yang tersangkut di saluran air, dan sampah yang berserakan di trotoar seolah menjadi pemandangan yang tak kunjung hilang.
Irwanto, seorang warga Jakarta Selatan mengungkapkan kekecewaannya yang mendalam. Baginya, penyelesaian persoalan sampah tidak akan pernah cukup hanya dengan perubahan istilah, pergantian nama program, maupun penyampaian konsep-konsep yang terdengar indah. Yang dibutuhkan warga adalah langkah nyata yang dapat dirasakan langsung dalam keseharian mereka.
“Penyelesaian sampah jangan hanya menjadi permainan kosa kata atau berganti-ganti istilah program. Faktanya, hampir setiap hari kita masih melihat sampah berserakan di berbagai wilayah Jakarta,” ujar Irwanto, Kamis (3/9/2026).
Baca juga : Pemprov DKI Perkuat RDF Rorotan, Perluas Pengolahan Sampah Dalam Kota dan Tingkatkan Kenyamanan Warga
Keluhan warga ini bukanlah hal yang baru. Irwanto menyebutkan, persoalan serupa ditemukan di beragam lokasi, baik di kawasan strategis maupun di lingkungan pemukiman biasa. Warga pun telah berupaya menyampaikan aspirasi dan keluhan melalui berbagai saluran resmi mulai dari layanan Cepat Respon Masyarakat (CRM) hingga menyampaikannya langsung kepada para wakil rakyat di dewan. Namun realitasnya, tumpukan sampah yang terlambat diangkut bahkan menumpuk terus terulang dari hari ke hari.
“Warga sudah banyak yang mengeluh melalui saluran yang tersedia, termasuk CRM dan menyampaikan aspirasi kepada dewan. Tetapi di lapangan masih ditemukan sampah yang terlambat diangkut atau bahkan menumpuk,” tegasnya.
Bagi Irwanto, penanganan sampah seharusnya menjadi salah satu pekerjaan dasar yang mendapatkan perhatian paling serius dari Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Kebersihan kota adalah wajib yang paling mendasar, karena menyangkut kesehatan, kenyamanan, dan kualitas hidup jutaan warga setiap harinya. Keberhasilan sebuah kebijakan, menurutnya, tidak semata-mata diukur dari banyaknya program yang diluncurkan atau seberapa bagus narasi yang dibangun, melainkan dari kondisi nyata yang dirasakan masyarakat sendiri.
Baca juga : DLH Gerak Cepat Tangani Tumpukan Sampah di Kedaung Kaliangke, Pulihkan Akses dan Aktivitas Warga
“Apakah kondisi seperti ini yang diinginkan masyarakat? Tentu tidak. Masyarakat membutuhkan kerja konkret dan kerja nyata,” ujarnya dengan tegas.
Ia pun meminta agar persoalan ini menjadi perhatian serius, mulai dari pimpinan tertinggi Pemerintah Provinsi DKI Jakarta hingga jajaran teknis di lapangan termasuk dinas terkait dan perangkat wilayah di setiap kelurahan dan kecamatan. Diperlukan evaluasi menyeluruh dan jujur terhadap seluruh sistem yang berjalan mulai dari jadwal dan rute pengangkutan, pengawasan terhadap kinerja petugas, kecepatan respons atas setiap pengaduan warga, hingga tata kelola pengelolaan sampah di tingkat kawasan dan lingkungan permukiman.
“Jangan sampai masyarakat hanya melihat pergantian program dan narasi, sementara persoalan di lapangan masih sama. Gubernur harus memastikan jajaran di bawahnya benar-benar bekerja menyelesaikan masalah,” ujarnya.
Lebih jauh, ia menegaskan bahwa persoalan sampah yang tidak kunjung tuntas dapat menjadi catatan tersendiri bagi kepemimpinan Gubernur DKI Jakarta. Sebab, urusan kebersihan kota bukanlah hal yang rumit dan abstrak ia adalah hal yang paling nyata, paling terlihat, dan paling dirasakan warga setiap hari.
“Kalau persoalan sampah saja belum mampu ditangani secara konsisten, tentu ini menjadi preseden yang kurang baik untuk langkah pemerintahan ke depan. Masyarakat membutuhkan bukti, bukan sekadar narasi,” pungkasnya.
Warga berharap, ke depannya Pemprov DKI Jakarta tidak berhenti pada slogan dan program yang hanya tertulis di atas kertas. Yang diharapkan adalah sistem penanganan sampah yang cepat, terukur, konsisten, dan benar-benar menghadirkan hasil yang terlihat jelas di seluruh penjuru Jakarta sebuah kota yang bersih, tertata, dan nyaman untuk ditinggali oleh seluruh warganya.











