Satusuaraexpress.co | Jakarta — Polres Metro Jakarta Barat berhasil menangkap dua pengedar narkotika berinisial HS (31) dan FB (41) yang diduga berperan sebagai pemasok narkotika bagi aktor Revaldo Fifaldi (RF). Kedua pelaku diamankan pada Rabu, 26 Agustus 2026, di dua lokasi berbeda di wilayah Jakarta Pusat.
Kapolres Metro Jakarta Barat, Kombes Pol Nasriadi, mengungkapkan penangkapan HS dilakukan di kawasan Gelora Bung Karno (GBK), Senayan, sementara FB diamankan di kawasan Palmerah, Jakarta Pusat.
“Tadi malam kita telah menangkap si pengedar tersebut. Dari keterangan tersangka, memang dia mengakui bahwa dia menjual kepada tersangka RF,” ujar Nasriadi, Kamis (27/8/2026).
Saat menangkap HS, petugas turut mengamankan sejumlah barang bukti berupa sabu, peralatan yang digunakan untuk mengonsumsi narkotika, serta tiga unit telepon seluler yang diduga menjadi sarana komunikasi antara HS dan Revaldo.
“Kemudian dari hasil pengembangan, kita juga telah menangkap saudara FB yang merupakan juga sebagai penyuplai narkotika kepada saudara HS tersebut,” tambah Nasriadi.
Jejak Pertemuan yang Berawal dari Pusat Rehabilitasi
Penyelidikan mengungkap hubungan antara HS dan Revaldo bermula dari sebuah tempat rehabilitasi narkotika di wilayah Bogor. Saat itu, istri HS sedang menjalani rehabilitasi di lokasi yang sama. Adik dari istri HS yang berprofesi sebagai artis kerap menjenguk kakaknya, dan di sanalah ia berpapasan dengan Revaldo yang juga sedang menjalani rehabilitasi.

“Di situlah ketika adik iparnya sering menjenguk atau disuruh melihat kakaknya (istri HS), ternyata RF juga sedang direhab. Nah, di situlah bertemu dengan adik iparnya,” jelas Nasriadi.
Setelah keduanya menyelesaikan masa rehabilitasi, takdir kembali mempertemukan mereka dalam acara peluncuran film perdana adik ipar HS. Sejak saat itu, komunikasi di antara HS dan Revaldo berjalan semakin intensif, hingga akhirnya mereka berjanji untuk mengonsumsi narkotika bersama di salah satu apartemen milik HS.
Baca juga : Dua Klub Malam di Senopati Jaksel Disegel Usai Ditemukan Narkoba, Artis N Ikut Diamankan
Gratis Tiga Kali, Lalu Mulai Transaksi Jual Beli
Menurut hasil penyidikan, HS awalnya memberikan narkotika kepada Revaldo secara cuma-cuma sebanyak tiga kali. Namun setelah Revaldo kembali terjerat ketergantungan, ia mulai membeli barang tersebut dari HS.
“Kalau dari hasil penyidikan kita, dari yang digunakan dikasih cuma-cuma tiga kali. Artinya menggunakan secara gratis. Jadi RF terjebak dalam jaringan ini,” ungkap Nasriadi.
Hingga saat ini, penyidik baru menemukan satu kali transaksi pembelian yang tercatat antara keduanya di mana Revaldo membeli sabu seberat setengah gram dengan harga Rp650 ribu.
Nasriadi menegaskan bahwa pergaulan kembali ke lingkungan yang terlibat narkotika menjadi penyebab utama Revaldo kembali terjerat, padahal sebelumnya telah menjalani rehabilitasi dan mulai pulih.
Baca juga : Dugaan Penyalahgunaan Narkoba, Manajer Artis BCL Ditahan di Polres Jakarta Barat
“RF sudah keluar dari rehab, sudah mulai sembuh, tetapi karena pergaulan yang tadi, akhirnya dia terlibat, terjebak kembali dalam pengedaran narkoba dan penggunaan narkoba itu,” ujarnya.
Keduanya Residivis Kasus Narkotika
Kedua tersangka ternyata bukan pertama kali berurusan dengan hukum terkait narkotika. HS pernah ditangkap Polres Metro Jakarta Barat pada tahun 2017 dan dijatuhi hukuman 6,5 tahun penjara. Sementara FB yang menjadi pemasok di atas HS juga pernah terjerat kasus narkotika dan divonis tujuh tahun penjara.
“Artinya mereka adalah residivis. Para pengedar-pengedar yang sudah pernah ketangkap tetapi mengedarkan kembali barang haram tersebut,” tegas Nasriadi.
Penyelidikan Terus Berkembang, Kemungkinan Ungkap Pengguna Lain
Hingga saat ini, penyidik masih terus mengembangkan kasus tersebut untuk memetakan jaringan yang lebih luas, serta mendalami kemungkinan adanya pihak lain termasuk kalangan artis maupun masyarakat umum yang juga mendapatkan pasokan narkotika dari kedua tersangka.
“Artinya bukan hanya satu profesi. Pada masyarakat lainnya pun apabila dia pernah menjual, kita akan cari,” kata Nasriadi.
“Kita tidak hanya berhenti di pemakai, kita juga terus mencari siapa yang menyuplai, kemudian siapa yang menjual, kemudian kita akan terus mengungkap jaringannya,” tutupnya.













