Pemkot Jakarta Barat Perkuat Sinergi Lintas Sektor Tekan Angka Stunting

f170c7fac1325f34ae2c1d3adf34766c
Jakarta Barat Perkuat Sinergi Lintas Sektor Tekan Angka Stunting.

Satusuaraexpress.co | Jakarta — Pemerintah Kota Administrasi Jakarta Barat terus melangkah tegas memperkuat kerja sama lintas sektor sebagai kunci utama dalam mempercepat penurunan kasus anak tengkes atau stunting di wilayahnya. Komitmen ini ditegaskan langsung oleh Wakil Wali Kota Jakarta Barat, Ali Murtadho.

Dengan nada yang penuh tekad, Ali menyampaikan bahwa penanganan stunting tidak dapat dilakukan secara terpisah-pisah, melainkan harus menyatu dalam satu rangkaian gerakan yang terpadu. “Kita harus memastikan bahwa seluruh intervensi berjalan secara terintegrasi mulai dari tingkat kota, kecamatan, kelurahan hingga RT, RW, dan keluarga,” kata Ali, Rabu (12/8/2026).

Jangkauan upaya ini pun meluas hingga ke lapisan terbawah masyarakat. Ali menjelaskan bahwa gerakan penurunan stunting melibatkan segenap kekuatan yang ada di lingkungan, mulai dari Kader Posyandu, kelompok Dasawisma, berbagai organisasi kemasyarakatan, tokoh agama, tokoh masyarakat, hingga dunia usaha. Semua dipersilakan bahu-membahu menjadi garda terdepan dalam menjaga tumbuh kembang anak.

“Berdasarkan data Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) tahun 2024, angka prevalensi stunting di lingkungan Provinsi DKI Jakarta tercatat berada di angka 17,2 persen, ” ujar Ali.

Baca jugaMenu Pencegahan “Stunting” di Depok Telan Rp 4,4 Miliar Menunya Hanya Tahu-Sawi

Menyadari hal tersebut, Ali menegaskan bahwa langkah-langkah strategis terus diperkuat oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta demi menurunkan angka tersebut secara signifikan. Target yang ditetapkan pun tertuang dengan jelas dalam arah kebijakan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi DKI Jakarta Tahun 2025–2029. Angka prevalensi ditargetkan turun menjadi sekitar 15 persen pada tahun 2026, dan semakin merosot hingga mencapai 12,8 persen pada tahun 2029.

Lebih dari sekadar angka statistik, Ali mengingatkan bahwa stunting bukan sekadar persoalan tinggi badan anak yang tampak secara kasat mata. Masalah ini berkaitan erat dengan perkembangan otak, tingkat kecerdasan, produktivitas masa depan, hingga daya tahan tubuh dan kualitas sumber daya manusia Indonesia yang akan datang.

“Anak yang mengalami stunting berisiko memiliki kemampuan belajar lebih rendah, produktivitas menurun, dan rentan mengalami penyakit tidak menular ketika dewasa. Sebab itu, percepatan penurunan stunting merupakan investasi besar guna mewujudkan Generasi Emas Indonesia tahun 2045,” ungkapnya.

Baca jugaGizi Buruk dan Stunting Masih Tinggi, PSI: Gubernur Anies Rasa Gubernur Jenderal

Sementara itu, Kepala Suku Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, dan Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (PPAPP) Jakarta Barat, Dian Anggraini Susanty, memaparkan gambaran kondisi spesifik di wilayahnya. Berdasarkan data Pra-Musrenbang Tematik Stunting tahun 2026, prevalensi stunting di Jakarta Barat saat ini tercatat sebesar 2,23 persen, yang setara dengan 1.692 balita yang membutuhkan perhatian khusus.

Namun di balik angka yang relatif rendah itu, masih terdapat tantangan yang tak boleh diabaikan. “Selain itu, terdapat sekitar 72.000 keluarga berisiko stunting yang masih memerlukan perhatian dan intervensi berkelanjutan,” tambah Dian.

Oleh karena itu, Dian menuturkan bahwa percepatan penurunan angka stunting terus diperkuat melalui kolaborasi menyeluruh antara pemerintah, dunia usaha, dunia pendidikan, dan seluruh elemen masyarakat. Dengan bergandengan tangan, Jakarta Barat bertekad menjadikan setiap anak tumbuh sehat, cerdas, dan siap menyongsong masa depan yang gemilang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *